Ekonomi Singapura Tumbuh di Bawah Ekspektasi

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 17 April 2026 - 22:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Singapura mencatat pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari perkiraan pasar pada kuartal I 2026. Tekanan inflasi dan kenaikan biaya energi mendorong Monetary Authority of Singapore (MAS) mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter.

Data terbaru menunjukkan ekonomi Singapura tumbuh 4,6% pada tiga bulan pertama 2026. Angka ini berada di bawah ekspektasi ekonom yang memperkirakan pertumbuhan 5,9% berdasarkan survei Reuters.

Selain itu, data awal Kementerian Perdagangan Singapura mencatat kontraksi 0,3% secara kuartalan dibanding kuartal IV tahun sebelumnya.

MAS perketat kebijakan moneter

Menanggapi kondisi tersebut, MAS memutuskan memperketat kebijakan moneter pada Selasa (14/4/2026). Bank sentral menilai risiko inflasi meningkat akibat gejolak geopolitik dan kenaikan harga energi global.

Baca Juga :  Kopi Kerinci Tembus Mesir, Pelindo Jambi Kirim 19,2 Ton

MAS juga menyoroti dampak perang di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Konflik itu mendorong kenaikan harga energi dan tekanan inflasi inti.

Inflasi inti Singapura tercatat 1,4% secara tahunan pada Februari, sebelum eskalasi konflik terjadi.

Dolar Singapura menguat lebih cepat

MAS berencana mempercepat laju penguatan dolar Singapura dalam kerangka kebijakan nilai tukar S$NEER. Namun, bank sentral tetap mempertahankan rentang kebijakan tanpa perubahan batas atas, bawah, maupun titik tengah.

Dalam pernyataannya, MAS memperkirakan pertumbuhan ekonomi Singapura akan melambat sepanjang 2026. Kesenjangan output juga diperkirakan mendekati nol.

Inflasi naik akibat biaya energi

MAS menaikkan proyeksi inflasi inti dan inflasi utama menjadi 1,5%–2,5%, dari sebelumnya 1,0%–2,0%.

Baca Juga :  Padang Jadi Magnet Investasi Awal 2026, Arus Modal Tembus Rp643 Miliar, Sektor Jasa Mendominasi

Bank sentral menjelaskan kenaikan biaya energi telah mengganggu rantai pasok global. Kondisi ini mendorong kenaikan harga barang dan jasa impor di Singapura.

“Biaya energi impor meningkat dan tekanan harga akan berlanjut dalam beberapa kuartal,” tulis MAS dalam pernyataan resminya.

Risiko lanjutan masih terbuka

Ekonom senior Oxford Economics, Sheana Yue, menilai kebijakan MAS masih dalam batas terkendali. Namun, ia mengingatkan risiko inflasi bisa meningkat jika tekanan biaya merembet ke sektor makanan dan upah.

Ia menyebut kondisi tersebut dapat memaksa bank sentral melakukan pengetatan lanjutan jika tekanan inflasi terus berlanjut lebih cepat dari perkiraan.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Update Harga Pangan Hari Ini 18 Juli 2026: Cabai Rawit Hijau Melonjak, Ayam dan Telur Ikut Naik
Promo Shopee 17 Juli 2026: Mie Gacoan dan Kopi Dari Pada Cuma Rp1, Voucher Resto Terus Diisi Ulang
Rp3 Miliar Mengalir ke Setiap Kopdes Merah Putih, Ini Rincian Fasilitas yang Disiapkan Pemerintah
Wagub Sumbar Bongkar Kunci Kebangkitan Koperasi, Minta Tinggalkan Cara Lama dan Masuk Era Digital
Investasi RI Tembus Rp511,8 Triliun dalam 3 Bulan, 742 Ribu Lapangan Kerja Baru Tercipta
Kemensos Siapkan Peran Baru Penerima Bansos, Kini Bisa Jadi Anggota dan Mitra Usaha Koperasi Merah Putih
Promo Shopee 16 Juli 2026: Voucher Diskon, ShopeeFood Rp1 dan Hadiah Galaxy A17 Menanti
Promo Shopee 15 Juli 2026: Diskon Hisense hingga 70%, Voucher Rp5 Juta dan Peluang Bawa Pulang PS5
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 18 Juli 2026 - 11:27 WIB

Update Harga Pangan Hari Ini 18 Juli 2026: Cabai Rawit Hijau Melonjak, Ayam dan Telur Ikut Naik

Jumat, 17 Juli 2026 - 07:00 WIB

Promo Shopee 17 Juli 2026: Mie Gacoan dan Kopi Dari Pada Cuma Rp1, Voucher Resto Terus Diisi Ulang

Kamis, 16 Juli 2026 - 19:00 WIB

Rp3 Miliar Mengalir ke Setiap Kopdes Merah Putih, Ini Rincian Fasilitas yang Disiapkan Pemerintah

Kamis, 16 Juli 2026 - 16:00 WIB

Wagub Sumbar Bongkar Kunci Kebangkitan Koperasi, Minta Tinggalkan Cara Lama dan Masuk Era Digital

Kamis, 16 Juli 2026 - 15:00 WIB

Investasi RI Tembus Rp511,8 Triliun dalam 3 Bulan, 742 Ribu Lapangan Kerja Baru Tercipta

Berita Terbaru