PADANG – Warga Kelurahan Pasie Nan Tigo di Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, membangun sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas yang berjalan mandiri dari tingkat rumah tangga. Model ini kemudian mengantarkan Bank Sampah Unit Pasie Nan Tigo meraih penghargaan pada Padang Rancak Award 2026 Sesi 1.
Wali Kota Fadly Amran menyerahkan penghargaan tersebut dalam rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 di Balai Kota Padang, Rabu (20/5/2026).
Sistem Warga Jadi Pondasi Pengelolaan Lingkungan
Berbeda dari pendekatan konvensional yang bertumpu pada pengangkutan sampah, warga Pasie Nan Tigo memilih membangun sistem dari bawah. Mereka membentuk kebiasaan memilah sampah langsung dari rumah dan mengatur alur pengumpulan secara kolektif.
Setiap rumah tangga menyetorkan sampah terpilah ke unit bank sampah lingkungan. Pengurus kemudian mencatat, mengelola, dan mengarahkan sampah ke jalur pemanfaatan ulang atau penjualan bahan daur ulang.
Direktur Bank Sampah Unit Pasie Nan Tigo, Maivita, menilai kekuatan utama sistem ini terletak pada kedisiplinan warga.
“Warga bergerak bersama. Mereka tidak menunggu instruksi, tetapi sudah membentuk kebiasaan sendiri dalam mengelola sampah,” kata Maivita
Kolaborasi Sosial Perkuat Ketahanan Lingkungan
Model pengelolaan di Pasie Nan Tigo tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan. Warga juga membangun pola kerja sama sosial yang memperkuat ketahanan komunitas.
Kelompok warga secara rutin melakukan kegiatan pengumpulan, pemilahan, hingga pengolahan sederhana. Aktivitas ini menciptakan ruang interaksi sosial yang memperkuat solidaritas antar warga.
Maivita menyebut sistem ini membuat pengelolaan sampah tidak lagi bergantung pada satu lembaga, melainkan tumbuh sebagai gerakan warga.
Penghargaan Jadi Validasi Gerakan Komunitas
Padang Rancak Award 2026 menilai berbagai inovasi lingkungan yang muncul dari tingkat kelurahan. Sistem berbasis komunitas seperti di Pasie Nan Tigo mendapat perhatian karena mampu berjalan konsisten tanpa ketergantungan besar pada intervensi eksternal.
Pemerintah Kota Padang melihat model ini sebagai contoh praktik baik yang bisa direplikasi di wilayah lain.
Perubahan Perilaku Jadi Kunci Utama
Keberhasilan program tidak hanya bergantung pada sistem teknis, tetapi juga perubahan perilaku warga. Kesadaran memilah sampah dari rumah menjadi fondasi yang memperkuat seluruh rantai pengelolaan.
Warga kini tidak hanya membuang sampah, tetapi juga mengelolanya sebagai bagian dari tanggung jawab lingkungan sehari-hari.
Dampak ke Depan untuk Kota Padang
Model Pasie Nan Tigo menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat berkembang menjadi sistem sosial yang produktif. Pendekatan ini membuka peluang untuk memperkuat ketahanan lingkungan perkotaan sekaligus mengurangi beban tempat pembuangan akhir.
Pemerintah kota mendorong wilayah lain mengadopsi pendekatan serupa agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada tahap pengangkutan, tetapi berkembang menjadi gerakan warga yang berkelanjutan.
FAQ
1. Apa yang membuat sistem di Pasie Nan Tigo berbeda?
Warga membangun sistem dari tingkat rumah tangga dengan partisipasi aktif, bukan hanya mengandalkan layanan pengangkutan sampah.
2. Apa fokus utama pengelolaan di wilayah ini?
Fokusnya pada pemilahan, pengumpulan mandiri, dan pemanfaatan kembali sampah berbasis komunitas.
3. Mengapa program ini mendapat penghargaan?
Karena sistemnya berjalan konsisten, melibatkan warga secara aktif, dan bisa direplikasi di wilayah lain.
4. Apa dampak sosial dari program ini?
Program ini memperkuat kerja sama antar warga dan meningkatkan kepedulian lingkungan.
5. Apa harapan pemerintah kota?
Pemerintah berharap model ini berkembang di wilayah lain untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Padang.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









