Industri Plastik China Tertekan Dampak Penutupan Selat Hormuz

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 20 April 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Ekonomi China mulai merasakan dampak penutupan Selat Hormuz yang dipicu eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran sejak 28 Februari 2026. Gangguan jalur pelayaran global ini langsung menekan aktivitas perdagangan, termasuk di sektor industri plastik.

Salah satu efek paling nyata terlihat di ajang pameran dagang terbesar China, Canton Fair. Jumlah pengunjung dan pembeli turun signifikan. Kondisi ini memukul pelaku industri yang sangat bergantung pada ekspor.

Xiatao Plastic Industry, eksportir peralatan listrik sekaligus produsen perlengkapan dapur berbahan plastik, ikut terpukul. Perusahaan ini mengandalkan pasar luar negeri sebagai sumber penjualan utama.

Manajer umum Xiatao Plastic, Shao, mengatakan perusahaan terpaksa menurunkan harga untuk menjaga minat pembeli. Namun, respons pasar tetap lemah.

“Kami sudah menawarkan harga baru, tetapi klien masih menunda keputusan. Situasi ini sulit bagi perusahaan perdagangan luar negeri seperti kami. Kami berharap konflik segera berakhir,” ujar Shao, dikutip dari Reuters, Jumat (17/4/2026).

Baca Juga :  Negosiasi Alot, 2 Kapal Tanker Pertamina Belum Bisa Lintasi Selat Hormuz 

Sebelum konflik memanas, sektor ekspor China masih tumbuh kuat meski menghadapi tekanan tarif dari Amerika Serikat. Namun, gangguan pasokan energi kini menaikkan biaya produksi di pabrik-pabrik China.

Kenaikan harga komoditas membuat margin keuntungan industri manufaktur semakin tertekan. Banyak pabrik yang selama ini menyerap ratusan juta tenaga kerja ikut terdampak.

Permintaan global juga melemah. Kondisi ini memperburuk prospek ekspor China yang selama ini bergantung pada pasar Asia, Asia Tenggara, hingga Eropa.

Manajer umum produsen rice cooker dan ketel listrik Weking, Liang Su, menyebut situasi global semakin berat.

“Jika konflik terus berlanjut, dampaknya tidak hanya ke kami. Ekonomi Eropa juga tertekan. Asia Tenggara sudah lemah sejak awal. Sekarang dolar AS juga ikut melemah,” kata Liang.

Di sisi lain, pemerintah China ikut merespons ketegangan ini. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mendesak Iran membuka kembali Selat Hormuz agar jalur pelayaran kembali normal.

Baca Juga :  Kredit Tembus Rp8.659 Triliun, Perbankan RI Tumbuh Solid

Ia menegaskan pentingnya kebebasan navigasi di jalur strategis tersebut.

“Keamanan dan kebebasan navigasi di selat internasional harus terjamin. Pemulihan lalu lintas normal menjadi kepentingan bersama,” ujar Wang dalam komunikasi dengan Menlu Iran Abbas Araghchi, dikutip dari Middle East Monitor.

Wang juga menekankan agar semua pihak menghormati kedaulatan Iran di kawasan tersebut. Ia sekaligus meminta AS dan Israel menghentikan aksi militer yang memicu ketegangan.

Gangguan di Selat Hormuz terjadi sejak 28 Februari 2026 setelah serangan AS dan Israel ke Iran. Kondisi ini mengganggu arus kapal tanker minyak dan kargo global yang melintas di jalur tersebut.

Penutupan dan ketegangan di kawasan itu kini mulai menekan rantai pasok global. Dampaknya terasa luas, mulai dari energi, logistik, hingga industri manufaktur dunia.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Ekspor Tekstil Indonesia Bersiap Melesat, LPEI Bongkar Strategi Tembus Pertumbuhan 4 Persen hingga 2027
Dedi Mulyadi Bongkar Kejanggalan Dana Migas ONWJ, Prabowo Janji Ubah Aturan agar Langsung Masuk Kas Daerah
Proyek Investasi Meledak, Uang yang Masuk ke Majalengka Justru Menyusut, Ini Penyebabnya
Proyek FPSO Bahtera Haluan Lestari Jadi Penggerak Baru Industri Migas, Produksi Perdana Ditargetkan 2028
Tarif AS untuk Indonesia Belum Pasti, Apindo Ungkap Dampak yang Lebih Berbahaya bagi Industri dan Investasi
Danantara Bersiap Kuasai Ekspor Sawit, POPSI Minta Pemerintah Buka Seluruh Data Sebelum Aturan Berlaku
PHE Tancap Gas Buru Cadangan Migas Baru, Joint Study Melonjak Jadi 12 Blok dan Ekspansi Tembus Malaysia
Saat Dunia Menutup Keran Ekspor, Zulhas Pastikan Stok Pangan RI Surplus dan Siap Hadapi Krisis Global
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 07:59 WIB

Dedi Mulyadi Bongkar Kejanggalan Dana Migas ONWJ, Prabowo Janji Ubah Aturan agar Langsung Masuk Kas Daerah

Senin, 27 Juli 2026 - 14:34 WIB

Proyek Investasi Meledak, Uang yang Masuk ke Majalengka Justru Menyusut, Ini Penyebabnya

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:00 WIB

Proyek FPSO Bahtera Haluan Lestari Jadi Penggerak Baru Industri Migas, Produksi Perdana Ditargetkan 2028

Minggu, 26 Juli 2026 - 14:00 WIB

Tarif AS untuk Indonesia Belum Pasti, Apindo Ungkap Dampak yang Lebih Berbahaya bagi Industri dan Investasi

Minggu, 26 Juli 2026 - 13:00 WIB

Danantara Bersiap Kuasai Ekspor Sawit, POPSI Minta Pemerintah Buka Seluruh Data Sebelum Aturan Berlaku

Berita Terbaru