Merek China Ubah Arah Strategi EV, Hybrid dan PHEV Kini Jadi Senjata Baru di Pasar Indonesia

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 3 Juni 2026 - 04:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Industri otomotif listrik di Indonesia memasuki fase baru. Setelah sempat didominasi kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV), sejumlah merek asal China kini mengubah arah strategi. Mereka mulai agresif menghadirkan mobil hybrid dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Langkah ini tidak hanya mencerminkan adaptasi pasar, tetapi juga menunjukkan pergeseran cara pabrikan membaca kebutuhan konsumen di tengah proses elektrifikasi.

Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) menilai perubahan ini sebagai bagian alami dari transisi teknologi, bukan kemunduran arah elektrifikasi.

EV Bukan Lagi Satu-Satunya Andalan

Pada tahap awal ekspansi kendaraan listrik di Indonesia, banyak merek China langsung mendorong BEV sebagai produk utama. Strategi ini bertujuan mempercepat adopsi kendaraan nol emisi sekaligus membangun citra teknologi baru di pasar berkembang seperti Indonesia.

Namun, kondisi pasar berubah cepat. Konsumen mulai mempertimbangkan fleksibilitas penggunaan kendaraan, terutama untuk perjalanan jarak jauh dan keterbatasan infrastruktur pengisian daya di beberapa wilayah.

Perubahan perilaku ini mendorong pabrikan memperluas portofolio mereka. Hybrid dan PHEV hadir sebagai jembatan antara mesin pembakaran internal dan teknologi listrik penuh.

Periklindo: Setiap Pabrikan Punya Hak Strategi

Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Masyarakat dan Edukasi Periklindo, Achmad Rofiqi, menegaskan bahwa setiap pabrikan memiliki kebebasan dalam menentukan strategi teknologi.

“Kalau pilihan masing-masing merek atau industri, itu merupakan hak prerogatif masing-masing,” kata Rofiqi kepada wartawan di Bekasi, Jawa Barat

Pernyataan ini menegaskan bahwa industri EV tidak berjalan dengan satu pola tunggal. Setiap produsen menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar, kesiapan infrastruktur, dan perilaku konsumen di masing-masing negara.

Hybrid dan PHEV Jadi Jembatan Transisi

Perubahan strategi dari BEV ke hybrid dan PHEV tidak muncul tanpa alasan. Pabrikan melihat kebutuhan konsumen yang masih ragu beralih sepenuhnya ke mobil listrik.

Baca Juga :  Geely EX2 Facelift 2026 Bikin Heboh, Mobil Listrik Rp170 Jutaan Kini Mampu Melaju 480 Km

Salah satu kekhawatiran terbesar muncul dari jarak tempuh dan ketersediaan pengisian daya. Kondisi ini sering dikenal sebagai range anxiety.

“Namun, kami melihat salah satu alasan mengapa range anxiety menjadi momok pada awal masuknya mobil listrik ke Indonesia adalah karena jumlah SPKLU saat itu masih sangat terbatas,” ujar Rofiqi.

Ia menilai kondisi infrastruktur yang belum matang pada fase awal memperlambat rasa percaya konsumen terhadap BEV.

Infrastruktur Jadi Faktor Penentu

Periklindo mencatat perkembangan signifikan dalam infrastruktur pengisian daya dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, tantangan awal masih meninggalkan jejak kuat pada persepsi konsumen.

“Teman-teman yang sudah menggunakan EV sejak 2021 tentu merasakan bagaimana sulitnya mencari SPKLU saat itu. Sebagian besar pengisian daya hanya bisa dilakukan di rumah,” ujarnya.

Situasi tersebut membuat pengguna awal EV harus mengandalkan pengisian rumah sebagai solusi utama. Kondisi ini membatasi fleksibilitas penggunaan kendaraan, terutama untuk perjalanan antarkota.

Tantangan Teknologi Awal EV

Selain infrastruktur, faktor teknologi juga ikut memengaruhi adopsi awal kendaraan listrik di Indonesia. Kapasitas baterai dan biaya produksi masih menjadi hambatan besar.

“Selain itu, harga baterai masih sangat mahal dan kapasitasnya relatif kecil, sehingga jarak tempuh kendaraan juga terbatas. Mungkin pada awalnya hanya sekitar 200 hingga 300 kilometer. Kondisi ini menjadi tantangan bagi para early adopter kendaraan listrik,” kata Rofiqi.

Ia menegaskan bahwa keterbatasan ini membuat konsumen awal harus menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan kendaraan listrik generasi pertama.

Baca Juga :  Pasar Mobil RI Meledak di Awal 2026, Penjualan Naik 12,5 Persen

Kompatibilitas Pengisian Daya Jadi Masalah Tambahan

Masalah lain muncul dari standar pengisian daya yang belum seragam pada masa awal EV di Indonesia. Pengguna menghadapi kesulitan karena perbedaan konektor dan sistem pengisian.

“Bahkan pada masa awal, pengguna Tesla misalnya, banyak yang hanya bisa mengisi daya di rumah karena jenis konektornya berbeda dan belum kompatibel dengan fasilitas pengisian yang tersedia,” kata Rofiqi.

Situasi ini memperjelas bahwa ekosistem EV tidak hanya bergantung pada mobil, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur yang mendukungnya.

Strategi Baru: Realistis atau Mundur?

Peralihan sebagian merek ke hybrid dan PHEV memunculkan dua pandangan. Sebagian pihak melihat langkah ini sebagai bentuk realisme pasar. Sebagian lain menilai strategi ini dapat memperlambat adopsi EV murni.

Namun dalam praktiknya, hybrid dan PHEV justru memperluas jangkauan konsumen yang belum siap sepenuhnya beralih ke BEV. Model ini memberi waktu adaptasi bagi pasar sekaligus menjaga momentum elektrifikasi.

FAQ

1. Apakah merek China meninggalkan mobil listrik murni?

Tidak. Mereka tetap memproduksi BEV, tetapi mereka menambah lini hybrid dan PHEV untuk memperluas pasar.

2. Apa alasan utama pergeseran ke hybrid dan PHEV?

Pabrikan melihat kekhawatiran konsumen terhadap jarak tempuh, infrastruktur pengisian, dan kebutuhan fleksibilitas.

3. Apakah hybrid lebih ramah lingkungan daripada mobil bensin?

Ya. Hybrid tetap mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi dibandingkan mobil konvensional.

4. Apakah Indonesia siap sepenuhnya untuk BEV?

Indonesia terus membangun infrastruktur SPKLU, tetapi persebarannya belum merata di seluruh wilayah.

5. Apakah PHEV bisa menjadi solusi sementara?

Ya. PHEV sering berfungsi sebagai jembatan menuju adopsi BEV penuh di masa depan.(Tim)

Berita Terkait

MPV Canggih Leapmotor D99 Debut, Kabin Bisa Jadi Ruang Tidur & Pakai AI Pintar
Era Emas Mobil China Mulai Meredup, Penjualan Melambat Picu Perubahan Besar Industri Otomotif Global
KIA All New Carens 2026 Tampil Futuristis di IIMS, MPV Keluarga Ini Naik Level Jadi Premium
CATL Mulai Produksi Massal Baterai Sodium-Ion, Tantang Dominasi Lithium dan Buka Era Baru EV Murah
Lepas L8 PHEV Bikin Geger, SUV Hybrid Ini Mampu Tembus 1.000 Km Sekali Isi dan Tetap Bertenaga
Ofero Ledo 5 Rp3 Jutaan Guncang Pasar Sepeda Listrik, Pabrik Semarang Jadi Kunci Ekspansi Besar EV Indonesia
Skutik Baru Yamaha dengan Bagasi 37,5 Liter Bikin Heboh: Ringkas, Irit, dan Super Fungsional
Program Tukar Tambah Yadea GS70, Motor Lama Bisa Jadi Motor Listrik Baru
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 04:00 WIB

Merek China Ubah Arah Strategi EV, Hybrid dan PHEV Kini Jadi Senjata Baru di Pasar Indonesia

Rabu, 3 Juni 2026 - 02:00 WIB

MPV Canggih Leapmotor D99 Debut, Kabin Bisa Jadi Ruang Tidur & Pakai AI Pintar

Rabu, 3 Juni 2026 - 00:01 WIB

Era Emas Mobil China Mulai Meredup, Penjualan Melambat Picu Perubahan Besar Industri Otomotif Global

Selasa, 2 Juni 2026 - 23:00 WIB

KIA All New Carens 2026 Tampil Futuristis di IIMS, MPV Keluarga Ini Naik Level Jadi Premium

Selasa, 2 Juni 2026 - 14:00 WIB

CATL Mulai Produksi Massal Baterai Sodium-Ion, Tantang Dominasi Lithium dan Buka Era Baru EV Murah

Berita Terbaru