Koperasi Desa Merah Putih Diuji Realita Bisnis, Mampukah Bertahan atau Hanya Formalitas?

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 4 Mei 2026 - 00:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menghadapi tantangan besar di lapangan. Di tengah semangat membangun ekonomi desa, muncul pertanyaan penting: apakah model bisnis ini benar-benar mampu bertahan atau hanya berhenti sebagai program administratif?

Seorang pengamat ekonomi dan UMKM menilai keberhasilan KDMP tidak cukup bergantung pada niat baik atau dukungan kebijakan. Ia menegaskan bahwa koperasi harus tunduk pada logika dasar bisnis, terutama soal biaya, margin, dan volume transaksi.

Biaya Operasional Jadi Beban Awal

Setiap unit KDMP membutuhkan struktur operasional yang tidak ringan. Pengelola harus menggaji manajer, kasir, dan tenaga operasional. Total biaya sumber daya manusia bisa mencapai sekitar Rp14 juta per bulan.

Selain itu, koperasi juga menanggung biaya sewa atau depresiasi tempat, listrik, internet, transportasi, sistem, hingga perawatan operasional. Jika dijumlahkan, total biaya tetap bulanan mencapai sekitar Rp21 juta.

Angka ini menjadi beban awal yang harus tertutup oleh omzet usaha, tanpa pengecualian kondisi pasar di desa.

Margin Tipis Tekan Daya Tahan Usaha

KDMP banyak bergerak di sektor kebutuhan dasar seperti sembako, LPG subsidi, pupuk, dan layanan pembayaran. Sektor ini memang memiliki perputaran uang tinggi, tetapi margin keuntungannya sangat tipis, hanya sekitar 5 hingga 7 persen.

Baca Juga :  Investor Asing Ramai Masuk RI, Rosan Targetkan Investasi Rp13.000 Triliun

Kondisi ini membuat koperasi harus mengejar omzet besar hanya untuk mencapai titik impas. Tanpa volume transaksi yang stabil, koperasi berpotensi langsung merugi meski aktivitas tetap berjalan.

Hitungan Break Even Point Menunjukkan Tekanan Tinggi

Dengan biaya tetap sekitar Rp21 juta dan margin rata-rata 7 persen, KDMP harus mencetak omzet minimal Rp300 juta per bulan untuk tidak merugi.

Jika dibagi per hari, koperasi harus mengumpulkan sekitar Rp10 juta omzet harian. Dengan nilai transaksi rata-rata Rp50 ribu, KDMP perlu melayani sekitar 200 transaksi setiap hari.

Angka ini menuntut aktivitas ekonomi desa yang sangat aktif dan konsisten.

Tantangan Nyata di Lapangan

Tidak semua desa memiliki daya beli dan jumlah penduduk yang cukup untuk menopang volume transaksi tersebut. Banyak desa masih memiliki aktivitas ekonomi terbatas, sehingga target transaksi harian menjadi sulit tercapai.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Qurban: Tas Anyaman Perempuan Sungai Penuh Jadi Sorotan, Dorong UMKM & Kurangi Plastik

Kondisi ini membuat KDMP rentan mengalami kesenjangan antara target bisnis dan realitas pasar. Kesalahan pengelolaan stok atau penurunan traffic konsumen dapat langsung menekan keuangan koperasi.

Strategi Jadi Kunci Keberlanjutan

Pengamat menilai KDMP perlu mengubah pendekatan bisnis. Koperasi tidak bisa hanya menjual produk bermargin rendah. Pengelola perlu menambah produk bernilai tambah, seperti produk UMKM lokal, layanan distribusi, atau skema private label.

Selain itu, KDMP perlu berperan sebagai agregator ekonomi desa, bukan sekadar toko ritel. Dengan cara itu, koperasi bisa memperluas volume transaksi melalui warung kecil dan rantai pasok lokal.

Efisiensi operasional juga menjadi faktor penting. Pengelola harus menyesuaikan struktur biaya dengan kondisi desa, bukan meniru model ritel perkotaan.

Kesimpulan

Matematika bisnis menunjukkan bahwa KDMP menghadapi tantangan serius di tingkat operasional. Tanpa strategi yang tepat, koperasi berisiko sulit mencapai titik impas.

Pada akhirnya, keberlanjutan KDMP tidak hanya bergantung pada semangat program, tetapi juga pada kemampuan mengelola angka secara realistis di lapangan.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Gelombang PHK Buruh Otomotif Jatim Menguat, Industri Kendaraan Hadapi Tekanan Besar
OJK Naik Level, Bursa Mineral Kini Diawasi Ketat demi Pasar Komoditas Lebih Transparan
Jembatan Perintis Garuda Resmi Berdiri, Ekonomi Warga Mekar Jaya Sungai Penuh Makin Terbuka
Harga Minyak Dunia Naik ke US$81, Ketegangan Iran-AS Guncang Pasar Energi
Sekda Alpian Ungkap Kunci Pembangunan Sungai Penuh, Sensus Ekonomi 2026 Jadi Penentu Arah Baru
Promo Shopee 22 Juni 2026, Diskon Besar hingga Voucher Rahasia Bikin Belanja Makin Hemat
Ombudsman Bongkar Titik Rawan Koperasi Desa Merah Putih, Pengawasan Jadi Penentu Nasib Program Besar
Harga TBS Sawit Kaltim Turun, Petani Hadapi Perubahan Nilai Jual Terbaru
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 22:20 WIB

Gelombang PHK Buruh Otomotif Jatim Menguat, Industri Kendaraan Hadapi Tekanan Besar

Senin, 22 Juni 2026 - 20:19 WIB

OJK Naik Level, Bursa Mineral Kini Diawasi Ketat demi Pasar Komoditas Lebih Transparan

Senin, 22 Juni 2026 - 17:44 WIB

Jembatan Perintis Garuda Resmi Berdiri, Ekonomi Warga Mekar Jaya Sungai Penuh Makin Terbuka

Senin, 22 Juni 2026 - 14:00 WIB

Harga Minyak Dunia Naik ke US$81, Ketegangan Iran-AS Guncang Pasar Energi

Senin, 22 Juni 2026 - 13:00 WIB

Sekda Alpian Ungkap Kunci Pembangunan Sungai Penuh, Sensus Ekonomi 2026 Jadi Penentu Arah Baru

Berita Terbaru