JAKARTA – MAP Group mencatat kinerja solid pada kuartal I-2026. Dua emiten utamanya, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), sama-sama membukukan pertumbuhan laba dua digit. Lonjakan ini didorong oleh peningkatan penjualan dan momentum konsumsi menjelang Ramadan dan Lebaran.
Pendapatan MAPI Tembus Rp 12,29 Triliun
MAPI berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 12,29 triliun pada Maret 2026. Angka ini naik 32,03% secara tahunan (yoy) dibandingkan Rp 9,31 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga ikut melonjak menjadi Rp 628,03 miliar. Kinerja ini tumbuh 32,98% yoy dari Rp 472,26 miliar pada tahun sebelumnya.
Perusahaan menyebut peningkatan ini terjadi karena aktivitas belanja konsumen yang menguat, terutama menjelang periode Lebaran. Selain itu, strategi distribusi dan kesiapan stok ikut menopang penjualan di berbagai segmen ritel.
MAPA Catat Lonjakan Laba hingga 38%
MAPA juga mencatat kinerja impresif. Emiten ini membukukan penjualan sebesar Rp 4,95 triliun, naik 14,7% dibandingkan Rp 4,31 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Laba bersih MAPA bahkan tumbuh lebih agresif. Perusahaan mencatat laba Rp 470,57 miliar atau naik 38,41% yoy dari Rp 339,98 miliar.
Kenaikan ini menunjukkan efisiensi operasional yang semakin baik, ditopang penguatan penjualan digital dan perbaikan margin di berbagai lini bisnis.
Momentum Lebaran Dorong Konsumsi
Tim riset Kiwoom Sekuritas menilai kinerja MAP Group mendapat dorongan besar dari momen Ramadan dan Lebaran yang jatuh pada satu kuartal. Kondisi ini mendorong lonjakan kunjungan ke pusat perbelanjaan hingga 12% secara tahunan.
Total transaksi ritel nasional juga melampaui Rp 184 triliun. Kondisi ini ikut memperkuat pendapatan emiten ritel besar, termasuk MAP Group.
Margin Naik, Efisiensi Jadi Kunci
Laba MAP Group tumbuh lebih cepat dibandingkan penjualan. Analis menilai kondisi ini mencerminkan perbaikan margin, terutama dari manajemen inventori yang lebih efisien dan kontribusi kanal online yang terus meningkat.
Selain itu, strategi omni-channel ikut memperkuat kinerja, karena perusahaan mengintegrasikan penjualan offline dan online secara lebih optimal.
Prospek Tetap Positif, Tapi Tantangan Mengintai
Meski kinerja kuartal I terlihat kuat, analis mengingatkan potensi normalisasi pertumbuhan pada kuartal berikutnya. Efek musiman Lebaran tidak akan berulang di kuartal II-2026.
Risiko lain juga muncul dari ketidakpastian global, pelemahan rupiah, dan daya beli kelas menengah atas yang belum pulih sepenuhnya.
Valuasi Masih Menarik
Dari sisi valuasi, MAPI dan MAPA masih diperdagangkan di bawah rata-rata historis. MAPI berada di level forward P/E sekitar 8,4 kali, sedangkan MAPA sekitar 9,6 kali.
PBV MAPI juga tercatat di level 1,5 kali, yang menjadi posisi terendah sejak pandemi. Kondisi ini membuat sejumlah analis menilai saham MAPI masih belum mencerminkan kekuatan fundamentalnya.
Rekomendasi Saham
Kiwoom Sekuritas merekomendasikan akumulasi MAPI di kisaran Rp 1.170–Rp 1.290 dengan target Rp 1.385–Rp 1.500 dalam 6–12 bulan ke depan. Sementara MAPA direkomendasikan akumulasi pada area Rp 600–Rp 630 dengan target Rp 745–Rp 800.
Keduanya tetap menarik bagi investor jangka menengah, meski pasar perlu mewaspadai volatilitas dalam beberapa kuartal ke depan.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









