Jakarta — Menjelang fajar Ramadan, waktu sahur memberi energi awal untuk berpuasa. Oleh karena itu, setelah suapan terakhir, kita sebaiknya tidak langsung beristirahat. Pasalnya, lambung masih mencerna makanan yang baru masuk.
Pentingnya Jeda Setelah Sahur
Pertama, tubuh membutuhkan waktu untuk memulai pencernaan secara optimal. Jika kita langsung berbaring, kerja lambung menjadi kurang maksimal. Karena itu, kita perlu memberi jeda sekitar 30–60 menit sebelum tidur atau rebahan.
Risiko Asam Lambung Naik
Selain itu, kebiasaan tidur setelah makan meningkatkan risiko asam lambung naik. Akibatnya, rasa panas muncul di dada dan tenggorokan. Pada akhirnya, kondisi ini mengganggu kenyamanan saat menjalankan ibadah.
Dampak pada Pencernaan dan Berat Badan
Di sisi lain, kebiasaan langsung berbaring memperlambat proses cerna. Akibatnya, makanan tertahan lebih lama di saluran pencernaan. Kondisi ini meningkatkan risiko sembelit, terutama saat kita mengurangi asupan cairan selama puasa. Lebih jauh lagi, tubuh menyimpan kalori yang tidak terbakar dan memicu kenaikan berat badan.
Aktivitas Ringan Setelah Sahur
Sebagai alternatif, kita bisa melakukan aktivitas ringan setelah sahur. Misalnya, kita berjalan santai, duduk dengan posisi tegak, atau menyiapkan diri untuk salat Subuh. Dengan begitu, sistem pencernaan bekerja lebih baik dan stamina tetap terjaga.
Singkatnya, Ramadan mengajarkan pengendalian diri sekaligus menjaga keseimbangan tubuh. Dengan demikian, kita bisa menjaga kesehatan dan kekhusyukan ibadah dengan memberi jeda setelah sahur hingga waktu berbuka tiba.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora