JAKARTA – Amerika Serikat (AS) melalui Pentagon memperluas strategi pengamanan pasokan mineral penting dengan membidik Malaysia sebagai salah satu pusat produksi tanah jarang berat. Langkah ini muncul di tengah upaya Washington mengurangi ketergantungan global terhadap China yang selama ini menguasai rantai pasok mineral strategis tersebut.
Lynas Jadi Kunci Pasokan Non-China
Perhatian Pentagon mengarah ke perusahaan asal Australia, Lynas Rare Earths, yang sudah lama beroperasi di Kuantan, Malaysia. Perusahaan ini mulai memproduksi logam tanah jarang berat yang sebelumnya hampir sepenuhnya dikuasai China dalam proses pemurnian.
CEO Lynas, Amanda Lacaze, menegaskan bahwa dunia belum mampu memisahkan logam tanah jarang berat di luar China selama dua dekade terakhir. Kondisi itu membuat posisi Beijing sangat dominan dalam industri strategis global.
Ketegangan Global Picu Kekhawatiran Pasokan
Ketergantungan dunia pada China menimbulkan risiko besar. Saat Beijing menghentikan ekspor beberapa unsur tanah jarang di tengah tensi dagang tahun lalu, industri otomotif di Amerika Serikat dan Eropa langsung mengalami gangguan produksi.
Situasi itu mendorong Pentagon bergerak cepat untuk mengamankan pasokan jangka panjang, terutama untuk kebutuhan militer dan industri teknologi tinggi.
Kontrak Ratusan Juta Dolar AS
Pentagon kemudian menyepakati kontrak awal senilai sekitar 96 juta dolar AS dengan Lynas pada Maret 2026. Kesepakatan ini bertujuan memastikan pasokan mineral strategis tetap mengalir ke Amerika Serikat tanpa bergantung pada China.
Selain Lynas, perusahaan asal AS MP Materials juga mengembangkan fasilitas pemurnian tanah jarang di Nevada. Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi dalam waktu dekat untuk memperkuat rantai pasok domestik.
Samarium hingga Disprosium Jadi Andalan
Lynas mencatat kemajuan penting dengan memproduksi samarium oksida, salah satu elemen penting dalam industri pertahanan. Material ini digunakan untuk magnet tahan panas pada mesin jet tempur dan sistem rudal.
Selain itu, unsur seperti terbium dan disprosium juga memiliki nilai tinggi. Kedua material ini mendukung performa magnet pada suhu ekstrem, terutama untuk pesawat dan kendaraan militer modern.
Tantangan Besar di Proses Pemurnian
Meski penambangan tanah jarang terjadi di banyak negara, proses pemurnian tetap menjadi tantangan utama. Proses ini membutuhkan ratusan tahap kimia yang melibatkan penggunaan asam industri dalam jumlah besar.
Lynas sebelumnya hanya mengolah tanah jarang ringan di Malaysia, sementara pemurnian unsur berat masih dilakukan di China. Namun, fasilitas baru di Kuantan kini memungkinkan perusahaan melakukan pemrosesan penuh secara mandiri.
Persaingan Global Semakin Ketat
Amerika Serikat juga memperluas kerja sama di kawasan lain, termasuk Amerika Selatan. Pemerintah AS memberikan dukungan finansial besar untuk proyek tambang di Brasil dan mendorong investasi di sektor mineral kritis.
Di sisi lain, pemerintah AS menetapkan tenggat waktu hingga 2027 untuk memastikan rantai pasok magnet bebas dari bahan asal China, terutama untuk kebutuhan pertahanan.
Momentum Masih Awal
Para ahli menilai upaya kemandirian tanah jarang masih berada pada tahap awal. Meski investasi dan proyek baru terus bermunculan, industri ini membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum benar-benar lepas dari dominasi China.
Upaya Pentagon di Malaysia menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun rantai pasok mineral strategis yang lebih aman, stabil, dan tidak bergantung pada satu negara.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









