Inflasi Kerinci Masih Tinggi, HIMSAK Soroti Lemahnya Tata Kelola Pangan

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 3 Mei 2026 - 21:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KERINCI – Kabupaten Kerinci kembali menghadapi sorotan serius terkait tingginya angka inflasi yang terus bertahan di atas rata-rata provinsi. Kondisi ini memicu kritik dari kalangan mahasiswa yang menilai pemerintah daerah belum mampu mengendalikan harga kebutuhan pokok secara efektif.

Inflasi Kerinci Bertahan di Level Tinggi

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Kerinci berada pada level tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pada April 2024, inflasi mencapai 6,09 persen secara tahunan (year-on-year). Angka itu turun tipis menjadi sekitar 5,90 persen pada September 2025 dan masih bertahan di kisaran 5,52 persen pada awal 2026.

Selain inflasi, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kerinci juga tercatat naik hingga 114,35. Kenaikan ini menunjukkan biaya hidup masyarakat terus meningkat, terutama pada kebutuhan dasar.

Harga Pangan Tekan Daya Beli Masyarakat

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi di Kerinci. Komoditas seperti cabai, beras, dan ikan air tawar memicu lonjakan harga di pasar.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Hari Ini 25 Juni 2026 Jalan di Tempat, Banyak Investor Justru Mulai Menambah Simpanan

Masyarakat merasakan langsung dampaknya. Harga kebutuhan pokok naik, sementara pendapatan tidak ikut bergerak signifikan. Kondisi ini membuat daya beli warga semakin tertekan, terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah.

Distribusi Pangan Jadi Sorotan

Kerinci dikenal sebagai daerah agraris dengan potensi pertanian yang kuat. Namun, pasokan hasil pertanian lebih banyak mengalir ke luar daerah tanpa pengaturan yang ketat. Kondisi ini mengurangi ketersediaan barang di pasar lokal.

Akibatnya, masyarakat Kerinci justru membeli hasil bumi dari daerahnya sendiri dengan harga lebih tinggi. Ketidakseimbangan distribusi ini memperparah tekanan inflasi di tingkat lokal.

Petani Terjepit di Tengah Rantai Pasok

Di sisi lain, petani tidak selalu menikmati keuntungan dari tingginya harga di pasar. Saat harga naik di tingkat konsumen, petani tidak otomatis mendapat manfaat yang sama. Sebaliknya, saat panen raya, harga di tingkat petani sering jatuh akibat kelebihan pasokan.

Sekretaris Jenderal Himpunan Mahasiswa Sakti Alam Kerinci (HIMSAK), Iqbal Adi Guna, menilai kondisi ini menunjukkan lemahnya tata niaga pangan di daerah.

Baca Juga :  Tembus 1 Juta UMK, Sertifikasi Halal Gratis Jadi Senjata Baru Pelaku Usaha Rebut Pasar Lebih Luas

“Jika kondisi ini terus berulang tanpa koreksi, maka klaim ‘Pejuang Petani’ hanya menjadi slogan kosong. Petani tetap berada di posisi paling lemah,” kata Iqbal.

Ia juga menilai rantai distribusi yang panjang membuat keuntungan lebih banyak dinikmati perantara, bukan petani sebagai produsen utama.

Desakan Perbaikan Kebijakan Daerah

HIMSAK mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat pengendalian tata niaga pangan. Organisasi mahasiswa itu juga meminta pemerintah menjamin stabilitas pasokan kebutuhan lokal serta memperpendek rantai distribusi hasil pertanian.

Iqbal menegaskan pemerintah daerah harus mengambil peran lebih aktif dalam mengendalikan harga dan melindungi petani.

“Pemerintah tidak boleh hanya menjadi pengamat kenaikan harga. Mereka harus hadir sebagai pengendali agar masyarakat dan petani tidak terus menjadi korban,” ujarnya.

Dengan kondisi inflasi yang masih tinggi, HIMSAK menilai Kerinci membutuhkan langkah kebijakan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan agar potensi daerah sebagai lumbung pangan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakatnya.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler
Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha
PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri
Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan
Ojol Bisa Punya Motor Listrik Tanpa DP, Bunga Cicilan Ikut Dipangkas Prabowo
Sawit Tua Mulai Ditebang, Harapan Baru Petani Dharmasraya Tumbuh dari PSR Tahap III
Industri Alas Kaki Indonesia Melaju 11,3 Persen, Ekspansi Besar Menanti di Semester II 2026
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:17 WIB

SIMPEDA Nasional 2026 Guncang Bengkulu, Ungu Bikin Malam Puncak Makin Spektakuler

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:47 WIB

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Selasa, 18 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:58 WIB

PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan

Berita Terbaru