Anindya Bakrie Ingatkan Dunia Usaha Waspada, Cash Flow Jadi Kunci Bertahan di Tekanan Global

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 26 April 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, meminta pelaku usaha memperketat pengelolaan arus kas atau cash flow di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlanjut. Ia menilai kondisi ini menuntut perusahaan bergerak lebih hati-hati agar tetap bertahan.

Kondisi Ekonomi Global Tekan Dunia Usaha

Anindya menyebut kondisi neraca Indonesia masih tergolong stabil. Namun, ia melihat tekanan global mulai memengaruhi laporan keuangan perusahaan, terutama pada sisi pendapatan. Ia menilai situasi itu membuat dunia usaha harus fokus pada likuiditas.

“Balance sheet Indonesia masih bagus, tetapi income statement di seluruh dunia sedang tertekan. Karena itu perusahaan harus menjaga cash flow,” kata Anindya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Ia menegaskan pelaku usaha tidak bisa mengabaikan dampak gejolak global, termasuk fluktuasi nilai tukar dan ketidakpastian geopolitik. Menurutnya, kenaikan dolar AS ikut memberi tekanan tambahan pada biaya operasional dan kebutuhan anggaran.

Cash Flow Jadi Kunci Bertahan

Anindya menilai pengelolaan arus kas menjadi kunci utama agar perusahaan tetap bertahan. Ia meminta pelaku usaha tidak hanya bertahan dalam jangka pendek, tetapi juga menyiapkan strategi jangka panjang.

Baca Juga :  Menabung Bergeser ke Bank Digital, Banyak Rekening Mulai Ditinggalkan

“Dunia usaha harus punya cash flow yang aman supaya bisa melihat peluang ke depan. Kita sudah melewati banyak krisis dan Indonesia selalu bisa bangkit,” ujarnya.

Ia juga menilai pelaku usaha perlu menjaga fleksibilitas strategi di tengah kondisi yang berubah cepat. Dengan manajemen kas yang sehat, perusahaan bisa tetap bergerak meski tekanan ekonomi meningkat.

Fenomena “Garpu” di Kalangan Pengusaha

Anindya mengungkapkan hasil survei Kadin menunjukkan adanya perbedaan sikap di kalangan pelaku usaha. Ia menyebut fenomena ini sebagai “garpu”, karena arah strategi pengusaha mulai terbelah.

Sebagian pengusaha melihat kondisi saat ini sebagai peluang. Mereka memilih melakukan efisiensi sekaligus menyiapkan investasi baru. Kelompok ini menilai tekanan ekonomi justru membuka ruang untuk ekspansi saat situasi membaik.

Namun, sebagian lainnya memilih strategi bertahan. Mereka memperketat pengeluaran, menunda ekspansi, dan menurunkan risiko bisnis. Kelompok ini fokus menjaga operasional agar tetap stabil.

“Yang satu melihat ini peluang investasi, yang lain memilih efisiensi ketat. Ini seperti pasar turun, ada yang melihat kesempatan beli, ada yang memilih cut loss,” jelasnya.

Baca Juga :  Bupati BBS Pangkas Perizinan Perumahan, Muaro Jambi Bidik Peluang Besar Program 3 Juta Rumah

Dunia Usaha Tetap Butuh Dukungan

Meski daya tahan dunia usaha meningkat, Anindya menegaskan pelaku usaha masih membutuhkan dukungan pemerintah. Ia meminta kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta terus diperkuat.

Kadin, kata dia, terus menyampaikan masukan kepada pemerintah sekaligus mendorong pembukaan peluang baru di sektor perdagangan dan investasi. Langkah ini bertujuan menjaga keberlangsungan usaha sekaligus mempertahankan lapangan kerja.

Ia juga mengingatkan tantangan baru akan muncul seiring perkembangan teknologi. Digitalisasi dan era kecerdasan buatan akan menekan sejumlah jenis pekerjaan.

“Lapangan kerja akan terus menghadapi tekanan dari digitalisasi. Dunia usaha harus siap menghadapi perubahan itu,” tegasnya.

Fokus Jaga Stabilitas dan Lapangan Kerja

Anindya menutup dengan penegasan bahwa dunia usaha harus menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global. Ia meminta pelaku usaha tetap adaptif, efisien, dan terbuka terhadap peluang baru agar ekonomi tetap bergerak dan lapangan kerja tetap terjaga.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Riau Tancap Gas Saat Ekonomi Global Bergejolak, Industri hingga Sawit Antar Pertumbuhan Tembus 4,89 Persen
Ekspor Tekstil Indonesia Bersiap Melesat, LPEI Bongkar Strategi Tembus Pertumbuhan 4 Persen hingga 2027
Dedi Mulyadi Bongkar Kejanggalan Dana Migas ONWJ, Prabowo Janji Ubah Aturan agar Langsung Masuk Kas Daerah
Proyek Investasi Meledak, Uang yang Masuk ke Majalengka Justru Menyusut, Ini Penyebabnya
Proyek FPSO Bahtera Haluan Lestari Jadi Penggerak Baru Industri Migas, Produksi Perdana Ditargetkan 2028
Tarif AS untuk Indonesia Belum Pasti, Apindo Ungkap Dampak yang Lebih Berbahaya bagi Industri dan Investasi
Danantara Bersiap Kuasai Ekspor Sawit, POPSI Minta Pemerintah Buka Seluruh Data Sebelum Aturan Berlaku
PHE Tancap Gas Buru Cadangan Migas Baru, Joint Study Melonjak Jadi 12 Blok dan Ekspansi Tembus Malaysia
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 15:00 WIB

Riau Tancap Gas Saat Ekonomi Global Bergejolak, Industri hingga Sawit Antar Pertumbuhan Tembus 4,89 Persen

Kamis, 30 Juli 2026 - 11:00 WIB

Ekspor Tekstil Indonesia Bersiap Melesat, LPEI Bongkar Strategi Tembus Pertumbuhan 4 Persen hingga 2027

Kamis, 30 Juli 2026 - 07:59 WIB

Dedi Mulyadi Bongkar Kejanggalan Dana Migas ONWJ, Prabowo Janji Ubah Aturan agar Langsung Masuk Kas Daerah

Senin, 27 Juli 2026 - 14:34 WIB

Proyek Investasi Meledak, Uang yang Masuk ke Majalengka Justru Menyusut, Ini Penyebabnya

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:00 WIB

Proyek FPSO Bahtera Haluan Lestari Jadi Penggerak Baru Industri Migas, Produksi Perdana Ditargetkan 2028

Berita Terbaru