Rupiah Tertekan ke Rp17.370 per Dolar AS, Ini Penyebab Utama

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 4 Mei 2026 - 19:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini. Mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp17.370 per dolar AS, seiring meningkatnya tekanan eksternal dan kehati-hatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter global.

Rupiah Dibuka Melemah di Awal Perdagangan

Pada sesi perdagangan hari ini, rupiah langsung bergerak melemah sejak pembukaan pasar. Tekanan jual terhadap aset berisiko membuat rupiah kehilangan tenaga dan sempat berada di rentang Rp17.151 hingga Rp17.186 pada awal sesi sebelum kembali tertekan lebih dalam.

Pelaku pasar mencermati pergerakan dolar AS yang masih solid terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Kondisi ini ikut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dolar AS Menguat di Tengah Ketidakpastian Global

Penguatan dolar AS terjadi karena investor masih menilai prospek suku bunga tinggi di Amerika Serikat. Bank sentral AS atau Federal Reserve belum memberi sinyal kuat terkait pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Baca Juga :  Mulai Berlaku di NTT, Kendaraan Mati Pajak Tak Lagi Bebas Isi BBM Subsidi, Pertamina Siapkan Pengawasan

Kondisi tersebut membuat imbal hasil obligasi AS tetap menarik bagi investor global. Akibatnya, aliran modal cenderung keluar dari pasar negara berkembang dan masuk ke aset dolar AS yang lebih aman.

Sentimen The Fed dan Data Ekonomi Jadi Penentu

Pelaku pasar juga menunggu rilis data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat. Data inflasi dan ketenagakerjaan menjadi fokus utama karena akan memengaruhi arah kebijakan The Fed ke depan.

Jika inflasi kembali naik atau tetap tinggi, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Situasi ini bisa memperpanjang tekanan terhadap rupiah dalam jangka pendek.

Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia (BI) tetap memantau pergerakan nilai tukar dan menjaga stabilitas melalui intervensi di pasar valas jika diperlukan. BI juga mengandalkan instrumen suku bunga dan operasi pasar terbuka untuk menahan volatilitas rupiah.

Meski demikian, BI menghadapi tantangan besar karena tekanan eksternal masih mendominasi arah pergerakan mata uang.

Baca Juga :  Gaji ke-13 Pensiunan ASN 2026 Cair Juni, Ini Jadwal dan Rincian Lengkap Penerima

Analis: Rupiah Masih Rentan Fluktuasi

Sejumlah analis menilai rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif dalam beberapa hari ke depan. Faktor eksternal seperti arah kebijakan suku bunga AS, harga komoditas global, serta arus modal asing akan menjadi penentu utama.

Di sisi lain, stabilitas ekonomi domestik tetap menjadi penopang utama agar rupiah tidak melemah lebih dalam. Investor kini menunggu sinyal kebijakan lanjutan dari otoritas moneter Indonesia.

Prospek Perdagangan ke Depan

Ke depan, pelaku pasar memperkirakan rupiah masih bergerak dalam rentang yang cukup lebar. Sentimen global akan tetap mendominasi arah pergerakan, sementara faktor domestik berperan sebagai penahan laju pelemahan.

Jika tekanan dolar AS mereda, rupiah berpeluang kembali stabil. Namun jika ketidakpastian global meningkat, tekanan terhadap mata uang Indonesia bisa berlanjut.

Dengan kondisi ini, pelaku pasar disarankan tetap mencermati perkembangan ekonomi global dan kebijakan bank sentral utama dunia sebelum mengambil keputusan investasi.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah
Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha
PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri
Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan
Ojol Bisa Punya Motor Listrik Tanpa DP, Bunga Cicilan Ikut Dipangkas Prabowo
Sawit Tua Mulai Ditebang, Harapan Baru Petani Dharmasraya Tumbuh dari PSR Tahap III
Industri Alas Kaki Indonesia Melaju 11,3 Persen, Ekspansi Besar Menanti di Semester II 2026
Retribusi Bengkulu Baru Menyentuh 41 Persen, Sekda Desak OPD Tancap Gas Kejar Rp248 Miliar
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:47 WIB

Mian Buka Suara soal Masa Depan BPD: Bank Bengkulu Diminta Tancap Gas Jadi Penggerak Ekonomi Daerah

Selasa, 18 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Bingung Urus OSS-RBA? BESAN ALIA DPMPTSP Dharmasraya Siap Bantu Pelaku Usaha

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:58 WIB

PEKA Bengkulu Buka Jalan Baru bagi Penerima Manfaat, Usaha Keluarga Didorong Makin Mandiri

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 06:58 WIB

Bupati Annisa Bongkar Beban Fiskal Dharmasraya, Tambahan TKD 2027 Jadi Harapan

Jumat, 14 Agustus 2026 - 17:37 WIB

Ojol Bisa Punya Motor Listrik Tanpa DP, Bunga Cicilan Ikut Dipangkas Prabowo

Berita Terbaru

Oplus_0

Sungai Penuh

SK 196 CPNS Sungai Penuh Rampung, Kapan Diserahkan?

Sabtu, 22 Agu 2026 - 19:19 WIB