JAKARTA – Indonesia Strategic & Economic Action Institution (ISEAI) menilai masuknya Danantara sebagai pemegang saham salah satu aplikator ojek online (ojol) memunculkan sinyal kuat arah konsolidasi industri transportasi digital di Indonesia. Lembaga ini bahkan menyebut langkah tersebut membuka peluang besar terjadinya merger antara Gojek dan Grab di masa depan.
Danantara Masuk, Kontrol Kebijakan Jadi Target
ISEAI menyebut Danantara tidak sekadar menanam modal. Lembaga ini menilai Danantara mengejar kontrol strategis di level kebijakan perusahaan, khususnya melalui posisi di dewan direksi atau dewan komisaris.
ISEAI juga menyoroti kemungkinan penggunaan skema Golden Share. Melalui skema ini, pemerintah atau entitas tertentu dapat memiliki hak veto atas keputusan strategis perusahaan tanpa harus menjadi pemegang saham mayoritas.
Golden Share Beri Pengaruh Besar ke Regulasi Industri
ISEAI menjelaskan Golden Share dapat memberi kewenangan besar dalam menentukan arah kebijakan aplikator. Pemerintah atau pemegang Golden Share bisa mengatur tarif, menentukan skema komisi, hingga menetapkan standar kesejahteraan pengemudi.
Dengan mekanisme ini, negara tetap mengontrol ekosistem transportasi digital tanpa perlu mengambil alih kepemilikan perusahaan secara penuh.
Isyarat Konsolidasi Gojek dan Grab Menguat
ISEAI menilai masuknya Danantara ke ekosistem aplikator ojol memperkuat spekulasi konsolidasi dua raksasa industri, yaitu Gojek dan Grab. Kedua perusahaan sudah lama bersaing ketat di pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Menurut ISEAI, kehadiran satu entitas yang punya pengaruh di struktur kepemilikan dapat mendorong harmonisasi kebijakan bisnis kedua aplikator. Kondisi ini membuka jalan bagi efisiensi operasional, termasuk pengaturan komisi dan sistem bagi hasil.
Sorotan Tarif Ojol dan Dampak ke Mitra Pengemudi
Di sisi lain, diskusi soal potongan aplikasi kembali menguat setelah pemerintah mendorong penurunan fee menjadi 8%. ISEAI menilai kebijakan ini berpotensi mengubah struktur pendapatan industri, meski tidak otomatis meningkatkan penghasilan pengemudi secara langsung.
Beberapa analis menilai aplikator akan menyesuaikan strategi bisnis untuk menjaga keberlanjutan layanan jika margin keuntungan menurun.
Pemerintah Dorong Tata Kelola Ekosistem Digital
Pemerintah terus memperkuat peran dalam pengaturan ekosistem transportasi online. Selain membahas struktur biaya, pemerintah juga menyoroti perlindungan mitra pengemudi, transparansi algoritma, serta keseimbangan antara perusahaan dan pekerja gig economy.
ISEAI menilai intervensi ini menunjukkan arah baru regulasi digital di Indonesia yang lebih aktif dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Konsolidasi Dinilai Tinggal Menunggu Waktu
ISEAI menyimpulkan dinamika masuknya Danantara ke salah satu aplikator menjadi sinyal penting perubahan besar industri. Lembaga ini menilai konsolidasi antara Gojek dan Grab tidak lagi sebatas spekulasi, tetapi sudah memasuki tahap pembentukan arah kebijakan.
Jika skema kepemilikan dan regulasi berjalan searah, ISEAI menilai merger bisa menjadi langkah logis untuk menstabilkan pasar dan meningkatkan efisiensi industri transportasi digital di kawasan Asia Tenggara.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









