JAKARTA – PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) membuka babak baru dalam perjalanan bisnisnya setelah para pemegang saham menyepakati perubahan susunan komisaris dan direksi pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026.
Keputusan tersebut menunjukkan langkah serius perusahaan dalam memperkuat tata kelola sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi tantangan industri digital. Seiring meningkatnya kebutuhan perlindungan data dan keamanan sistem, Bukalapak memilih figur yang memiliki pengalaman panjang dalam kepemimpinan strategis dan pengawasan organisasi.
Selain itu, perubahan jajaran pengurus mencerminkan upaya perusahaan menjaga daya saing di tengah persaingan ekonomi digital yang semakin ketat. Melalui kombinasi pengalaman dan regenerasi kepemimpinan, Bukalapak ingin membangun fondasi yang lebih kokoh untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Sutarman Pimpin Jajaran Komisaris
Para pemegang saham menunjuk Sutarman sebagai Komisaris Independen sekaligus Komisaris Utama Bukalapak. Publik mengenal Sutarman sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Bukalapak melihat pengalaman Sutarman di bidang kepemimpinan, tata kelola, dan keamanan siber sebagai modal penting untuk memperkuat arah strategis perusahaan. Terlebih lagi, perusahaan teknologi membutuhkan pengawasan yang kuat seiring meningkatnya risiko keamanan digital.
Komisaris Utama Perseroan, Adi Wardhana Sariaatmadja, menyampaikan harapannya terhadap peran Sutarman dalam memperkuat fungsi pengawasan perusahaan.
“Dengan pengalaman dan kontribusi beliau yang luas, khususnya dalam bidang kepemimpinan, tata kelola, dan keamanan siber, kami berharap kehadiran beliau dapat semakin memperkuat fungsi pengawasan dan memberikan perspektif strategis bagi Perseroan dalam menghadapi perkembangan industri digital yang terus berkembang serta mendukung pertumbuhan Perseroan yang berkelanjutan,” kata Adi dalam keterangan resmi.
Lebih lanjut, manajemen menilai kemampuan Sutarman dalam memahami isu keamanan siber akan membantu perusahaan mengantisipasi berbagai risiko digital. Karena itu, kehadirannya dinilai relevan dengan kebutuhan bisnis berbasis teknologi yang terus berkembang.
Natalia Firmansyah Nahkodai Bukalapak Sementara
Pada kesempatan yang sama, para pemegang saham juga menunjuk Natalia Firmansyah sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama Bukalapak.
Natalia mengambil alih kepemimpinan perusahaan setelah Willix Halim mengakhiri masa jabatannya sebagai Direktur Utama. Selama masa transisi, Natalia akan memimpin operasional sekaligus menjaga kesinambungan strategi bisnis perusahaan.
Sementara itu, Bukalapak akan menjalankan proses pemilihan Direktur Utama definitif sesuai ketentuan yang berlaku. Perusahaan juga akan mempertimbangkan rekomendasi dari Komite Nominasi dan Remunerasi sebelum menentukan kandidat yang tepat.
Di sisi lain, para pemegang saham kembali memberikan kepercayaan kepada Victor Putra Lesmana untuk melanjutkan tugasnya sebagai Direktur Bukalapak.
Dengan susunan pengurus terbaru tersebut, perusahaan berharap dapat merespons perubahan pasar secara lebih cepat sekaligus menjaga momentum pertumbuhan bisnis.
Yenny Wahid Akhiri Masa Pengabdian
RUPST tahun ini juga menandai berakhirnya masa pengabdian Yenny Wahid sebagai Komisaris Independen sekaligus ESG Ambassador Bukalapak.
Selama menjalankan tugasnya, Yenny menghadirkan berbagai perspektif strategis yang mendukung penguatan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan atau ESG. Kontribusinya membantu perusahaan memperluas fokus pada aspek keberlanjutan dalam pengembangan bisnis.
Karena itu, kepergian Yenny menutup satu fase penting dalam perjalanan Bukalapak. Namun demikian, perusahaan tetap melanjutkan komitmen terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan melalui kepemimpinan baru.
Strategi Baru Hadapi Tantangan Industri Digital
Perubahan struktur kepemimpinan ini memperlihatkan fokus Bukalapak pada penguatan tata kelola dan pengawasan perusahaan. Di tengah percepatan transformasi digital, perusahaan membutuhkan jajaran pengurus yang mampu membaca risiko sekaligus menangkap peluang bisnis.
Selain memperkuat pengawasan, Bukalapak juga ingin meningkatkan ketahanan perusahaan terhadap ancaman keamanan digital yang semakin kompleks. Oleh sebab itu, perusahaan menempatkan aspek keamanan siber sebagai salah satu perhatian utama dalam strategi bisnisnya.
Ke depan, kombinasi pengalaman dari jajaran komisaris dan direksi terbaru diharapkan mampu menjaga pertumbuhan perusahaan secara berkelanjutan. Pada saat yang sama, Bukalapak juga ingin memperkuat kepercayaan pemegang saham, pelanggan, serta mitra bisnis di tengah dinamika industri digital yang terus berubah.
FAQ
Siapa Komisaris Utama baru Bukalapak?
Sutarman, mantan Kapolri pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kini memimpin jajaran komisaris sebagai Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen.
Mengapa Bukalapak memilih Sutarman?
Bukalapak mempertimbangkan pengalaman Sutarman dalam kepemimpinan, tata kelola, dan keamanan siber yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan teknologi.
Siapa yang memimpin Bukalapak setelah Willix Halim?
Natalia Firmansyah memimpin perusahaan sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama selama masa transisi.
Kapan Bukalapak menentukan Direktur Utama definitif?
Perusahaan akan menjalankan proses pemilihan sesuai regulasi dan rekomendasi Komite Nominasi dan Remunerasi.
Apa kontribusi Yenny Wahid selama di Bukalapak?
Yenny Wahid membantu perusahaan memperkuat penerapan prinsip ESG dan menghadirkan berbagai perspektif strategis terkait keberlanjutan bisnis.(Tim)









