Harga Batu Bara Menguat Tipis, India dan China Jadi Penopang

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 9 Mei 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Harga batu bara global kembali bergerak naik tipis pada perdagangan terbaru setelah pasar merespons sejumlah sentimen positif dari India dan China. Meski penguatan masih terbatas, kondisi ini memberi angin segar bagi pelaku industri setelah tekanan harga pada hari sebelumnya.

Harga Global Naik Setelah Tekanan Jual

Pasar mencatat harga batu bara berada di level sekitar US$ 135,2 per ton pada perdagangan Kamis (7/5/2026). Angka ini menunjukkan kenaikan tipis sekitar 0,3% setelah sebelumnya harga terkoreksi cukup dalam hingga 3,5%.

Pergerakan ini menunjukkan pasar masih bergerak fluktuatif tanpa arah tren yang kuat. Pelaku pasar masih menahan diri karena ketidakpastian permintaan dari negara konsumen utama.

China Tunjukkan Stabilitas Permintaan

China menjadi salah satu faktor utama yang menjaga pasar tetap stabil. Harga batu bara di wilayah produksi Yulin dengan kualitas 5.800 kcal/kg NAR bergerak stabil di kisaran CNY 475 per ton.

Meski tidak berubah secara harian, harga tersebut turun sekitar CNY 9 per ton dibanding pekan sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan pasar domestik China masih seimbang antara suplai dan permintaan.

Aktivitas perdagangan di China juga berlangsung hati-hati. Pembeli industri hanya melakukan transaksi sesuai kebutuhan, tanpa mendorong pembelian besar. Kondisi ini membuat pasar bergerak datar tanpa lonjakan signifikan.

Baca Juga :  Freeport Setor Rp75 Triliun ke Negara, Ini Rincian Pembagian ke Pusat dan Daerah

India Tekan Impor, Permintaan Melambat

Di sisi lain, India justru mencatat penurunan impor batu bara non-kokas dari Afrika Selatan secara tajam. Volume impor turun dari 3,48 juta ton pada Maret menjadi 1,97 juta ton pada April, atau merosot sekitar 43,4%.

Penurunan ini menunjukkan pelemahan aktivitas industri di India. Selain itu, banyak pelaku industri beralih ke batu bara domestik karena lebih murah dan lebih mudah diakses.

Perubahan pola ini menekan permintaan batu bara impor global dan ikut membatasi potensi kenaikan harga lebih lanjut.

Biaya Pengiriman Dorong Harga Internasional

Meski permintaan melemah di beberapa pasar, biaya logistik global justru meningkat. Kenaikan harga gas dan minyak mentah ikut mendorong biaya angkut atau freight naik.

Kondisi ini membuat harga batu bara di pasar internasional ikut terdorong, terutama pada komponen biaya sampai pelabuhan tujuan (landed cost). Namun kenaikan ini tidak sepenuhnya mencerminkan peningkatan permintaan riil.

Sektor Baja Masih Lemah Tekan Permintaan

Permintaan dari sektor industri baja, khususnya sponge iron, masih belum menunjukkan pemulihan. Aktivitas produksi berjalan lambat karena harga baja global melemah.

Baca Juga :  Produksi Timah TINS Turun 2025, Harga Global Naik Jadi Penopang Kinerja

Pelaku industri baja memilih strategi pembelian berbasis kebutuhan. Mereka menunda pembelian besar dan lebih banyak menerapkan strategi tunggu dan lihat.

Kondisi ini ikut menekan konsumsi batu bara sebagai bahan baku utama dalam industri baja.

Pasar Bergerak Hati-Hati di Tengah Ketidakpastian

Secara keseluruhan, pasar batu bara global masih bergerak hati-hati. Tidak ada faktor dominan yang mampu mendorong lonjakan harga secara signifikan.

China menjaga stabilitas, India menekan impor, sementara biaya logistik justru meningkat. Kombinasi faktor ini membuat pasar berada dalam fase stagnan dengan volatilitas terbatas.

Pelaku pasar memperkirakan harga akan tetap bergerak dalam kisaran sempit dalam waktu dekat, selama permintaan industri global belum menunjukkan pemulihan yang kuat.

Prospek Jangka Pendek Masih Terbatas

Ke depan, arah harga batu bara sangat bergantung pada pemulihan sektor industri di negara konsumen utama. Jika permintaan baja dan energi meningkat, pasar berpotensi menguat lebih lanjut.

Namun jika kondisi stagnan berlanjut, harga kemungkinan besar tetap bergerak sideways dengan tekanan dari sisi permintaan.

Untuk saat ini, pasar masih menunggu katalis baru yang mampu mengubah arah tren secara signifikan.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Freeport Setor Rp75 Triliun ke Negara, Ini Rincian Pembagian ke Pusat dan Daerah
Kelurahan Olo: Surga Kuliner Pesisir dari Batagor Ikan hingga Kelapa Muda
KSSK Pastikan Ekonomi Indonesia Tetap Tenang di Awal 2026
DPRD Sungai Penuh Dukung IPAM, 50 Liter per Detik
Rupiah 8 Mei 2026 Bertahan di Kisaran Rp17.300 per Dolar AS
IHSG 8 Mei 2026 Stabil di Zona Hijau, Saham Bank Jadi Penopang Utama
Harga BBM 8 Mei 2026 Stabil di Subsidi, Diesel Non-Subsidi Masih Tinggi
Harga Emas Hari Ini 8 Mei 2026 Tembus Rekor, Antam Nyaris Rp3 Juta per Gram
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 11:00 WIB

Freeport Setor Rp75 Triliun ke Negara, Ini Rincian Pembagian ke Pusat dan Daerah

Sabtu, 9 Mei 2026 - 09:00 WIB

Harga Batu Bara Menguat Tipis, India dan China Jadi Penopang

Jumat, 8 Mei 2026 - 23:00 WIB

KSSK Pastikan Ekonomi Indonesia Tetap Tenang di Awal 2026

Jumat, 8 Mei 2026 - 19:57 WIB

DPRD Sungai Penuh Dukung IPAM, 50 Liter per Detik

Jumat, 8 Mei 2026 - 09:00 WIB

Rupiah 8 Mei 2026 Bertahan di Kisaran Rp17.300 per Dolar AS

Berita Terbaru

Oplus_0

Perbankan

7 Izin BPR dan BPRS Dicabut OJK, Ini Dampaknya Bagi Nasabah

Sabtu, 9 Mei 2026 - 07:00 WIB