Tekanan APBD Berat, 39 Pemda Gagal Bayar Gaji PPPK, Pemerintah Siapkan Skema TKD

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Tekanan Fiskal Daerah Kian Terasa

Pemerintah pusat kembali menyoroti kondisi keuangan sejumlah daerah yang kesulitan membiayai belanja pegawai, terutama untuk pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Kondisi ini muncul di tengah meningkatnya beban anggaran daerah yang terus menyempit akibat dominasi belanja pegawai.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak akan langsung mengambil keputusan terburu-buru. Ia memilih membuka ruang koordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri untuk mencari jalan keluar bersama.

Pemerintah Pusat Siapkan Pembahasan Lintas Kementerian

Saat dimintai tanggapan terkait 39 pemerintah daerah yang tidak sanggup membayar gaji PPPK, Purbaya menegaskan langkah koordinatif menjadi prioritas.

“Nanti akan kita bicarakan lebih lanjut dengan Kemendagri,” jawabnya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa (9/6).

Pernyataan itu muncul setelah laporan sebelumnya menyebutkan puluhan daerah menghadapi tekanan berat pada struktur APBD mereka, terutama karena porsi belanja pegawai sudah melampaui ambang ideal.

39 Daerah Masuk Zona Kritis Belanja Pegawai

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian sebelumnya mengungkapkan sebanyak 39 pemerintah daerah tidak mampu menutup kebutuhan gaji PPPK. Ia menilai kondisi ini terjadi karena struktur anggaran yang terlalu berat di sisi belanja pegawai.

Baca Juga :  RI Berebut Minyak AS, Harga Bisa Melonjak 30% di Atas WTI

“Kalau tidak salah kita itu 39 daerah. Ada 39 daerah yang perlu kita pikirkan. Mungkin mereka, kalau di PAD juga akan berat, sehingga mungkin perlu di-top-up melalui TKD,” ujarnya dalam Rapat Kerja Komisi II DPR RI, Senin (8/6).

Tito juga menyebut beberapa daerah seperti Sulawesi Tengah, Kabupaten Donggala, dan Sigi menghadapi tekanan serius karena belanja pegawai mereka mencapai lebih dari 50 persen APBD, bahkan ada yang tembus 60 persen.

Pemerintah Dorong Efisiensi APBD

Pemerintah pusat kini mendorong seluruh daerah menekan belanja yang tidak produktif dan mengalihkan anggaran ke kebutuhan prioritas masyarakat. Selain itu, Pemerintah juga menyiapkan aturan agar belanja pegawai maksimal 30 persen dari APBD sesuai amanat UU HKPD.

Tito menegaskan pemerintah tidak ingin daerah menyerah menghadapi kondisi ini. Ia meminta daerah segera melakukan penyesuaian anggaran, termasuk memangkas belanja seremonial dan perjalanan dinas yang tidak mendesak.

“Hal-hal yang tidak efisien bisa diefisiensikan. Nah, ini tolong dikerjakan dulu, jangan nyerah dulu. Karena kalau nyerah pasti dipelototi dan kemudian, ya tadi ada hal-hal yang keluar-keluarnya tidak perlu itu tolong koreksi juga,” pungkasnya.

Baca Juga :  Usai Raih Penghargaan, Pemkab Solok Selatan Tancap Gas Cetak Tenaga Kerja Lewat 12 Pelatihan Baru

Implementasi Target 2027

Pemerintah menargetkan kebijakan batas maksimal belanja pegawai sebesar 30 persen mulai berlaku penuh pada 5 Januari 2027. Sebelum aturan itu berjalan, Kemendagri sudah mengeluarkan surat edaran agar pemerintah daerah segera merapikan struktur anggaran mereka.

FAQ

1. Mengapa 39 daerah tidak mampu membayar gaji PPPK?

Karena porsi belanja pegawai di APBD mereka terlalu besar, bahkan ada yang mencapai lebih dari 50 persen.

2. Apa solusi pemerintah pusat?

Pemerintah pusat membuka opsi penambahan Transfer ke Daerah (TKD) serta mendorong efisiensi APBD.

3. Apa batas ideal belanja pegawai daerah?

Pemerintah menetapkan maksimal 30 persen dari total APBD sesuai UU HKPD.

4. Kapan aturan ini berlaku penuh?

Kebijakan tersebut akan berlaku efektif mulai 5 Januari 2027.

5. Daerah mana yang paling terdampak?

Beberapa daerah seperti Sulawesi Tengah, Donggala, dan Sigi termasuk yang mengalami tekanan tinggi pada belanja pegawai.(Tim)

Berita Terkait

Bukan Sekadar Pendidikan Agama, Mahyeldi Ingin Pesantren Gerakkan Ekonomi Sumatera Barat
Produksi CPO Bengkulu Capai 1,5 Juta Ton, Wagub Mian Bidik DBH Sawit untuk Jalan Rakyat
Semarak Merah Putih Bengkulu Hadirkan Bazar UMKM dan Hiburan, Ekonomi Lokal Bergeliat
Benahi Keuangan Koperasi Desa, Pemprov Bengkulu Latih 156 Bendahara KDKMP
Kuota BBM Pessel 2027 Mulai Dibahas, Pemkab Berharap Solar dan Pertalite Tak Berkurang
22 Koperasi Desa Merah Putih Dharmasraya Siap Beroperasi, Ini Progres 12 Unit Lainnya
Pemprov Bengkulu Gas Percepatan Koperasi Desa Merah Putih, Ini Fokus Utamanya
Pemkab Dharmasraya Rampungkan Lapak UMKM di Sungai Duo, Peluang Usaha Warga Terbuka
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Bukan Sekadar Pendidikan Agama, Mahyeldi Ingin Pesantren Gerakkan Ekonomi Sumatera Barat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:48 WIB

Produksi CPO Bengkulu Capai 1,5 Juta Ton, Wagub Mian Bidik DBH Sawit untuk Jalan Rakyat

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:47 WIB

Semarak Merah Putih Bengkulu Hadirkan Bazar UMKM dan Hiburan, Ekonomi Lokal Bergeliat

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:30 WIB

Benahi Keuangan Koperasi Desa, Pemprov Bengkulu Latih 156 Bendahara KDKMP

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Kuota BBM Pessel 2027 Mulai Dibahas, Pemkab Berharap Solar dan Pertalite Tak Berkurang

Berita Terbaru

Oplus_0

Dharmasraya

Ratusan Siswa Dharmasraya Terima Beasiswa, Ini Sederet Prestasinya

Kamis, 29 Okt 2026 - 06:56 WIB

Sungai Penuh

Jalur Sungai Penuh–Tapan Kembali Bisa Dilalui, Sistem Buka Tutup

Rabu, 28 Okt 2026 - 23:57 WIB

Oplus_0

Sungai Penuh

Longsor Sako, Jalur Sungai Penuh–Tapan Lumpuh Total

Rabu, 28 Okt 2026 - 22:27 WIB