Menjelang PT DSI Jadi Eksportir Tunggal, Batu Bara hingga Sawit Masih Dominasi Ekspor RI

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 3 Juni 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Pemerintah bersiap memasuki babak baru dalam tata kelola perdagangan komoditas nasional. Mulai 1 Januari 2027, ekspor batu bara, minyak sawit mentah (CPO), dan ferro alloy akan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai eksportir tunggal.

Di tengah persiapan menuju kebijakan tersebut, tiga komoditas utama itu masih menunjukkan peran besar dalam menopang kinerja ekspor Indonesia sepanjang awal 2026. Data terbaru memperlihatkan batu bara, CPO, dan ferro alloy tetap menjadi motor utama perdagangan luar negeri meski pergerakan nilainya mengalami fluktuasi dari bulan ke bulan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ketiga komoditas tersebut menyumbang lebih dari seperempat total ekspor nonmigas Indonesia selama periode Januari hingga April 2026. Kontribusi besar itu menegaskan posisi strategis sektor sumber daya alam dalam menjaga arus devisa nasional.

Tiga Komoditas Sumbang 28,3 Persen Ekspor Nonmigas

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa batu bara, CPO, serta kelompok komoditas besi dan baja memberikan kontribusi signifikan terhadap ekspor nasional.

“Total ketiganya ini memberikan share sekitar 28,30% dari total ekspor non-migas Indonesia pada Januari hingga April 2026,” kata Pudji Ismartini saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

BPS menghitung nilai ekspor gabungan ketiga komoditas tersebut mencapai sekitar US$24,82 miliar selama empat bulan pertama tahun ini. Angka itu menunjukkan tingginya ketergantungan ekspor Indonesia terhadap sektor komoditas berbasis sumber daya alam.

Ekspor Batu Bara Kembali Menguat

Batu bara menjadi salah satu komoditas yang menunjukkan tren penguatan setelah sempat melemah pada Februari 2026.

Pada Januari, nilai ekspor batu bara mencapai US$1,82 miliar. Nilainya kemudian turun menjadi US$1,66 miliar pada Februari sebelum kembali meningkat menjadi US$2,03 miliar pada Maret. Tren positif berlanjut pada April dengan nilai ekspor mencapai US$2,07 miliar.

Baca Juga :  Hutama Karya Tancap Gas! Laba Rp464 M Lampaui Target 172% di Awal 2026

Pudji menyebut India, Tiongkok, dan Jepang sebagai pasar utama batu bara Indonesia sepanjang Januari hingga April 2026.

“Pada Januari hingga April 2026 untuk negara tujuan dengan nilai ekspor batu bara terbesar tadi yang pertama adalah India, Tiongkok, dan Jepang,” ujarnya.

Permintaan dari negara-negara tersebut masih menjadi penopang utama kinerja ekspor batu bara nasional di tengah dinamika pasar energi global.

CPO Sempat Turun pada Maret

Berbeda dengan batu bara, ekspor minyak sawit mentah atau CPO mengalami penurunan cukup tajam pada Maret sebelum kembali pulih pada bulan berikutnya.

Nilai ekspor CPO tercatat sebesar US$2,29 miliar pada Januari dan meningkat menjadi US$2,40 miliar pada Februari. Namun, nilai tersebut turun menjadi US$1,42 miliar pada Maret.

Meski demikian, ekspor sawit kembali menunjukkan perbaikan pada April dengan nilai mencapai US$2,11 miliar.

India masih menjadi tujuan utama ekspor CPO Indonesia, disusul Tiongkok dan Pakistan. Ketiga negara tersebut terus menyerap produk sawit Indonesia dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan industri dan konsumsi domestik.

Ferro Alloy Tumbuh Stabil

Sementara itu, ferro alloy mencatat pertumbuhan yang relatif konsisten sepanjang empat bulan pertama 2026.

Nilai ekspor komoditas ini berada pada level US$1,18 miliar pada Januari dan Februari. Selanjutnya, nilai ekspor meningkat menjadi US$1,38 miliar pada Maret dan kembali naik menjadi US$1,41 miliar pada April.

Menurut Pudji, Tiongkok menjadi pasar terbesar ferro alloy Indonesia. Selain itu, Korea Selatan dan India juga masuk dalam daftar negara tujuan utama.

“Untuk negara tujuan ekspor kelapa sawit India, Tiongkok, dan Pakistan. Kemudian untuk negara tujuan ferro alloy ini adalah Tiongkok, Korea Selatan, dan India,” tegas Pudji.

Baca Juga :  Konglomerat RI Serbu Tambang Emas Australia, Prajogo hingga Salim Bergerak Agresif

Kenaikan ekspor ferro alloy menunjukkan tingginya kebutuhan industri manufaktur dan logam di kawasan Asia yang masih bergantung pada pasokan bahan baku dari Indonesia.

Transisi Menuju Ekspor Terpusat

Rencana pemerintah menunjuk PT DSI sebagai eksportir tunggal mulai awal 2027 menjadi salah satu perubahan terbesar dalam tata kelola ekspor komoditas nasional dalam beberapa tahun terakhir.

Melalui skema tersebut, pemerintah berharap dapat memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar internasional, meningkatkan efisiensi perdagangan, serta memperbesar nilai tambah yang diterima negara.

Meski demikian, pelaku usaha dan eksportir masih menunggu rincian teknis implementasi kebijakan tersebut agar proses transisi dapat berjalan lancar tanpa mengganggu arus perdagangan yang sudah berjalan.

Dengan kontribusi mencapai hampir 30 persen terhadap ekspor nonmigas, keberhasilan pengelolaan batu bara, CPO, dan ferro alloy akan menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja ekspor Indonesia pada masa mendatang.

FAQ

Kapan PT DSI mulai menjadi eksportir tunggal?

PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) akan mulai menjalankan peran sebagai eksportir tunggal batu bara, CPO, dan ferro alloy pada 1 Januari 2027.

Berapa kontribusi tiga komoditas tersebut terhadap ekspor nonmigas?

BPS mencatat kontribusinya mencapai sekitar 28,30 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-April 2026.

Negara mana yang menjadi tujuan utama ekspor batu bara Indonesia?

India, Tiongkok, dan Jepang menjadi tiga pasar terbesar batu bara Indonesia selama empat bulan pertama 2026.

Siapa pembeli utama CPO Indonesia?

India, Tiongkok, dan Pakistan masih menjadi negara tujuan utama ekspor minyak sawit mentah Indonesia.

Negara tujuan terbesar ferro alloy Indonesia?

Tiongkok menempati posisi pertama, diikuti Korea Selatan dan India.(Tim)

Berita Terkait

Harga Emas Perhiasan Awal Juni 2026 Stabil, Investor Tunggu Sinyal Baru Pasar Global
Emas Pegadaian Awal Juni 2026 Tak Bergerak, Investor Ambil Sikap di Tengah Pasar Tenang
Harga Emas Perhiasan Awal Juni 2026 Stabil, Investor Tahan Diri di Tengah Sinyal Global
Di Tengah Krisis Hebat, BJ Habibie Selamatkan Rupiah dari Titik Terendahnya
RI Ngebut Masuk Era B50, Solar Campur Sawit 50 Persen Siap Jalan dan Diklaim Pertama di Dunia
Bensin Baru E5 Mulai Mengalir Juli 2026, Bioetanol Lokal 26 Ribu KL Siap Ubah Peta Energi RI
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 29 Mei 2026 Stabil, Investor Waspadai Sinyal Pergerakan Baru di Tengah Tekanan Global dan Rupiah
Pajak Emas 10% Resmi Berlaku, Harga Logam Mulia Diprediksi Langsung Berubah
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 19:00 WIB

Menjelang PT DSI Jadi Eksportir Tunggal, Batu Bara hingga Sawit Masih Dominasi Ekspor RI

Rabu, 3 Juni 2026 - 08:00 WIB

Harga Emas Perhiasan Awal Juni 2026 Stabil, Investor Tunggu Sinyal Baru Pasar Global

Selasa, 2 Juni 2026 - 10:00 WIB

Emas Pegadaian Awal Juni 2026 Tak Bergerak, Investor Ambil Sikap di Tengah Pasar Tenang

Selasa, 2 Juni 2026 - 08:00 WIB

Harga Emas Perhiasan Awal Juni 2026 Stabil, Investor Tahan Diri di Tengah Sinyal Global

Minggu, 31 Mei 2026 - 09:00 WIB

Di Tengah Krisis Hebat, BJ Habibie Selamatkan Rupiah dari Titik Terendahnya

Berita Terbaru