Produksi Timah TINS Turun 2025, Harga Global Naik Jadi Penopang Kinerja

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 25 April 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – PT Timah Tbk (TINS) mencatat penurunan produksi bijih dan logam timah sepanjang 2025. Meski begitu, kenaikan harga timah global berhasil menopang pendapatan dan laba perusahaan.

Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, menjelaskan produksi bijih timah mencapai 18.635 ton Sn pada 2025. Angka ini turun 4 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 19.437 ton Sn.

“Penambangan ilegal masih marak, terutama di wilayah pesisir dengan ponton isap produksi. Selain itu, penolakan masyarakat terhadap pembukaan tambang baru ikut menekan produksi,” ujar Restu dalam keterangan resmi, Kamis (23/4/2026).

Produksi Logam dan Penjualan Ikut Menyusut

Penurunan produksi bijih berdampak langsung pada produksi logam timah. Sepanjang 2025, TINS memproduksi 17.815 metrik ton logam timah. Angka ini turun 6 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 18.915 metrik ton.

Penjualan logam timah juga mengalami kontraksi. Perusahaan menjual 16.634 metrik ton pada 2025 atau turun 5 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 17.507 metrik ton.

Namun, TINS tetap mengandalkan pasar ekspor sebagai penopang utama. Sekitar 95 persen penjualan logam timah mengalir ke pasar luar negeri.

Baca Juga :  RI Masih Impor 50% Bensin, Pasokan Ternyata dari Asia Tenggara

Singapura menjadi tujuan ekspor terbesar dengan porsi 23 persen. Disusul Korea Selatan 21 persen, Jepang 17 persen, Belanda 7 persen, Italia 3 persen, dan China 3 persen.

Harga Timah Naik, Pendapatan Terdongkrak

Di tengah penurunan volume produksi dan penjualan, harga timah global justru meningkat. Rata-rata harga jual timah TINS naik 13 persen menjadi US$35.240 per metrik ton, dari sebelumnya US$31.181 per metrik ton.

Kenaikan harga ini mendorong pendapatan perusahaan. TINS membukukan pendapatan sebesar Rp11,55 triliun pada 2025, naik 6,41 persen dibandingkan 2024 yang sebesar Rp10,86 triliun.

Perusahaan juga mencatat laba bersih Rp1,31 triliun. Realisasi ini melampaui target yang ditetapkan manajemen.

Kontribusi Ekspor ke Pasar Global

TINS memberikan kontribusi signifikan terhadap ekspor timah nasional. Penjualan ekspor perusahaan mencapai sekitar 24 persen dari total ekspor timah Indonesia yang sebesar 53.050 metrik ton.

Baca Juga :  Rupiah Menguat Tipis, Dolar AS Bertahan di Rp17.130-an

Di tingkat global, kontribusi TINS mencapai sekitar 3 persen dari total ekspor timah dunia yang mencapai 371.369 metrik ton.

Strategi 2026: Genjot Produksi dan Hilirisasi

Memasuki 2026, TINS menyiapkan strategi untuk memulihkan kinerja produksi. Perusahaan akan fokus meningkatkan kapasitas produksi secara agresif dan memperkuat hilirisasi.

Manajemen juga akan mengoptimalkan cadangan, memperluas diversifikasi produk, serta mempercepat transformasi digital dan implementasi prinsip keberlanjutan (ESG).

Selain itu, perusahaan berencana meningkatkan efisiensi operasional dan memaksimalkan kinerja anak usaha.

Prospek Harga Timah Masih Kuat

Manajemen memperkirakan harga timah pada 2026 akan bergerak di kisaran US$33.500 hingga US$48.750 per ton.

Permintaan timah diprediksi meningkat seiring pertumbuhan industri elektronik, semikonduktor, dan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI).

“Momentum harga global dan penertiban tambang ilegal akan memperbaiki keseimbangan pasokan timah dunia,” kata Restu.

Dengan strategi tersebut, TINS optimistis dapat memperkuat posisi di industri timah global sekaligus meningkatkan nilai tambah bisnis ke depan.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Minyak Sumur Masyarakat Mulai Mengalir ke Kilang Cepu, Lifting Migas Naik
Bahlil Tegaskan LPG 3 Kg Tak Naik, Soroti Harga di Pangkalan
Malaysia Buru Minyak Rusia, Ikuti Indonesia Cs di Tengah Krisis Energi
Uji Coba B50 Tembus 40.000 Km, Mesin Aman dan Emisi Lebih Bersih
RI Gandeng Rusia Pasok Minyak dan LPG, Strategi Baru Perkuat Ketahanan Energi
Bahlil: Harga LPG 12 Kg Naik Wajar, Hanya untuk Konsumen Mampu
RI Masih Impor 50% Bensin, Pasokan Ternyata dari Asia Tenggara
PLN Diskon 50% Tambah Daya Listrik April 2026, Ini Syarat dan Cara Klaimnya
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 18:00 WIB

Produksi Timah TINS Turun 2025, Harga Global Naik Jadi Penopang Kinerja

Jumat, 24 April 2026 - 15:00 WIB

Minyak Sumur Masyarakat Mulai Mengalir ke Kilang Cepu, Lifting Migas Naik

Kamis, 23 April 2026 - 16:00 WIB

Bahlil Tegaskan LPG 3 Kg Tak Naik, Soroti Harga di Pangkalan

Rabu, 22 April 2026 - 16:08 WIB

Malaysia Buru Minyak Rusia, Ikuti Indonesia Cs di Tengah Krisis Energi

Rabu, 22 April 2026 - 08:37 WIB

Uji Coba B50 Tembus 40.000 Km, Mesin Aman dan Emisi Lebih Bersih

Berita Terbaru