JAKARTA – Gejolak global kembali menekan nilai tukar mata uang dunia. Laporan terbaru dari Forbes Advisor menempatkan sejumlah mata uang dalam kondisi terlemah per April 2026. Tekanan datang dari konflik geopolitik, lonjakan inflasi, hingga ketergantungan impor energi.
Situasi di kawasan Selat Hormuz ikut memperburuk keadaan. Gangguan distribusi minyak membuat banyak negara harus menanggung beban ekonomi yang lebih berat.
Faktor Utama Pelemahan Mata Uang
Banyak negara menghadapi tekanan serius dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Inflasi tinggi menggerus daya beli masyarakat. Ketidakpastian politik membuat investor menarik modal. Ketergantungan impor energi memperparah kondisi saat harga global melonjak.
Kombinasi faktor tersebut menciptakan tekanan berlapis. Negara berkembang menjadi kelompok yang paling rentan dalam situasi ini.
Rial Iran Jadi yang Terlemah
Rial Iran menempati posisi pertama sebagai mata uang terlemah. Nilainya mencapai sekitar 1,32 juta hingga 1,33 juta per dolar AS.
Sanksi internasional menekan ekspor minyak Iran. Pembatasan akses ke sistem keuangan global memperburuk kondisi. Inflasi tinggi mengikis kepercayaan masyarakat terhadap mata uang domestik.
Perbedaan antara kurs resmi dan pasar gelap juga memperlebar distorsi nilai tukar.
Lebanon dan Vietnam Ikut Tertekan
Posisi kedua ditempati Pound Lebanon. Krisis ekonomi sejak 2019 belum menunjukkan perbaikan. Sistem perbankan melemah, utang negara membengkak, dan cadangan devisa menipis.
Di posisi ketiga, Dong Vietnam memiliki karakter berbeda. Pemerintah Vietnam sengaja menjaga nilai tukar tetap rendah untuk meningkatkan daya saing ekspor. Kebijakan ini membuat mata uang stabil di level rendah, bukan karena krisis.
Asia Tenggara dan Asia Tengah Terdampak
Kip Laos berada di posisi keempat. Utang luar negeri yang tinggi dan inflasi mendorong pelemahan nilai tukar. Ketergantungan impor energi membuat tekanan semakin besar.
Sementara itu, Rupiah Indonesia menempati posisi kelima. Nilainya berkisar Rp17.150 hingga Rp17.190 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah lebih banyak berasal dari faktor global. Kenaikan suku bunga di Amerika Serikat mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Sentimen global ikut memengaruhi pergerakan nilai tukar, meski kondisi ekonomi domestik masih relatif stabil.
Negara Lain dalam Daftar
Beberapa mata uang lain juga masuk daftar ini. Som Uzbekistan berada di posisi keenam. Transisi ekonomi yang belum matang dan inflasi memengaruhi stabilitasnya.
Franc Guinea dan Franc Burundi masing-masing berada di posisi ketujuh dan kedelapan. Ketergantungan pada komoditas serta kondisi politik menjadi faktor utama.
Di posisi kesembilan, Ariary Malagasy mencerminkan ekonomi yang masih bergantung pada sektor pertanian dan ekspor terbatas.
Sementara itu, Guarani Paraguay menutup daftar di posisi kesepuluh. Inflasi tinggi, korupsi, dan lemahnya sistem ekonomi memberikan tekanan besar pada mata uang ini.
Rupiah Masih Tertekan, Tapi Stabil
Masuknya rupiah dalam lima besar mata uang terlemah dunia menjadi sorotan. Namun, posisi ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Faktor eksternal masih mendominasi tekanan terhadap rupiah. Kebijakan global, terutama dari Amerika Serikat, sangat memengaruhi arus modal dan nilai tukar.
Pemerintah dan otoritas moneter terus menjaga stabilitas. Langkah intervensi pasar dan kebijakan suku bunga menjadi kunci untuk meredam gejolak lebih lanjut di tengah ketidakpastian global.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









