JAKARTA — PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) bergerak cepat memperbaiki struktur permodalan setelah perusahaan mencatat kerugian selama tiga tahun berturut-turut. Emiten farmasi dan alat kesehatan milik Rejuve Global Investment itu menyiapkan aksi korporasi berupa Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
Rights Issue Tambah 5,7 Miliar Saham Baru
PYFA akan menerbitkan sekitar 5,7 miliar saham baru dalam aksi rights issue ini. Jumlah itu setara dengan 33,65% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh setelah aksi korporasi selesai.
Manajemen PYFA menegaskan rencana ini bertujuan memperkuat struktur modal sekaligus mendukung ekspansi usaha. Perusahaan juga membuka peluang penggunaan dana untuk kebutuhan akuisisi strategis.
Selain saham baru, PYFA juga menerbitkan 3,75 miliar Waran Seri II. Jumlah itu setara 33,41% dari modal setelah rights issue. Perusahaan menetapkan harga dan mekanisme pelaksanaan waran untuk mendukung pendanaan jangka menengah.
Dana Waran Fokus ke Operasional
PYFA mengarahkan hasil pelaksanaan Waran Seri II untuk modal kerja dan biaya operasional. Manajemen ingin memastikan likuiditas perusahaan tetap terjaga di tengah tekanan kinerja keuangan.
Perusahaan menilai tambahan dana dari waran dapat memperkuat operasional harian, terutama di sektor produksi dan distribusi farmasi yang membutuhkan modal kerja besar.
RUPSLB Beri Lampu Hijau
Pemegang saham PYFA menyetujui seluruh rencana rights issue dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 22 April 2026. Rapat itu juga memberikan wewenang penuh kepada direksi untuk menentukan jadwal pelaksanaan, rasio penerbitan, serta pembeli siaga.
Manajemen menjadwalkan efektif rights issue mulai 29 Juni 2026. PYFA menetapkan tanggal pencatatan (recording date) pada 9 Juli 2026. Perusahaan juga menargetkan pencatatan saham dan waran di Bursa Efek Indonesia pada 13 Juli 2026.
Risiko Dilusi bagi Pemegang Saham Lama
PYFA mengingatkan pemegang saham lama mengenai potensi dilusi kepemilikan. Jika investor tidak mengeksekusi haknya, porsi kepemilikan bisa turun antara 33,65% hingga 45,69%.
Kondisi ini membuat investor perlu mempertimbangkan partisipasi dalam rights issue agar tidak kehilangan porsi signifikan di perusahaan.
Kinerja Masih Tertekan, Ekuitas Tipis
PYFA menghadapi tekanan kinerja dalam tiga tahun terakhir. Perusahaan terakhir mencatat laba bersih pada 2022 sebesar Rp275 miliar, kemudian kembali membukukan kerugian pada tahun-tahun berikutnya.
Hingga akhir 2025, PYFA mencatat total aset sebesar Rp6,77 triliun. Namun, perusahaan hanya memiliki ekuitas Rp985 miliar karena liabilitas yang mencapai Rp5,78 triliun.
Kondisi ini menunjukkan tekanan leverage yang tinggi dan kebutuhan pendanaan tambahan untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Strategi Pemulihan Bisnis
PYFA menempatkan rights issue sebagai bagian dari strategi pemulihan jangka panjang. Perusahaan berharap tambahan modal dapat memperbaiki struktur neraca, memperkuat ekspansi, serta mendukung efisiensi operasional.
Dengan langkah ini, PYFA mencoba keluar dari tekanan rugi beruntun sekaligus meningkatkan daya saing di industri farmasi dan alat kesehatan yang semakin kompetitif.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









