Rupiah 8 Mei 2026 Bertahan di Kisaran Rp17.300 per Dolar AS

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 8 Mei 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada perdagangan 8 Mei 2026. Mata uang Indonesia bergerak di kisaran Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS), seiring tekanan kuat dari pasar global yang masih memengaruhi arus modal ke negara berkembang.

Pergerakan ini menunjukkan rupiah masih berada dalam fase fluktuatif. Pelaku pasar memantau setiap perubahan kebijakan moneter global, terutama dari Amerika Serikat, yang terus menjadi penentu arah mata uang dunia.

Rupiah Bergerak di Zona Rp17.300

Pada perdagangan hari ini, rupiah bergerak stabil di rentang sekitar Rp17.280 hingga Rp17.370 per dolar AS. Pelaku pasar valuta asing mencatat level tengah berada di kisaran Rp17.300.

Kondisi ini mencerminkan pasar yang masih menunggu katalis baru. Investor belum mengambil posisi agresif karena mereka menunggu arah kebijakan suku bunga global berikutnya.

Di dalam negeri, pelaku pasar tetap mencermati langkah-langkah stabilisasi dari otoritas moneter. Fluktuasi masih terjadi, tetapi pergerakan rupiah tidak menunjukkan gejolak ekstrem dalam beberapa sesi terakhir.

Dolar AS Masih Menekan Mata Uang Negara Berkembang

Dolar Amerika Serikat tetap mempertahankan kekuatannya terhadap banyak mata uang dunia. Kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat membuat investor global tetap menempatkan dana mereka pada aset dolar.

Baca Juga :  Bank Enggan Biayai 50 Pesawat Baru

Kondisi ini mendorong tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Arus modal cenderung mengalir ke instrumen yang dianggap lebih aman, terutama obligasi dan deposito berbasis dolar.

Selain itu, ketidakpastian ekonomi global juga ikut memperkuat posisi dolar. Investor global memilih menunggu kepastian arah kebijakan moneter sebelum kembali masuk ke pasar berisiko.

Bank Indonesia Jaga Stabilitas Pasar

Bank Indonesia terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai langkah intervensi di pasar valuta asing. Selain itu, Bank sentral memantau pergerakan rupiah setiap hari dan merespons jika volatilitas meningkat tajam.

Bank Indonesia juga mengarahkan kebijakan moneter untuk menjaga inflasi tetap terkendali. Selain itu, mereka memperkuat koordinasi dengan pemerintah agar stabilitas makroekonomi tetap terjaga.

Langkah stabilisasi ini bertujuan menjaga kepercayaan investor domestik maupun asing. Stabilitas nilai tukar menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga daya tarik investasi di Indonesia.

Pelaku Pasar Tunggu Arah Kebijakan Global

Pelaku pasar menahan diri dan tidak melakukan aksi besar dalam perdagangan hari ini. Mereka menunggu sinyal baru dari bank sentral Amerika Serikat terkait kemungkinan penurunan suku bunga.

Jika Amerika Serikat mulai melonggarkan kebijakan moneternya, rupiah berpeluang mendapat ruang penguatan. Sebaliknya, jika suku bunga tetap tinggi, tekanan terhadap rupiah bisa bertahan lebih lama.

Baca Juga :  Utang Pinjol Tembus Rp100 Triliun, OJK Ungkap Risiko Kredit Macet

Investor juga memperhatikan data inflasi dan pertumbuhan ekonomi global. Setiap rilis data ekonomi berpotensi mengubah arah pergerakan mata uang dalam jangka pendek.

Faktor Domestik Jadi Penopang

Meski tekanan global masih kuat, beberapa faktor domestik memberi penopang bagi rupiah. Aktivitas ekspor yang stabil dan aliran investasi yang masih masuk membantu menjaga keseimbangan pasar valas.

Pemerintah juga terus mendorong sektor riil agar tetap tumbuh di tengah tekanan global. Kebijakan fiskal diarahkan untuk menjaga konsumsi domestik tetap kuat.

Selain itu, pelaku pasar menilai cadangan devisa Indonesia masih cukup untuk menopang stabilitas nilai tukar dalam jangka pendek hingga menengah.

Prospek Rupiah ke Depan

Ke depan, rupiah berpotensi bergerak dalam pola fluktuatif dengan kecenderungan sensitif terhadap sentimen global. Pasar akan merespons setiap perubahan kebijakan moneter negara maju, terutama Amerika Serikat.

Jika tekanan dolar melemah, rupiah bisa mendapatkan ruang penguatan. Namun jika kondisi global tetap ketat, rupiah kemungkinan bertahan di kisaran tinggi seperti saat ini.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar memilih strategi hati-hati sambil menunggu kepastian arah ekonomi global. Stabilitas tetap menjadi fokus utama di tengah dinamika pasar valuta asing yang cepat berubah.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler
Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha
PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri
Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan
Ojol Bisa Punya Motor Listrik Tanpa DP, Bunga Cicilan Ikut Dipangkas Prabowo
Sawit Tua Mulai Ditebang, Harapan Baru Petani Dharmasraya Tumbuh dari PSR Tahap III
Industri Alas Kaki Indonesia Melaju 11,3 Persen, Ekspansi Besar Menanti di Semester II 2026
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:17 WIB

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:47 WIB

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Selasa, 18 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:58 WIB

PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan

Berita Terbaru