JAKARTA – Pemerintah mempercepat pengembangan sektor hulu migas dengan memulai pembangunan Floating Production Storage and Offloading (FPSO) Bahtera Haluan Lestari di Tanjung Balai Karimun. Melalui proyek senilai US$11,8 miliar itu, pemerintah ingin memperkuat ketahanan energi sekaligus mengejar target produksi minyak dan gas nasional pada 2030.
Selain memperkuat pasokan energi, proyek tersebut juga mendorong pertumbuhan ekonomi. Pengembangan North Hub Development Project mengintegrasikan Lapangan Geng North dan Lapangan Gehem di Cekungan Kutai, lepas pantai Kalimantan Timur. Proyek ini juga membuka lebih dari 8.000 lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia.
Selanjutnya, pemerintah menargetkan produksi perdana pada kuartal IV 2028. Saat beroperasi nanti, North Hub akan menghasilkan 1.000 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD) dan 80.000 barel kondensat per hari (BCPD).
North Hub Perkuat Target Produksi Migas Nasional
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menegaskan North Hub akan menjadi salah satu penggerak utama untuk mencapai target produksi migas nasional.
“Kita berharap proyek ini tidak hanya membantu, tetapi menjadi mesin penggerak utama dalam mencapai target produksi nasional di 2030 yang telah ditetapkan Pemerintah, yaitu 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar kaki kubik gas per hari,” kata Djoko dalam keterangan resminya, Minggu (26/7/2026).
Pemerintah menargetkan produksi migas nasional mencapai 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar kaki kubik gas per hari pada 2030. Karena itu, pemerintah menempatkan North Hub sebagai salah satu proyek strategis untuk mengejar sasaran tersebut.
Investasi US$11,8 Miliar Dorong Industri Migas
North Hub Development Project mengusung nilai investasi sekitar US$11,8 miliar atau setara Rp211,54 triliun dengan asumsi kurs Rp17.927 per dolar AS.
Dari total investasi itu, pengembang mengalokasikan sekitar US$2,9 miliar untuk membangun FPSO Bahtera Haluan Lestari. Saat ini, tim proyek memasuki tahap konstruksi dengan melaksanakan first steel cut atau pemotongan baja pertama pada bagian topside di Tanjung Balai Karimun.
Berikutnya, kontraktor akan melanjutkan proses fabrikasi, perakitan, hingga instalasi fasilitas agar proyek dapat memasuki tahap produksi sesuai jadwal.
Proyek Strategis Nasional Buka Ribuan Lapangan Kerja
Djoko menilai besarnya investasi tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap sektor hulu migas Indonesia. Selain itu, proyek ini juga memperlihatkan kemampuan industri nasional dalam mengerjakan fasilitas migas berskala besar.
“North Hub Development Project Selat Makassar merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) hulu migas yang pengembangannya tidak hanya berperan dalam memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kapasitas industri fabrikasi lepas pantai di dalam negeri. Pengembangan proyek ini juga membuka lebih dari 8.000 lapangan kerja baru bagi masyarakat Indonesia,” jelasnya.
Melalui proyek tersebut, pemerintah memperkirakan lebih dari 8.000 tenaga kerja akan ikut menggerakkan aktivitas konstruksi hingga operasional. Dengan demikian, proyek ini tidak hanya meningkatkan produksi migas, tetapi juga memperluas dampak ekonomi bagi masyarakat.
Eni Kejar Target Produksi Perdana pada 2028
Sementara itu, Direktur Eni North Ganal Ltd, Mirko Araldi, menegaskan komitmen perusahaan untuk mengejar target produksi perdana pada 2028.
Menurut Mirko, dimulainya pembangunan FPSO menjadi hasil kolaborasi pemerintah, SKK Migas, kontraktor, dan seluruh mitra proyek dalam memperkuat pasokan energi nasional.(Tim)









