Rupiah Melemah ke Rp17.300 per Dolar AS pada 3 Mei 2026, Dolar Perkasa Tekan Pasar

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 3 Mei 2026 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali bergerak di level lemah pada awal Mei 2026. Pada perdagangan 3 Mei 2026, rupiah berada di kisaran Rp17.300–Rp17.400 per dolar AS. Tekanan eksternal dan sentimen global mendorong pelemahan mata uang Garuda dalam beberapa hari terakhir.

Rupiah Bertahan di Level Lemah

Data dari Bank Indonesia menunjukkan kurs transaksi berada di rentang Rp17.220 hingga Rp17.410 per dolar AS. Angka ini mencerminkan tekanan yang masih kuat terhadap rupiah setelah sempat menyentuh titik terlemah dalam beberapa bulan terakhir.

Pelaku pasar terus mencermati pergerakan rupiah yang belum menunjukkan penguatan signifikan. Nilai tukar bahkan cenderung stagnan di zona Rp17.000-an sejak akhir April 2026.

Dolar AS Masih Perkasa

Kuatnya dolar AS menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Investor global memilih aset berdenominasi dolar karena imbal hasil yang lebih menarik. Kondisi ini mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca Juga :  Rupiah Menguat Tipis, Dolar AS Bertahan di Rp17.130-an

Selain itu, ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat membuat dolar tetap dominan. Bank sentral AS menjaga kebijakan ketat untuk mengendalikan inflasi, sehingga permintaan terhadap dolar terus meningkat.

Sentimen Global Tekan Mata Uang Asia

Tidak hanya rupiah, sejumlah mata uang Asia juga mengalami tekanan serupa. Ketidakpastian ekonomi global membuat investor cenderung menghindari risiko. Mereka mengalihkan dana ke instrumen yang lebih aman.

Situasi geopolitik dan perlambatan ekonomi global ikut memperburuk sentimen pasar. Kombinasi faktor tersebut menekan hampir seluruh mata uang emerging market.

Respons dan Strategi Bank Indonesia

Bank Indonesia terus menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai kebijakan. Bank sentral aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam volatilitas.

Selain itu, Bank Indonesia juga mengoptimalkan instrumen moneter seperti operasi pasar terbuka. Langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan likuiditas dan stabilitas nilai tukar.

Baca Juga :  BI Rate Diprediksi Bertahan, Ini Daftar Saham Bank yang Layak Diborong

Bank sentral juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga kepercayaan investor. Stabilitas makroekonomi menjadi kunci utama dalam menghadapi tekanan global.

Prospek Rupiah ke Depan

Analis memperkirakan rupiah masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek. Selama dolar AS tetap kuat, ruang penguatan rupiah cenderung terbatas.

Namun, fundamental ekonomi Indonesia yang relatif stabil bisa menahan pelemahan lebih dalam. Pertumbuhan ekonomi, inflasi yang terkendali, dan kinerja ekspor menjadi faktor pendukung.

Pelaku pasar kini menunggu arah kebijakan global dan data ekonomi terbaru. Jika tekanan eksternal mereda, rupiah berpeluang kembali menguat secara bertahap.

Kesimpulan

Per 3 Mei 2026, rupiah berada di kisaran Rp17.300–Rp17.400 per dolar AS. Tekanan global dan dominasi dolar AS masih menjadi faktor utama pelemahan. Bank Indonesia terus menjaga stabilitas melalui intervensi dan kebijakan moneter. Pasar kini menanti sentimen baru yang bisa mengubah arah pergerakan rupiah dalam waktu dekat.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Harga Sawit Kalbar Terbaru 2026 Melonjak, TBS Usia Produktif Tembus Rp3.519 per Kg, Cek Daftar Lengkapnya
Pertamina Jamin Pasokan BBM untuk Koperasi Nelayan Merah Putih, Ekonomi Pesisir Siap Melaju Lebih Kencang
Bengkulu Bidik PAD Baru dari Perkebunan Sawit, Pajak Air Permukaan Mulai Disiapkan untuk 2027
Harga Avtur Turun, Tiket Pesawat Belum Bergeming! Ini Penyebab Tarif Penerbangan Domestik Masih Mahal Juli 2026
Promo Shopee 4 Juli 2026: Diskon 50 Persen, Voucher Rp188 Ribu dan Promo Serba Rp7 Jadi Buruan
Koperasi Siap Kuasai Bisnis Sawit dari Hulu ke Hilir, Pemerintah Bidik Produksi CPO hingga Minyak Goreng
Perpres KopDes Merah Putih Dikebut, Pengamat Ungkap Tantangan Terbesar Justru Bukan Soal Regulasi
30 Ribu Manajer Koperasi Merah Putih Siap Turun ke Desa Mulai Agustus, Pemerintah Kebut Operasional Nasional
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 20:00 WIB

Harga Sawit Kalbar Terbaru 2026 Melonjak, TBS Usia Produktif Tembus Rp3.519 per Kg, Cek Daftar Lengkapnya

Sabtu, 4 Juli 2026 - 18:00 WIB

Pertamina Jamin Pasokan BBM untuk Koperasi Nelayan Merah Putih, Ekonomi Pesisir Siap Melaju Lebih Kencang

Sabtu, 4 Juli 2026 - 11:00 WIB

Bengkulu Bidik PAD Baru dari Perkebunan Sawit, Pajak Air Permukaan Mulai Disiapkan untuk 2027

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:00 WIB

Harga Avtur Turun, Tiket Pesawat Belum Bergeming! Ini Penyebab Tarif Penerbangan Domestik Masih Mahal Juli 2026

Sabtu, 4 Juli 2026 - 07:00 WIB

Promo Shopee 4 Juli 2026: Diskon 50 Persen, Voucher Rp188 Ribu dan Promo Serba Rp7 Jadi Buruan

Berita Terbaru