JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Senin (4/5/2026) dengan penguatan tipis 0,22% atau naik 15,15 poin ke level 6.971,95. Meski menguat, indeks bergerak fluktuatif sepanjang hari dan sempat tertekan ke zona merah sebelum akhirnya kembali bangkit di akhir sesi.
Nilai transaksi di bursa tercatat mencapai Rp21,03 triliun dengan aktivitas perdagangan yang cukup ramai. Namun, pasar juga mencatat transaksi negosiasi besar pada saham Pinago Utama (PNGO) senilai Rp5,24 triliun yang ikut mewarnai pergerakan hari ini.
IHSG Sempat Berbalik Arah di Sesi II
IHSG langsung melesat pada awal perdagangan dengan kenaikan lebih dari 1%. Namun tekanan jual mulai muncul pada sesi pertama hingga penguatan terpangkas menjadi 0,31%.
Memasuki sesi kedua, indeks bahkan sempat turun ke zona merah dan menyentuh level 6.946,06. Meski demikian, aksi beli pada menit-menit akhir perdagangan mendorong IHSG kembali menguat hingga penutupan.
Pergerakan ini menunjukkan pasar masih menghadapi tekanan sentimen eksternal dan domestik yang cukup kuat.
Tiga Saham Big Cap Jadi Penopang
Kenaikan IHSG hari ini tidak lepas dari kontribusi tiga saham berkapitalisasi besar. Saham Telkom Indonesia (TLKM) memberikan dorongan 8,35 poin indeks, disusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan kontribusi 7,84 poin, dan Barito Renewables Energy (BREN) sebesar 5,16 poin.
Ketiga saham tersebut menjadi penahan laju pelemahan indeks yang sempat dipicu oleh tekanan di saham-saham tertentu.
GOTO Tekan IHSG, Investor Cermati Regulasi Ojol
Di sisi lain, saham GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) menjadi pemberat utama IHSG. Saham emiten teknologi itu turun 5,56% ke level 51.
Tekanan muncul setelah pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang perlindungan pekerja transportasi online. Regulasi ini mengatur pembagian pendapatan aplikator dan pengemudi serta jaminan sosial bagi pekerja ojol.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah memberikan perlindungan melalui BPJS Kesehatan dan asuransi kecelakaan kerja bagi pengemudi transportasi online.
Selain itu, pasar juga mencermati pernyataan terkait keterlibatan pemerintah melalui Danantara di sektor aplikator digital, yang ikut menambah spekulasi di saham teknologi.
Rupiah Tertekan ke Level Terlemah Sepanjang Sejarah
Dari pasar valuta asing, rupiah melemah 0,35% ke level Rp17.365 per dolar AS. Posisi ini menjadi level penutupan terlemah sepanjang sejarah.
Rupiah mencatat pelemahan selama empat hari perdagangan berturut-turut dan ikut menekan sentimen pasar saham domestik.
Sentimen Global Tekan Pasar Energi
Dari sisi global, ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat masih membayangi pasar. Konflik di kawasan Selat Hormuz mendorong kekhawatiran gangguan distribusi minyak dunia.
Amerika Serikat meluncurkan inisiatif “Project Freedom” untuk mengevakuasi kapal sipil dari wilayah konflik. Langkah ini melibatkan kekuatan militer besar termasuk kapal perang, pesawat, dan ribuan personel.
Namun, pasar energi justru merespons dengan penurunan harga minyak. WTI turun 0,59% ke US$101,34 per barel, sementara Brent melemah 0,27% ke US$107,88 per barel.
Neraca Perdagangan Masih Surplus
Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$3,32 miliar pada Maret 2026. Angka ini naik dari bulan sebelumnya sebesar US$1,27 miliar.
Ekspor tercatat US$22,53 miliar, tumbuh 3,10% secara tahunan, sedangkan impor naik 1,51% menjadi US$19,21 miliar. Indonesia pun mencatat surplus selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Dengan kombinasi sentimen global, tekanan rupiah, serta dinamika saham teknologi, pasar keuangan Indonesia masih menghadapi volatilitas tinggi dalam jangka pendek.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









