JAKARTA – Di usia 21 tahun, Hesti Irnanta menghadapi kenyataan pahit. Ia harus menjalani peran sebagai ibu sekaligus kepala keluarga setelah berpisah dari suaminya. Saat itu, anaknya baru berusia tiga bulan.
Hesti tidak tenggelam dalam keadaan. Ia justru menjadikan anaknya sebagai alasan utama untuk bertahan dan terus melangkah.
“Di titik itu saya sadar harus kuat. Anak saya jadi alasan saya untuk terus maju,” kata Hesti, Rabu (22/4/2026).
Berpisah karena KDRT
Perjalanan hidup Hesti dimulai saat ia menikah di usia 20 tahun pada 2008. Setahun kemudian, ia melahirkan seorang putra. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Hesti memutuskan berpisah karena mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Keputusan itu membuatnya harus menghadapi tekanan emosional sekaligus tanggung jawab besar sebagai orang tua tunggal.
Ia tidak menyerah. Hesti tetap melanjutkan pendidikan sambil bekerja di sebuah bank di Kota Malang. Ia membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, dan mengurus anak.
Dalam fase sulit itu, ibunya membantu merawat sang anak. Meski begitu, waktu kebersamaan mereka sangat terbatas.
“Dalam seminggu, waktu saya dengan anak tidak sampai 24 jam. Kondisi itu berlangsung sekitar enam tahun,” ujarnya.
Pulang ke Lumajang demi Anak
Pada 2016, Hesti mengambil keputusan penting. Ia memilih pulang ke Lumajang saat anaknya berusia tujuh tahun dan akan masuk sekolah dasar.
Keputusan itu mengubah hidupnya. Ia mulai tinggal bersama anaknya secara penuh dan memperkuat hubungan keluarga.
Bangun Karier dan Bisnis
Setelah kembali ke Lumajang, Hesti mengembangkan karier sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi. Ia tidak berhenti di situ. Ia juga mulai merintis berbagai usaha.
Ia mencoba bisnis fesyen, perkayuan, jual beli mobil, hingga properti. Hesti membangun semuanya dari skala kecil dan mengembangkannya secara bertahap.
“Sesuatu yang dimulai dari kecil bisa jadi besar kalau kita jalani dengan konsisten,” katanya.
Hesti menekankan pentingnya disiplin dalam mengelola keuangan. Ia juga aktif membaca peluang pasar dan mengikuti perkembangan zaman.
Ia memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan usahanya. Menurutnya, pelaku usaha harus cepat beradaptasi dengan perubahan digital.
“Tidak semua pelaku usaha siap dengan perubahan. Kita harus pintar manfaatkan teknologi,” ujarnya.
Tetap Prioritaskan Anak
Di tengah kesibukan, Hesti tetap menempatkan perannya sebagai ibu di posisi utama. Ia selalu menyempatkan waktu untuk berbincang dengan anaknya setiap malam.
Kini, anaknya menempuh pendidikan di pesantren. Hesti berharap anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik dan membanggakan.
“Semoga anak saya sukses di dunia dan akhirat,” katanya.
Hadapi Stigma dengan Sikap Tegas
Sebagai ibu tunggal, Hesti kerap menghadapi pandangan negatif dari lingkungan sekitar. Namun, ia tidak terpengaruh.
Ia memilih fokus pada tanggung jawab dan masa depan anaknya.
“Kita tidak bisa atur cara orang melihat kita. Tapi kita bisa atur cara kita bersikap,” ujarnya.
Hesti juga mengakui peran besar sang ibu, Khusnul Chotimah, dalam perjalanan hidupnya. Ia belajar tentang ketulusan dan kekuatan dari sosok ibunya.
Harapan untuk Perempuan Mandiri
Hesti berharap masyarakat menghadirkan lebih banyak dukungan bagi perempuan kepala keluarga. Ia menilai akses pelatihan dan peluang usaha sangat penting.
Menurutnya, perempuan mandiri tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga membangun masa depan keluarga.
Ia pun memberi pesan kepada perempuan lain agar tidak menyerah.
“Tidak apa-apa lelah. Tapi jangan berhenti. Pelan-pelan saja, yang penting terus bergerak,” ujarnya.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









