MERANGIN – Penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mulai memberi tekanan terhadap rantai usaha sawit di Kabupaten Merangin, Jambi. Tidak hanya petani, para pengepul juga mengaku menghadapi margin keuntungan yang semakin tipis di tengah tingginya biaya distribusi dan operasional lapangan.
Kondisi tersebut semakin terasa saat musim hujan. Akses menuju kebun menjadi lebih sulit sehingga biaya angkut hasil panen meningkat. Di sisi lain, harga jual TBS ke pabrik belum menunjukkan penguatan yang signifikan.
Sejumlah pelaku usaha di tingkat pengepul menilai situasi saat ini membutuhkan perhatian pemerintah karena kenaikan biaya operasional tidak diikuti kenaikan harga jual yang memadai.
Margin Keuntungan Pengepul Menyusut
Salah seorang pengepul TBS di Desa Pulau Rengas, Kecamatan Bangko Barat, Ardian Pradana Putra, mengatakan harga TBS yang beredar di tingkat petani saat ini mengalami penurunan dibanding beberapa waktu sebelumnya.
Menurut Ardian, harga TBS yang dibeli dari petani, termasuk biaya pengangkutan dari kebun hingga ke lokasi penampungan pengepul, berada di kisaran Rp2.420 per kilogram.
“Harga yang kami beli dari petani, mulai dari proses pengangkutan di kebun hingga sampai ke lokasi pengepul, berkisar Rp2.420 per kilogram,” kata Ardian kepada wartawan, Selasa (2/6/2026).
Ia menjelaskan, harga jual TBS dari pengepul ke pabrik saat ini berada di kisaran Rp2.870 per kilogram. Selisih harga tersebut terlihat cukup besar, namun berbagai biaya operasional membuat keuntungan yang diterima pengepul tidak terlalu besar.
“Untuk harga jual TBS dari pengepul ke pabrik saat ini sekitar Rp2.870 per kilogram, sedangkan harga beli dari petani sekitar Rp2.420 per kilogram. Selisihnya hanya sekitar Rp450 per kilogram, sementara harga dari pabrik juga masih fluktuatif,” ujarnya.
Musim Hujan Tambah Beban Distribusi
Selain penurunan harga, pengepul juga menghadapi tantangan distribusi yang semakin berat saat curah hujan tinggi.
Ardian mengatakan kendaraan pengangkut sering kesulitan menjangkau lokasi kebun karena kondisi jalan yang licin dan berlumpur. Situasi tersebut membuat waktu angkut menjadi lebih lama dan biaya operasional meningkat.
“Apalagi saat musim hujan, kendaraan untuk mengangkut buah TBS dari kebun petani cukup sulit masuk. Kendaraan juga terkadang mengalami kerusakan sehingga membutuhkan biaya perbaikan. Belum lagi biaya bahan bakar yang juga meningkat,” katanya.
Menurut dia, biaya perawatan kendaraan, harga bahan bakar minyak (BBM), hingga jarak kebun yang cukup jauh menjadi faktor utama yang menggerus keuntungan pengepul.
Harapan untuk Stabilitas Harga Sawit
Di tengah kondisi tersebut, para pengepul berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga TBS agar usaha di sektor sawit tetap berjalan sehat.
Ardian menilai harga TBS saat ini belum sebanding dengan berbagai biaya produksi yang harus ditanggung, baik oleh petani maupun pengepul. Selain biaya angkut dan BBM, harga pupuk yang masih relatif tinggi juga menambah beban pelaku usaha sawit di lapangan.
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat menghadirkan kebijakan yang mampu menjaga keseimbangan harga sehingga seluruh mata rantai industri sawit, mulai dari petani hingga pengepul, tetap memperoleh keuntungan yang layak.
FAQ
Mengapa harga TBS sawit di Merangin turun?
Penurunan harga dipengaruhi kondisi pasar dan harga pembelian pabrik yang masih berfluktuasi.
Berapa harga TBS yang dibeli pengepul dari petani?
Saat ini harga TBS yang dibeli pengepul dari petani berkisar Rp2.420 per kilogram, termasuk biaya pengangkutan dari kebun.
Berapa harga jual TBS pengepul ke pabrik?
Harga jual TBS dari pengepul ke pabrik berada di kisaran Rp2.870 per kilogram.
Apa kendala terbesar yang dihadapi pengepul?
Kendala utama meliputi tingginya biaya BBM, biaya perawatan kendaraan, kondisi jalan saat musim hujan, dan jarak kebun yang cukup jauh.
Apa harapan pelaku usaha sawit?
Mereka berharap pemerintah dapat membantu menjaga stabilitas harga TBS agar sejalan dengan kenaikan biaya operasional dan produksi.(Tim)









