JAKARTA – Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (BBNI) melemah pada perdagangan terbaru. Harga saham BBNI turun 80 poin atau 2,11 persen ke level Rp3.720 per saham pada penutupan perdagangan. Tekanan jual muncul di tengah sentimen pelemahan saham perbankan besar di Bursa Efek Indonesia.
Pergerakan Harga Saham BBNI
BBNI membuka perdagangan di level Rp3.790 per saham. Saham bank pelat merah ini sempat menyentuh level tertinggi harian di Rp3.800. Namun tekanan jual meningkat sejak sesi perdagangan berjalan. Harga kemudian bergerak turun hingga menyentuh level terendah di Rp3.720.
Investor mencermati volatilitas saham BBNI yang bergerak dalam rentang terbatas. Dalam 52 minggu terakhir, saham ini mencatat level terendah di Rp3.510 dan level tertinggi di Rp4.730. Pergerakan ini menunjukkan saham masih berada dalam fase fluktuatif mengikuti dinamika pasar.
Kinerja Keuangan Tetap Tumbuh
Meski harga saham melemah, kinerja fundamental BNI masih menunjukkan pertumbuhan. Perseroan mencatat pendapatan sebesar Rp12,99 triliun pada kuartal terbaru dengan kenaikan 2,76 persen secara tahunan (year on year).
BNI juga membukukan peningkatan laba per saham atau earnings per share (EPS) sebesar 0,15 persen dan berhasil melampaui ekspektasi pasar. Kinerja ini memperlihatkan stabilitas bisnis inti perbankan di tengah tekanan pasar global.
Valuasi dan Dividen Menarik Investor
Dari sisi valuasi, BBNI mencatat rasio price to earnings (P/E) sebesar 6,92. Angka ini menunjukkan saham masih tergolong murah dibandingkan sektor perbankan regional.
Selain itu, BBNI menawarkan dividen yield sebesar 9,39 persen. Angka ini menarik perhatian investor jangka panjang yang mencari pendapatan pasif dari pembagian dividen.
Total dividen triwulanan tercatat sebesar 87,33, yang memperkuat daya tarik saham bank BUMN ini di mata investor institusi maupun ritel.
Sentimen Sektor Perbankan Ikut Menekan
Pergerakan saham BBNI juga mengikuti tren saham bank besar lainnya. Saham PT Bank Mandiri (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan PT Bank Central Asia (BBCA) ikut mengalami tekanan dalam perdagangan yang sama.
IHSG sendiri juga melemah 2,03 persen, yang menandakan tekanan tidak hanya terjadi pada sektor perbankan, tetapi juga merata ke seluruh sektor.
Investor Tunggu Arah Kebijakan Global
Pelaku pasar kini menunggu arah kebijakan suku bunga global dan stabilitas ekonomi domestik. Faktor eksternal seperti inflasi dan kebijakan The Fed masih menjadi perhatian utama investor.
Analis menilai saham perbankan tetap memiliki fundamental kuat, namun volatilitas jangka pendek masih akan terjadi mengikuti sentimen global.
Kesimpulan
Saham BBNI mengalami koreksi harian, namun kinerja fundamental tetap solid. Investor masih memantau peluang akumulasi di tengah tekanan pasar. Dengan valuasi rendah dan dividen tinggi, BBNI tetap masuk radar saham jangka panjang di sektor perbankan Indonesia.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









