JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperluas pelaksanaan program konversi motor listrik di Indonesia. Pemerintah kini melibatkan pabrikan atau manufaktur, tidak lagi hanya bengkel konversi.
Musashi Jadi Pabrikan Pertama yang Terlibat
Kepala Balai Besar Survei dan Pengujian Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (BBSP KEBTKE) Kementerian ESDM, Trois Dilisusendi, menyebut pihaknya sudah menjalin komunikasi dengan Musashi, perusahaan asal Jepang yang menjadi pemasok komponen motor Honda di Indonesia.
Trois menjelaskan, Musashi akan mengonversi motor bensin Honda lama menjadi motor listrik. Pada tahap awal, perusahaan itu menargetkan 100 unit motor.
“Musashi akan mengonversi 100 motor Honda pada 2026. Kami berharap program ini bisa berkembang lebih besar jika prinsipal di Jepang memberikan persetujuan,” kata Trois di Jakarta.
Ia menegaskan, keterlibatan manufaktur membuka peluang baru dalam program konversi motor listrik. Menurut dia, program tidak hanya bergantung pada bengkel konversi, tetapi juga bisa masuk ke ekosistem industri besar.
“Kami ingin program ini tidak hanya berjalan di bengkel, tetapi juga melibatkan manufaktur,” ujarnya.
Konversi Motor Listrik Masih Tumbuh Lambat
Program konversi motor listrik di Indonesia sudah berjalan sekitar lima tahun. Namun, minat masyarakat masih rendah.
Data ESDM menunjukkan, sejak 2021 hingga 2026 hanya 2.278 motor bensin yang berubah menjadi motor listrik. Angka itu masih jauh dari target pemerintah.
Tahun 2024 menjadi periode tertinggi dengan 1.352 unit konversi. Lonjakan itu terjadi karena pemerintah masih memberikan subsidi sebesar Rp10 juta per unit. Setelah itu, jumlah konversi kembali menurun.
Subsidi dan Tantangan Jadi Kendala
Trois menilai sejumlah faktor membuat program konversi belum berkembang pesat. Masyarakat masih memiliki keterbatasan biaya, minim informasi, serta kekhawatiran soal administrasi.
Selain itu, banyak pengguna meragukan performa motor listrik hasil konversi, terutama untuk medan berat.
“Banyak yang khawatir motor tidak kuat menanjak atau sistem pengisian baterai belum seragam,” kata Trois.
Libatkan Ojek Online untuk Uji Kebutuhan Lapangan
Pemerintah juga berdiskusi dengan pelaku transportasi daring seperti Grab, Gojek, dan inDrive. Kelompok pengemudi ojek online menjadi salah satu target utama program konversi karena intensitas penggunaan kendaraan yang tinggi.
Namun, mereka masih menyoroti standar teknis motor listrik, terutama soal daya tahan baterai dan kecepatan pengisian.
Dorongan Menuju Ekosistem Industri
Pemerintah berharap keterlibatan pabrikan seperti Musashi dapat mempercepat adopsi motor listrik di Indonesia. Dengan masuknya industri besar, pemerintah menargetkan ekosistem konversi menjadi lebih terstandar, efisien, dan mudah diakses masyarakat.









