BENGKULU – Pemerintah Provinsi Bengkulu memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menekan laju inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul adha 1447 H. Langkah ini menjadi fokus utama agar harga kebutuhan pokok tetap stabil dan pasokan aman di tengah meningkatnya permintaan masyarakat.
Asisten II Bidang Pembangunan dan Ekonomi Setda Provinsi Bengkulu, RA Denni, membuka rapat evaluasi program pengendalian inflasi daerah di Ruang Rapat Merah Putih Kantor Gubernur, Selasa (28/4). Ia mewakili Sekretaris Daerah dalam forum strategis tersebut.
Rapat menghadirkan perwakilan Bank Indonesia, BMKG, BPS, Perum Bulog, serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). Seluruh peserta membahas kondisi terkini dan langkah antisipatif menjelang Idul adha.
Fokus pada Stabilitas Harga dan Pasokan
RA Denni menegaskan pentingnya langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga. Ia meminta seluruh pihak tidak hanya memetakan persoalan, tetapi juga langsung mengeksekusi solusi di lapangan.
Menurutnya, pemerintah daerah harus memastikan distribusi pangan berjalan lancar. Ia menilai gangguan distribusi dapat memicu lonjakan harga, terutama pada komoditas strategis seperti cabai, bawang, dan minyak goreng.
“Koordinasi lintas sektor harus kita perkuat. Kita harus pastikan masyarakat mendapatkan bahan pokok dengan harga terjangkau,” ujar Denni.
Ia juga menekankan kesiapan menghadapi Idul adha harus dimulai dari sekarang. Pemerintah daerah perlu mengantisipasi lonjakan permintaan yang biasa terjadi menjelang hari besar keagamaan.
Peran Strategis Lembaga Mitra
Dalam rapat tersebut, berbagai lembaga mitra menyampaikan peran masing-masing. Bank Indonesia memberikan analisis inflasi dan proyeksi ke depan. BMKG menyampaikan potensi cuaca yang dapat memengaruhi produksi pangan. BPS menyajikan data statistik terkini, sementara Bulog memastikan ketersediaan stok pangan.
Sinergi antar lembaga ini dinilai penting untuk menghasilkan kebijakan yang tepat sasaran. Pemerintah daerah mengandalkan data dan analisis tersebut sebagai dasar pengambilan keputusan.
Inflasi Bengkulu Masih Terkendali
Deputi Perwakilan Bank Indonesia, Irfan, menyampaikan bahwa inflasi nasional pada Maret 2026 mencapai sekitar 3,48 persen secara tahunan (year on year). Angka tersebut masih berada dalam rentang target yang ditetapkan.
Sementara itu, inflasi di Bengkulu tercatat lebih rendah. Inflasi bulanan mencapai 0,28 persen, sedangkan inflasi tahunan berada di angka 2,85 persen.
Irfan menjelaskan bahwa kenaikan inflasi bulanan dipicu oleh peningkatan permintaan selama Ramadan dan IdulFitri. Kondisi ini termasuk pola musiman yang terjadi setiap tahun.
Komoditas Pemicu dan Proyeksi ke Depan
Sejumlah komoditas mencatat kenaikan harga, terutama cabai merah, bawang merah, dan minyak goreng. Di sisi lain, harga beras, daging ayam, dan telur masih relatif stabil.
Bank Indonesia memproyeksikan inflasi tetap terkendali dalam beberapa bulan ke depan. Namun, Irfan mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diwaspadai.
Faktor musiman, fluktuasi harga energi, serta potensi fenomena El Niño dapat memengaruhi produksi dan distribusi pangan. Kondisi tersebut berpotensi menekan pasokan dan mendorong kenaikan harga.
Penguatan Langkah Antisipatif
Pemerintah Provinsi Bengkulu berkomitmen memperkuat langkah antisipatif. Upaya ini mencakup operasi pasar, pemantauan harga harian, serta penguatan distribusi pangan ke daerah-daerah.
RA Denni menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak boleh lengah. Ia meminta seluruh OPD bergerak cepat dan responsif terhadap perubahan di lapangan.
“Kita harus menjaga momentum ini. Inflasi masih terkendali, tapi kita tidak boleh lengah,” tegasnya.
Dengan sinergi yang solid, Pemprov Bengkulu optimistis mampu menjaga stabilitas harga dan memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi menjelang Idul adha 1447 H.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









