MUARO JAMBI – Situasi dunia pendidikan di Kabupaten Muaro Jambi mendadak menjadi sorotan setelah 13 kepala sekolah memilih mundur hanya dua hari setelah pelantikan resmi. Kejadian ini langsung memicu pertanyaan publik soal proses penempatan jabatan yang baru saja dilakukan pemerintah daerah.
Para kepala sekolah tersebut sebelumnya mengikuti pelantikan massal yang dipimpin Wakil Bupati Muaro Jambi, Junaidi H. Mahir, pada Senin (18/5/2026). Dalam pelantikan itu, pemerintah daerah menempatkan ratusan kepala sekolah baru di jenjang TK, SD, hingga SMP.
Namun, sebagian pejabat yang baru dilantik justru tidak melanjutkan penugasan di sekolah masing-masing dan langsung mengajukan pengunduran diri secara serentak.
JARAK PENEMPATAN JADI KELUHAN UTAMA
Salah satu kepala sekolah yang mundur, Rasyidi, S.Pd.I, menyampaikan alasan utama pengunduran dirinya berkaitan dengan jarak tempuh yang terlalu jauh dari tempat tinggalnya ke sekolah penugasan.
Ia menuturkan, perjalanan menuju lokasi tugas tidak sederhana. Ia harus menempuh perjalanan darat berjam-jam, lalu menyeberang menggunakan perahu ketek dengan biaya tambahan, sebelum melanjutkan perjalanan lagi ke sekolah tujuan.
“Perjalanan dari Jambi ke Tanjung saja sudah sekitar tiga jam. Setelah itu masih harus menyeberang pakai ketek, lalu lanjut lagi sekitar satu jam,” ujarnya.
PILIH KEMBALI MENJADI GURU
Rasyidi sebelumnya menjabat sebagai kepala sekolah di SD 121 Mekar Jaya. Setelah mempertimbangkan kondisi penempatan, ia memilih kembali menjadi guru di sekolah lama daripada melanjutkan jabatan kepala sekolah di lokasi baru.
“Lebih nyaman jadi guru,” katanya singkat.
Ia juga menegaskan tidak mendapat penjelasan rinci terkait lokasi penempatan sebelum pelantikan berlangsung. Menurutnya, informasi baru ia ketahui setelah keputusan final keluar.
“Tidak ada penjelasan detail sebelumnya. Tahu-tahu sudah dilantik dan langsung ditempatkan,” jelasnya.
PENGUNDURAN DIRI BERJAMAAH, PICU SPEKULASI PUBLIK
Rasyidi mengaku menjadi salah satu pihak pertama yang mengajukan pengunduran diri, kemudian diikuti rekan-rekan lainnya dalam waktu berdekatan.
“Saya yang pertama atau kedua mengundurkan diri, setelah itu banyak yang ikut,” ungkapnya.
Gelombang pengunduran diri ini kemudian memunculkan berbagai spekulasi di masyarakat. Sebagian warga mempertanyakan pola penempatan yang dianggap kurang mempertimbangkan kondisi geografis dan aksesibilitas. Isu lain juga muncul terkait dugaan adanya praktik tidak resmi dalam proses penentuan lokasi jabatan, meski belum ada bukti yang menguatkan.
KETIDAKPASTIAN MEKANISME PENEMPATAN JADI SOROTAN
Para kepala sekolah yang mundur mengaku tidak memahami sepenuhnya mekanisme penempatan sebelum pelantikan dilakukan. Kondisi ini menambah kritik terhadap transparansi proses rotasi dan promosi jabatan di lingkungan pendidikan daerah.
Situasi ini kini mendorong publik menunggu penjelasan resmi dari pemerintah Kabupaten Muaro Jambi terkait dasar penempatan serta langkah tindak lanjut atas pengunduran diri massal tersebut.
DAMPAK TERHADAP LAYANAN PENDIDIKAN
Pengunduran diri mendadak ini berpotensi mengganggu stabilitas manajemen sekolah di sejumlah wilayah. Kekosongan jabatan kepala sekolah dapat berdampak pada pengambilan keputusan di tingkat satuan pendidikan, termasuk proses administrasi dan program sekolah.
FAQ
1. Mengapa 13 kepala sekolah mengundurkan diri?
Sebagian besar mengaku keberatan dengan lokasi penempatan yang jauh dan sulit dijangkau.
2. Kapan mereka dilantik?
Pelantikan berlangsung pada Senin, 18 Mei 2026.
3. Apakah semua kepala sekolah baru ikut mundur?
Tidak. Hanya sebagian kecil, sekitar 13 orang dari ratusan yang dilantik.
4. Apa alasan utama yang disampaikan salah satu kepala sekolah?
Ia menyebut jarak tempuh yang jauh dan akses transportasi yang sulit menjadi faktor utama.
5. Bagaimana tanggapan pemerintah daerah?
Hingga kini publik masih menunggu klarifikasi resmi dari pihak Pemkab Muaro Jambi.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









