PayLater Meledak 86 Persen, Kredit Macet Ikut Naik: Generasi Muda Dominasi Pengguna

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 1 Mei 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater di Indonesia mencatat lonjakan signifikan sepanjang tahun terakhir. PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) melaporkan nilai transaksi PayLater tumbuh 86,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) hingga mencapai Rp 56,3 triliun pada akhir Februari 2026.

Direktur Utama Pefindo Biro Kredit, Tan Glant Saputrahadi, menilai pertumbuhan ini melampaui kredit konsumtif konvensional. Ia menegaskan bahwa masyarakat semakin cepat beradaptasi dengan pola belanja berbasis cicilan digital.

“Pertumbuhan ini sangat tinggi dan melampaui kredit konsumtif tradisional,” kata Glant dalam media gathering di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (28/4/2026).

P2P Lending Jadi Motor Pertumbuhan Tertinggi

Dari seluruh kanal layanan PayLater, industri peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman daring mencatat pertumbuhan paling agresif. IdScore mencatat kenaikan 153,49 persen yoy dengan outstanding mencapai Rp 16,9 triliun.

Glant menilai pertumbuhan ini tergolong sangat cepat bahkan melampaui tren beberapa tahun sebelumnya. Ia menyebut laju tersebut menunjukkan peningkatan minat masyarakat terhadap pembiayaan digital jangka pendek.

Baca Juga :  Danantara Siapkan Perombakan Besar DSI, Sistem Ekspor Satu Pintu Mulai Transisi 1 Juni 2026

Sementara itu, bank digital mencatat pertumbuhan 37,12 persen yoy dengan outstanding sebesar Rp 16,2 triliun. Bank umum membukukan pertumbuhan paling rendah, yakni 6,81 persen yoy dengan outstanding Rp 18,9 triliun.

Pengguna Didominasi Generasi Muda di Pulau Jawa

IdScore mencatat pengguna PayLater masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, terutama Jawa Barat yang menjadi wilayah dengan pengguna terbanyak. Dari sisi demografi, generasi milenial mendominasi dengan porsi 44,89 persen, disusul generasi Z sebesar 43,81 persen.

Data ini menunjukkan hampir 90 persen pengguna PayLater berasal dari kelompok usia muda. Pola ini memperlihatkan pergeseran gaya konsumsi yang semakin bergantung pada layanan kredit instan berbasis aplikasi.

Risiko Kredit Macet Masih Mengkhawatirkan

Di balik pertumbuhan pesat tersebut, risiko kredit macet atau non-performing loan (NPL) masih menjadi sorotan utama. IdScore mencatat NPL PayLater masih berada di atas 5 persen, angka yang tergolong tinggi untuk sektor pembiayaan ritel.

Baca Juga :  CIMB Niaga OCTO Mobile Error Berjam-jam, Pakar Ungkap Dugaan Masalah Serius di Sistem

Beberapa wilayah bahkan menunjukkan tingkat risiko lebih besar. Aceh mencatat NPL tertinggi sebesar 14,53 persen. Setelah itu, Maluku Utara mencapai 7,34 persen, Papua Barat 7,21 persen, Maluku 6,40 persen, dan Sulawesi Utara 6,21 persen.

“Risiko tertinggi ada di Aceh, NPL mencapai 14,5 persen,” ujar Glant.

Industri Harus Perkuat Manajemen Risiko

Pertumbuhan agresif PayLater menunjukkan peluang besar dalam ekosistem keuangan digital Indonesia. Namun, tingginya NPL menandakan perlunya penguatan manajemen risiko dari penyedia layanan.

Pelaku industri perlu memperketat analisis kelayakan kredit, memperbaiki sistem penilaian pengguna, serta meningkatkan edukasi finansial kepada masyarakat. Tanpa langkah tersebut, pertumbuhan cepat justru dapat memicu peningkatan gagal bayar di masa depan.

Dengan tren saat ini, PayLater berpotensi terus tumbuh, tetapi keseimbangan antara ekspansi dan pengendalian risiko menjadi kunci keberlanjutan industri ini di Indonesia.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Mahyeldi Bidik Ekonomi Sumbar 7,3 Persen, Gerbang Barat Indonesia Jadi Andalan
Mahyeldi Ungkap Kekuatan Besar Sumatera di IMT-GT, Targetnya Bukan Sekadar Kerja Sama
Ekspor Kopi Robusta Bengkulu ke Italia Tembus 19,2 Ton, Pasar Eropa Mulai Terbuka
Dari Stan AOE 2026, Yulian Efi Pacu Produk Solok Selatan Buru Pasar Nasional
SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler
Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha
PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 16:37 WIB

Mahyeldi Bidik Ekonomi Sumbar 7,3 Persen, Gerbang Barat Indonesia Jadi Andalan

Jumat, 11 September 2026 - 20:59 WIB

Mahyeldi Ungkap Kekuatan Besar Sumatera di IMT-GT, Targetnya Bukan Sekadar Kerja Sama

Selasa, 8 September 2026 - 08:00 WIB

Ekspor Kopi Robusta Bengkulu ke Italia Tembus 19,2 Ton, Pasar Eropa Mulai Terbuka

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:14 WIB

Dari Stan AOE 2026, Yulian Efi Pacu Produk Solok Selatan Buru Pasar Nasional

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:17 WIB

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler

Berita Terbaru