Ancaman Inflasi Pangan Makin Nyata, DBS Minta Dunia Usaha Perkuat Strategi Hadapi Disrupsi

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 1 Mei 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Tekanan global mulai mengarah pada potensi lonjakan inflasi pangan. Bank DBS Indonesia melihat kondisi ini sebagai sinyal serius bagi pelaku usaha untuk segera memperkuat strategi bisnis dan rantai pasok.

Presiden Direktur Bank DBS Indonesia, Lim Chu Chong, menegaskan dunia usaha saat ini menghadapi situasi yang sangat dinamis. Ia menyebut ketegangan geopolitik, perubahan iklim, dan gangguan rantai pasok sebagai faktor utama yang mendorong ketidakpastian.

Disrupsi Global Tekan Rantai Pasok

Chong menjelaskan kenaikan harga energi berdampak langsung pada biaya logistik. Harga bahan bakar yang terus meningkat membuat biaya transportasi melonjak dan menekan daya saing produk.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah ikut memperburuk kondisi. Pelaku usaha harus menanggung biaya impor yang lebih tinggi, terutama untuk bahan baku pangan dan energi.

“Situasi ini menciptakan tekanan besar pada rantai pasok dan berpotensi memicu inflasi pangan,” ujar Chong dalam acara diskusi di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Diversifikasi Jadi Kunci

Chong mendorong pelaku usaha untuk tidak bergantung pada satu sumber pasokan. Ia menilai diversifikasi rantai pasok dapat membantu perusahaan menghadapi guncangan global.

Baca Juga :  Promo Shopee 14 Juli 2026: Diskon Apple Rp5 Juta, Cashback Rp1 Juta dan Gratis Ongkir Bikin Belanja Makin Hemat

Menurutnya, perusahaan perlu mengatur ulang jaringan distribusi dan memperkuat kemitraan strategis. Langkah ini dapat meningkatkan ketahanan bisnis dalam jangka panjang.

“Perusahaan harus mampu beradaptasi dengan cepat dan mengelola risiko secara tepat,” tegasnya.

DBS Siapkan Dukungan Pembiayaan

Bank DBS Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendukung dunia usaha. Chong menyebut DBS menyediakan solusi pembiayaan yang fleksibel dan sesuai kebutuhan sektor bisnis.

DBS juga membantu nasabah dalam mengelola risiko pasar, termasuk fluktuasi nilai tukar dan perubahan harga komoditas. Selain itu, bank ini memberikan insight berbasis data agar pelaku usaha bisa mengambil keputusan yang lebih akurat.

“Kami ingin memastikan klien mampu bertahan dan tetap tumbuh di tengah ketidakpastian global,” kata Chong.

Fokus pada Ketahanan Pangan

DBS melihat sektor pangan sebagai prioritas utama. Chong menilai ketahanan pangan harus menjadi fokus bersama, terutama di tengah ancaman krisis global.

Baca Juga :  Alarm untuk Wilayah 3TP! Anggaran Angkutan Perintis 2027 Belum Memadai, Konektivitas Nasional Terancam

Melalui konektivitas di kawasan Asia, DBS menghubungkan pelaku usaha dengan peluang pasar dan sumber pembiayaan. Pendekatan ini membantu perusahaan mengoptimalkan alokasi modal dan memperkuat rantai pasok lintas negara.

Stabilitas Jadi Kekuatan

DBS menempatkan stabilitas sebagai fondasi utama bisnisnya. Selama 17 tahun berturut-turut, lembaga internasional menobatkan DBS sebagai bank teraman di Asia.

Chong menegaskan pencapaian tersebut mencerminkan konsistensi DBS dalam menjaga kinerja dan kepercayaan nasabah.

Dunia Usaha Diminta Lebih Adaptif

Chong mengingatkan pelaku usaha agar tidak menunggu situasi memburuk. Ia meminta perusahaan segera melakukan transformasi dan memperkuat strategi bisnis.

Ia menilai kemampuan beradaptasi menjadi faktor penentu keberlangsungan usaha di tengah ketidakpastian global.

“Pelaku usaha harus bergerak cepat, memperkuat strategi, dan memanfaatkan peluang yang ada,” tutupnya.

Dengan tekanan global yang terus meningkat, dunia usaha kini berada di persimpangan penting. Langkah adaptif dan strategi yang tepat akan menentukan siapa yang mampu bertahan dan tumbuh di tengah ancaman inflasi pangan.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Mahyeldi Bidik Ekonomi Sumbar 7,3 Persen, Gerbang Barat Indonesia Jadi Andalan
Mahyeldi Ungkap Kekuatan Besar Sumatera di IMT-GT, Targetnya Bukan Sekadar Kerja Sama
Ekspor Kopi Robusta Bengkulu ke Italia Tembus 19,2 Ton, Pasar Eropa Mulai Terbuka
Dari Stan AOE 2026, Yulian Efi Pacu Produk Solok Selatan Buru Pasar Nasional
SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler
Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha
PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 16:37 WIB

Mahyeldi Bidik Ekonomi Sumbar 7,3 Persen, Gerbang Barat Indonesia Jadi Andalan

Jumat, 11 September 2026 - 20:59 WIB

Mahyeldi Ungkap Kekuatan Besar Sumatera di IMT-GT, Targetnya Bukan Sekadar Kerja Sama

Selasa, 8 September 2026 - 08:00 WIB

Ekspor Kopi Robusta Bengkulu ke Italia Tembus 19,2 Ton, Pasar Eropa Mulai Terbuka

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:14 WIB

Dari Stan AOE 2026, Yulian Efi Pacu Produk Solok Selatan Buru Pasar Nasional

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:17 WIB

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler

Berita Terbaru