Riau Tancap Gas Saat Ekonomi Global Bergejolak, Industri hingga Sawit Antar Pertumbuhan Tembus 4,89 Persen

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 31 Juli 2026 - 15:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

PEKANBARU – Perekonomian Provinsi Riau tetap bergerak positif meski dunia masih menghadapi tekanan geopolitik dan ketidakpastian perdagangan internasional. Industri pengolahan, perdagangan, dan investasi terus mendorong aktivitas ekonomi sehingga pertumbuhan daerah tetap terjaga pada awal 2026.

Selain itu, kinerja ekspor yang kuat ikut memperkokoh fondasi ekonomi Riau. Inflasi yang masih terkendali juga membantu menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika ekonomi global.

Di sisi lain, pemerintah terus mengoptimalkan peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus menopang aktivitas masyarakat dan dunia usaha.

Konflik Global Masih Menjadi Tantangan

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Riau, Adnan Wimbyarto, menjelaskan bahwa perekonomian global masih menghadapi berbagai tantangan hingga pertengahan 2026.

“Memasuki pertengahan tahun 2026, perekonomian global masih dibayangi berbagai tantangan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik Iran dengan Amerika Serikat beserta sekutunya, meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasokan energi dunia dan mendorong volatilitas harga minyak,” kata Adnan.

Menurutnya, fragmentasi perdagangan dunia dan kebijakan moneter negara maju juga terus memberi tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Riau Tetap Menunjukkan Ketahanan

Meski tantangan global masih berlangsung, Riau tetap menjaga ketahanan ekonominya. Permintaan domestik masih kuat, inflasi relatif stabil, sektor keuangan tetap sehat, dan APBN terus menopang perekonomian.

“Meskipun demikian, perekonomian Indonesia, khususnya di Provinsi Riau, tetap menunjukkan resiliensi yang baik. Permintaan domestik terjaga, inflasi relatif terkendali, sektor keuangan stabil, dan APBN tetap mampu menjalankan fungsinya sebagai shock absorber dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional,” ujarnya.

Baca Juga :  Era Baru Pengawasan Ekspor Dimulai, PT DSI Mulai Kumpulkan Laporan Sawit dan Batu Bara

Pertumbuhan Ekonomi Mencapai 4,89 Persen

Selanjutnya, Adnan mengungkapkan bahwa ekonomi Riau pada kuartal I 2026 tumbuh 4,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Industri pengolahan, perdagangan, dan investasi menjadi tiga sektor yang paling besar mendorong pertumbuhan tersebut.

“Perkembangan ekonomi Provinsi Riau juga menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan. Pada kuartal I/2026, ekonomi Riau tumbuh 4,89% (year-on-year), didukung oleh kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan, dan investasi yang tetap kuat,” ungkapnya.

Ekspor Tetap Menjadi Kekuatan

Sementara itu, perdagangan internasional masih memberikan kontribusi besar bagi ekonomi Riau.

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, nilai ekspor mencapai US$8,60 miliar, sedangkan impor berada di angka US$1,63 miliar. Selisih keduanya menghasilkan surplus perdagangan sebesar US$6,97 miliar.

Adnan menilai capaian tersebut memperlihatkan tingginya daya saing komoditas unggulan Riau, terutama kelapa sawit beserta produk turunannya.

“Kinerja tersebut menunjukkan bahwa komoditas unggulan Riau, khususnya kelapa sawit beserta produk turunannya, masih memiliki daya saing yang tinggi di pasar internasional,” jelasnya.

Inflasi Masih Terjaga

Kemudian, inflasi Riau pada Juni 2026 mencapai 0,35 persen secara bulanan dan 4,55 persen secara tahunan.

Cabai merah, minyak goreng, tomat, bensin, biaya pemeliharaan kendaraan pribadi, serta ikan patin menjadi komoditas yang paling banyak mendorong kenaikan harga.

“Secara umum inflasi masih berada dalam rentang yang terkendali dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.

Baca Juga :  Harga Sawit Turun di Merangin, Pengepul Keluhkan Keuntungan Menyusut

Nilai Tukar Petani Mengalami Penurunan

Di sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) Riau tercatat 193,69 pada Juni 2026. Angka tersebut turun 6,62 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 207,41.

Penurunan itu terjadi karena harga hasil pertanian yang diterima petani turun 6,18 persen, sedangkan biaya yang mereka keluarkan naik 0,46 persen.

Walaupun demikian, Riau masih menempati posisi kedua NTP tertinggi di Pulau Sumatera setelah Bengkulu.

“Hal ini mencerminkan kuatnya nilai tukar petani terutama karena dominasi petani sawit rakyat dengan nilai komoditas yang tinggi. Sedangkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) cukup stabil di angka 109,02,” tutup Adnan.

FAQ

Mengapa ekonomi Riau tetap tumbuh di tengah tekanan global?

Karena industri pengolahan, perdagangan, investasi, serta permintaan domestik tetap bergerak positif.

Berapa pertumbuhan ekonomi Riau pada kuartal I 2026?

Ekonomi Riau tumbuh 4,89 persen secara tahunan.

Berapa surplus perdagangan Riau?

Riau membukukan surplus perdagangan sebesar US$6,97 miliar selama Januari–Mei 2026.

Komoditas apa yang menopang ekspor Riau?

Kelapa sawit beserta berbagai produk turunannya masih menjadi komoditas utama.

Bagaimana kondisi inflasi di Riau?

Inflasi Juni 2026 mencapai 0,35 persen secara bulanan dan 4,55 persen secara tahunan sehingga masih tergolong terkendali.

Mengapa Nilai Tukar Petani menurun?

Harga yang diterima petani turun lebih cepat daripada kenaikan biaya produksi sehingga NTP ikut menurun.(Tim)

Berita Terkait

Petani Dharmasraya Bidik Pasar MBG, Bupati Annisa Salurkan 12,3 Ton Benih Jagung
Bukan Sekadar Pendidikan Agama, Mahyeldi Ingin Pesantren Gerakkan Ekonomi Sumatera Barat
Produksi CPO Bengkulu Capai 1,5 Juta Ton, Wagub Mian Bidik DBH Sawit untuk Jalan Rakyat
Semarak Merah Putih Bengkulu Hadirkan Bazar UMKM dan Hiburan, Ekonomi Lokal Bergeliat
Benahi Keuangan Koperasi Desa, Pemprov Bengkulu Latih 156 Bendahara KDKMP
Kuota BBM Pessel 2027 Mulai Dibahas, Pemkab Berharap Solar dan Pertalite Tak Berkurang
22 Koperasi Desa Merah Putih Dharmasraya Siap Beroperasi, Ini Progres 12 Unit Lainnya
Pemprov Bengkulu Gas Percepatan Koperasi Desa Merah Putih, Ini Fokus Utamanya
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:48 WIB

Petani Dharmasraya Bidik Pasar MBG, Bupati Annisa Salurkan 12,3 Ton Benih Jagung

Rabu, 28 Oktober 2026 - 09:57 WIB

Bukan Sekadar Pendidikan Agama, Mahyeldi Ingin Pesantren Gerakkan Ekonomi Sumatera Barat

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:48 WIB

Produksi CPO Bengkulu Capai 1,5 Juta Ton, Wagub Mian Bidik DBH Sawit untuk Jalan Rakyat

Minggu, 25 Oktober 2026 - 12:47 WIB

Semarak Merah Putih Bengkulu Hadirkan Bazar UMKM dan Hiburan, Ekonomi Lokal Bergeliat

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:30 WIB

Benahi Keuangan Koperasi Desa, Pemprov Bengkulu Latih 156 Bendahara KDKMP

Berita Terbaru

Oplus_0

Sungai Penuh

Dari MoU hingga Bantuan Pupuk, Azhar Hamzah Dorong Kemajuan Petani

Sabtu, 31 Okt 2026 - 14:35 WIB