JAKARTA – Menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI), pelaku pasar memprediksi suku bunga acuan atau BI Rate tetap bertahan di level 4,75 persen. Kondisi ini membuka ruang bagi perbankan untuk memperbaiki margin dan mendorong pemulihan harga saham.
Sepanjang awal 2026, saham perbankan masih tertekan. Empat bank besar kompak mencatat koreksi sejak awal tahun (year to date/ytd).
1. PT Bank Central Asia Tbk turun paling dalam, yakni 20,43 persen ke level Rp 6.425.
2. PT Bank Negara Indonesia Tbk melemah 15,1 persen ke Rp 3.710.
3. PT Bank Mandiri Tbk terkoreksi 9,41 persen ke Rp 4.620.
4. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk turun 6,28 persen ke Rp 3.430.
Sejak Januari 2025, Bank Indonesia sudah memangkas suku bunga hingga 125 basis poin. Namun, penurunan itu belum sepenuhnya mengalir ke sektor riil. Hingga Februari 2026, bunga kredit baru turun sekitar 40 bps, sementara bunga deposito satu bulan turun 64 bps.
Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan biaya dana (cost of fund/COF) sempat naik karena persaingan ketat dalam menghimpun dana pihak ketiga (DPK). Kondisi tersebut menekan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) bank.
Menurut dia, jika BI mempertahankan suku bunga, tekanan terhadap margin akan mereda. Stabilitas ini berpotensi membuat profitabilitas bank kembali lebih terjaga dalam beberapa kuartal ke depan.
“Stabilitas suku bunga menjadi katalis positif. Permintaan kredit dari segmen konsumsi dan korporasi mulai pulih,” ujar Hendra.
Ia memproyeksikan pertumbuhan kredit tetap solid di kisaran high single digit hingga low double digit. Risiko kredit juga relatif terkendali karena debitur tidak menghadapi lonjakan beban bunga.
Dari sisi pasar, tekanan harga saham perbankan belakangan ini lebih banyak dipicu sentimen global dan aksi ambil untung investor asing. Fundamental perbankan dinilai masih cukup kuat.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai pasar sudah mengantisipasi kebijakan suku bunga yang stabil. Ia menyoroti pelemahan rupiah dan tingginya volatilitas pasar sebagai faktor utama.
Penutup
Dengan kondisi tersebut, saham perbankan berpeluang menarik untuk dikoleksi, terutama jika stabilitas suku bunga terus terjaga dalam waktu dekat.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









