Ekspor Tekstil Indonesia Bersiap Melesat, LPEI Bongkar Strategi Tembus Pertumbuhan 4 Persen hingga 2027

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 30 Juli 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia memasuki momentum baru ketika permintaan pasar global terus meningkat. Kondisi tersebut membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar ekspor. Namun, industri harus memperkuat rantai pasok, mempercepat modernisasi produksi, dan memenuhi standar internasional agar mampu bersaing dengan negara lain.

Selain itu, produsen tekstil nasional masih menghadapi persaingan ketat dari China, India, dan Vietnam. Oleh karena itu, setiap pelaku usaha perlu meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas produk, serta memperkuat efisiensi operasional agar mampu memenangkan pasar ekspor.

Sementara itu, Indonesia Eximbank Institute mencatat permintaan dunia terhadap produk tekstil hulu, seperti benang, kain tenun, dan kain rajut, terus meningkat sepanjang 2025. Tren tersebut memberi peluang bagi industri nasional untuk memperluas penetrasi ke berbagai negara tujuan ekspor.

LPEI Satukan Pelaku Industri dalam Satu Forum

Untuk mempercepat penguatan industri, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) menggelar LPEI Export Forum (LEF) Bandung bertema Membangun Rantai Pasok Garmen yang Kompetitif dan Berkelanjutan untuk Pasar Global pada akhir Juli 2026.

Melalui forum tersebut, LPEI mempertemukan eksportir, produsen tekstil, pemasok, asosiasi, serta berbagai pemangku kepentingan. Mereka membahas peluang pasar global sekaligus menyusun strategi agar industri tekstil Indonesia semakin kompetitif.

Direktur Pelaksana Bisnis I LPEI, Anton Herdianto, menjelaskan bahwa produk finished fabric masih menyumbang sekitar 74 persen dari total ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia.

Menurut Anton, kekuatan ekspor tidak hanya bergantung pada produsen garmen. Sebaliknya, seluruh pelaku dalam rantai pasok harus bergerak secara terpadu agar mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional.

Baca Juga :  Pemutihan Pajak Kendaraan, Warga Berpeluang Dapat Hadiah Emas hingga 12 Gram

“Buyer global kini tidak hanya mempertimbangkan harga yang kompetitif, tetapi juga kualitas produk, ketepatan pengiriman, traceability, kepatuhan terhadap standar internasional, hingga penggunaan material yang berkelanjutan. Karena itu, penguatan rantai pasok menjadi kunci untuk menjaga daya saing ekspor Indonesia,” ujar Anton.

Prospek Ekspor Terus Menguat

Indonesia Eximbank Institute memproyeksikan pertumbuhan ekspor tekstil nasional terus meningkat dalam dua tahun mendatang.

Pada 2026, industri berpeluang mencatat pertumbuhan ekspor sekitar 2 persen hingga 3,2 persen. Angka tersebut melampaui pertumbuhan saat ini yang mencapai 1,3 persen.

Selanjutnya, pada 2027, industri berpotensi membukukan pertumbuhan ekspor sekitar 3,5 persen hingga 4 persen.

Di samping itu, pemulihan ekonomi global, peluang penurunan suku bunga internasional, serta meningkatnya permintaan produk tekstil berkelanjutan ikut mendorong optimisme pelaku industri.

Modernisasi Mesin Jadi Prioritas

Anton menilai Indonesia memiliki sejumlah keunggulan untuk memperkuat posisi di pasar internasional. Industri tekstil nasional memiliki struktur yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Selain itu, biaya tenaga kerja juga masih kompetitif.

Meski demikian, pelaku industri tetap perlu mempercepat modernisasi mesin, meningkatkan produktivitas, serta memenuhi standar keberlanjutan agar mampu memenuhi permintaan pembeli global.

LPEI Perkuat Dukungan Pembiayaan

LPEI terus memperkuat dukungan bagi eksportir melalui pembiayaan, penjaminan, asuransi, dan layanan trade finance.

Lembaga tersebut menyediakan pembiayaan pre-shipment dan post-shipment, Trade Credit Insurance (TCI) untuk mengurangi risiko gagal bayar dari pembeli luar negeri, serta Marine Cargo Insurance guna melindungi pengiriman barang.

Selain itu, kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mendorong revitalisasi industri tekstil dan alas kaki melalui likuiditas yang lebih terjangkau sehingga perusahaan dapat memperbarui mesin produksi dan meningkatkan daya saing.

Baca Juga :  Kredit UMKM Menyusut, Bank Pilih Korporasi Besar

“Penguatan rantai pasok tekstil nasional membutuhkan kolaborasi yang erat. LPEI hadir tidak hanya melalui pembiayaan, tetapi juga layanan advisory dan market insight agar eksportir semakin siap memenuhi kebutuhan pasar global,” kata Anton.

Pelaku Usaha Rasakan Manfaat Fasilitas LPEI

Direktur Utama PT Ungaran Sari Garments, Maniwanen, mengatakan fasilitas pembiayaan dan asuransi dari LPEI membantu perusahaan menjaga kelancaran ekspor sekaligus memperkuat mitigasi risiko perdagangan internasional.

“Fasilitas LPEI sangat membantu operasional ekspor kami. Selain mengurangi beban pembiayaan, produk asuransinya juga memberikan perlindungan terhadap berbagai risiko sehingga kami lebih percaya diri dalam memperluas pasar ekspor,” ujarnya.

Karena itu, sinergi antara pemerintah, LPEI, dan pelaku industri akan memperkuat daya saing tekstil nasional. Selanjutnya, kolaborasi tersebut juga akan memperbesar kontribusi ekspor Indonesia di tengah perubahan lanskap perdagangan global.

FAQ

Mengapa ekspor tekstil Indonesia berpotensi meningkat?

Permintaan global terus meningkat, sementara ekonomi dunia mulai pulih dan kebutuhan terhadap produk tekstil berkelanjutan semakin besar.

Berapa proyeksi pertumbuhan ekspor tekstil Indonesia?

Indonesia Eximbank Institute memproyeksikan pertumbuhan ekspor mencapai 2–3,2 persen pada 2026 dan meningkat menjadi 3,5–4 persen pada 2027.

Apa tantangan utama industri tekstil nasional?

Pelaku industri perlu mempercepat modernisasi mesin, meningkatkan produktivitas, memperkuat rantai pasok, dan memenuhi standar keberlanjutan internasional.

Apa dukungan yang diberikan LPEI?

LPEI menyediakan pembiayaan ekspor, penjaminan, asuransi perdagangan, perlindungan pengiriman barang, serta layanan advisory dan market insight untuk memperkuat daya saing eksportir Indonesia.(Tim)

Berita Terkait

Bukan Sekadar Pendidikan Agama, Mahyeldi Ingin Pesantren Gerakkan Ekonomi Sumatera Barat
Produksi CPO Bengkulu Capai 1,5 Juta Ton, Wagub Mian Bidik DBH Sawit untuk Jalan Rakyat
Semarak Merah Putih Bengkulu Hadirkan Bazar UMKM dan Hiburan, Ekonomi Lokal Bergeliat
Benahi Keuangan Koperasi Desa, Pemprov Bengkulu Latih 156 Bendahara KDKMP
Kuota BBM Pessel 2027 Mulai Dibahas, Pemkab Berharap Solar dan Pertalite Tak Berkurang
22 Koperasi Desa Merah Putih Dharmasraya Siap Beroperasi, Ini Progres 12 Unit Lainnya
Pemprov Bengkulu Gas Percepatan Koperasi Desa Merah Putih, Ini Fokus Utamanya
Pemkab Dharmasraya Rampungkan Lapak UMKM di Sungai Duo, Peluang Usaha Warga Terbuka
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Bukan Sekadar Pendidikan Agama, Mahyeldi Ingin Pesantren Gerakkan Ekonomi Sumatera Barat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:48 WIB

Produksi CPO Bengkulu Capai 1,5 Juta Ton, Wagub Mian Bidik DBH Sawit untuk Jalan Rakyat

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:47 WIB

Semarak Merah Putih Bengkulu Hadirkan Bazar UMKM dan Hiburan, Ekonomi Lokal Bergeliat

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:30 WIB

Benahi Keuangan Koperasi Desa, Pemprov Bengkulu Latih 156 Bendahara KDKMP

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Kuota BBM Pessel 2027 Mulai Dibahas, Pemkab Berharap Solar dan Pertalite Tak Berkurang

Berita Terbaru

Oplus_0

Sungai Penuh

Longsor Sako, Jalur Sungai Penuh–Tapan Lumpuh Total

Rabu, 28 Okt 2026 - 22:27 WIB