JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mencatat lonjakan laba bersih sepanjang 2025. Perseroan membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp493,85 miliar, naik 50,7% dari Rp327,59 miliar pada tahun sebelumnya.
Namun, kenaikan laba ini tidak sejalan dengan pendapatan. BNBR justru mencatat penurunan pendapatan menjadi Rp3,74 triliun dari Rp3,86 triliun pada 2024.
Manajemen BNBR memperoleh lonjakan laba bukan dari kinerja operasional utama, melainkan dari efek akuntansi. Dalam laporan keuangan, perseroan mencatat keuntungan besar dari pengukuran kembali nilai investasi.
Aksi korporasi menjadi pemicunya. Pada November 2025, BNBR melalui anak usaha PT Bakrie Toll Indonesia mengakuisisi 72 juta saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) dari PT Waskita Toll Road dan PT SMI. Sebelum transaksi ini, BNBR sudah mengantongi 10% saham di CCT.
Setelah menguasai mayoritas saham, BNBR wajib menyesuaikan nilai kepemilikan lama ke harga pasar. Proses ini menghasilkan keuntungan dari revaluasi sebesar Rp422,37 miliar yang masuk ke laporan laba rugi.
Kenaikan ini bersifat non-tunai. Perseroan tidak menerima arus kas langsung dari keuntungan tersebut karena pencatatan hanya terjadi di atas kertas.
Kondisi ini membuat investor perlu mencermati kualitas laba BNBR. Laba besar tidak selalu mencerminkan kas yang kuat dari operasional.
Situasi tersebut juga memengaruhi peluang dividen. Perseroan kemungkinan belum membagikan dividen tunai dalam waktu dekat karena membutuhkan dana untuk pengembangan proyek tol Cimanggis-Cibitung.
Langkah ekspansi BNBR di sektor infrastruktur memang menunjukkan agresivitas. Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan sumber laba sebelum mengambil keputusan investasi.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









