MBG Bikin Napas Keuangan Keluarga Lebih Lega

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 20 Februari 2026 - 03:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

Jakarta — Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) merilis temuan awal studi tentang dampak Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terhadap rumah tangga dan anak penerima manfaat. Studi ini bertujuan memperkaya diskusi kebijakan. Selama ini, banyak pihak menyoroti dampak makro. Sementara itu, pembuat kebijakan dan peneliti belum banyak membahas perubahan nyata di tingkat keluarga.

Dampak Ekonomi Masih Terbatas, Lebih Sebagai Penyangga Konsumsi

Berdasarkan hasil awal, tim peneliti yang melibatkan sekitar 1.800 orang tua menemukan 36 persen rumah tangga mengalami penurunan pengeluaran harian. Penurunan paling banyak terjadi pada biaya bekal makan dan uang saku anak. Namun demikian, sekitar 63 persen responden menyebut penghematan masih berada di bawah 10 persen dari total pengeluaran bulanan.

Temuan ini menunjukkan program membantu keluarga menjaga stabilitas pengeluaran rutin. Meski begitu, program belum mengubah struktur ekonomi rumah tangga secara signifikan. Karena itu, MBG saat ini lebih berperan sebagai bantalan konsumsi jangka pendek.

Dukungan Rumah Tangga Rentan Tergolong Tinggi

Di sisi lain, masyarakat menunjukkan dukungan kuat terhadap program, terutama kelompok rumah tangga rentan. Peneliti RISED, M Fajar Rakhmadi, menjelaskan dukungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penghematan biaya.

Baca Juga :  Gaji ke-13 Cair Penuh, PPPK Paruh Waktu Kantongi Dua Tambahan Sekaligus

Ia menyebut sekitar 81 persen orang tua dari kelompok rentan mendukung keberlanjutan program. Selain itu, banyak orang tua merasakan ketenangan karena anak memperoleh akses makanan bergizi selama berada di sekolah.

Konsistensi Distribusi Program Dinilai Baik

Sementara itu, sebanyak 84 persen orang tua melaporkan anak menerima program setiap hari sekolah. Meski begitu, 69 persen responden baru mengikuti program kurang dari enam bulan. Kondisi ini membuat peneliti belum bisa melihat dampak jangka panjang secara menyeluruh.

Karena itu, peneliti menilai evaluasi lanjutan sangat penting. Evaluasi tersebut akan membantu pemerintah melihat efektivitas program dalam jangka menengah dan panjang.

Perubahan Perilaku Konsumsi Anak Mulai Terlihat

Selain dampak ekonomi, studi juga mencatat perubahan pola makan anak. Sebanyak 72 persen orang tua melaporkan anak lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi.

Selain itu, 55 persen responden menyebut anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan. Temuan ini menunjukkan program mulai mendorong perubahan perilaku konsumsi. Namun, peneliti belum menemukan kesimpulan pasti terkait status gizi objektif, kondisi kesehatan umum, dan capaian pendidikan.

Baca Juga :  Layanan Tukar Uang Baru Lebaran 2026, Ini Jadwalnya

Potensi Pengalihan Pengeluaran ke Sektor Produktif

Selanjutnya, ekonom dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menilai program berpotensi menekan beban pengeluaran keluarga, terutama kelompok menengah rentan.

Ia mencontohkan keluarga dengan dua anak bisa menghemat hingga Rp600.000 per bulan. Ia menggunakan asumsi Rp15.000 per anak per hari selama sekitar 20 hari sekolah. Menurutnya, keluarga dapat mengalihkan dana tersebut ke kebutuhan yang lebih produktif, seperti pendidikan dan kesehatan.

Perlu Evaluasi Berkelanjutan dan Kejelasan Posisi Program

Pada akhirnya, RISED menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan. Evaluasi tersebut akan memastikan efektivitas program. Selain itu, RISED juga mendorong pemerintah memperjelas posisi program. Saat ini, MBG berada di antara program perlindungan sosial, intervensi gizi, dan instrumen ekonomi rumah tangga.

Sebagai informasi, RISED berdiri pada 2018 dan berkantor pusat di Surabaya. Lembaga ini meneliti kebijakan sosial-ekonomi. Fokus kajian meliputi isu kemiskinan, kesehatan, ekonomi digital, dan transportasi dengan pendekatan berbasis bukti.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Skandal KPK Melebar! Anggota Polri yang Bertugas di Lembaga Antirasuah Ikut Terseret Kasus Pemerasan Bupati Pemalang
Bupati Pemalang Resmi Ditahan KPK, Uang Rp2 Miliar Jadi Awal Pengusutan Dugaan Korupsi Proyek
Prabowo Resmi Naikkan Tukin Prajurit TNI dan Pegawai Kemhan, Penantian Sejak 2018 Akhirnya Berakhir
KPK Bongkar Dugaan Jual Beli Jabatan di Pemalang, OTT Bupati Anom Perpanjang Daftar Kepala Daerah Terjerat Korupsi
Baru Menjabat, Bupati Pemalang Kena OTT KPK, LHKPN Ungkap Kekayaan Bersih Capai Rp21,3 Miliar
Kewarganegaraan Ganda Belum Dibahas, Wamendagri Bima Arya Tegaskan Pemerintah Masih Fokus Susun Kajian Hukum
Plt Gubernur Riau Diperiksa KPK, Temuan Uang saat Penggeledahan Kembali Jadi Sorotan
Tim 9 Kejagung Periksa Tiga Saksi, Penyidikan TPPU Febrie Adriansyah Terus Bergerak
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:00 WIB

Skandal KPK Melebar! Anggota Polri yang Bertugas di Lembaga Antirasuah Ikut Terseret Kasus Pemerasan Bupati Pemalang

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:00 WIB

Bupati Pemalang Resmi Ditahan KPK, Uang Rp2 Miliar Jadi Awal Pengusutan Dugaan Korupsi Proyek

Kamis, 30 Juli 2026 - 12:00 WIB

Prabowo Resmi Naikkan Tukin Prajurit TNI dan Pegawai Kemhan, Penantian Sejak 2018 Akhirnya Berakhir

Kamis, 30 Juli 2026 - 09:00 WIB

KPK Bongkar Dugaan Jual Beli Jabatan di Pemalang, OTT Bupati Anom Perpanjang Daftar Kepala Daerah Terjerat Korupsi

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:30 WIB

Baru Menjabat, Bupati Pemalang Kena OTT KPK, LHKPN Ungkap Kekayaan Bersih Capai Rp21,3 Miliar

Berita Terbaru