LPS Bongkar Alasan Bank RI Masih Kasih Bunga Tinggi ke Nasabah

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 18 April 2026 - 12:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan, Anggito Abimanyu, mengungkap alasan banyak bank di Indonesia masih menawarkan bunga simpanan tinggi atau special rate.

Anggito menyebut sekitar 33% bank masih memberikan bunga di atas tingkat bunga penjaminan (TBP). Ia menilai kondisi ini muncul karena kebutuhan likuiditas dan ketatnya persaingan menghimpun dana.

Menurut dia, bank yang butuh dana langsung “menawar” nasabah dengan bunga lebih tinggi. Cara ini mirip mekanisme lelang, di mana bank berlomba menarik dana masyarakat.

“Pasar memang menginginkan bunga simpanan yang tinggi. Persaingan dana juga ketat,” ujar Anggito.

Ia menegaskan, bank harus segera membenahi kondisi ini. Namun, ia juga menilai faktor utama terletak pada permintaan kredit.

Baca Juga :  Prabowo Beri Lampu Hijau, JK Siapkan Investasi Rp70 Triliun untuk Tambah Listrik 2.000 MW Demi Kejar Ekonomi 8 Persen

Anggito mengatakan ekonomi harus tumbuh agar permintaan pinjaman meningkat. Jika permintaan kuat, bank tidak perlu lagi menawarkan bunga tinggi untuk menarik dana.

Saat ini, ia melihat likuiditas perbankan masih cukup. Karena itu, ia menilai masalah bukan pada pasokan dana, melainkan permintaan kredit yang belum optimal.

Sebelumnya, Lembaga Penjamin Simpanan mencatat tren kenaikan porsi simpanan dengan bunga di atas TBP. Angkanya naik dari 25% pada 2022 menjadi 30% pada 2024, lalu mencapai 33% pada 2025.

Anggito menilai angka ini cukup tinggi dan menunjukkan banyak bank belum mematuhi batas bunga yang dijamin.

Baca Juga :  Bank Mandiri Perkuat Posisi, Dorong Tumbuh Bersama Nasabah

Ia juga menyoroti dampak kondisi tersebut terhadap suku bunga kredit. Menurutnya, bunga kredit sulit turun selama bank masih memberikan special rate pada simpanan.

Sepanjang 2025, LPS menurunkan TBP sebesar 75 basis poin. Namun, suku bunga pasar justru tetap lebih tinggi.

Saat ini, LPS menahan TBP di level 3,5% untuk simpanan rupiah di bank umum, 2% untuk valuta asing, dan 6% untuk BPR. Kebijakan ini berlaku hingga 30 Mei 2026.

Anggito menegaskan, TBP menjadi acuan penting bagi bank. LPS tidak menjamin simpanan dengan bunga di atas batas tersebut.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Belawan Punya Pesaing? Sumbar Siapkan Teluk Tapang Jadi Pusat Logistik Baru
Potensi Nagari Sumbar Jadi Sorotan, Pemprov Gandeng Deryansha Azhary Dongkrak UMKM
CPO Bengkulu Tercatat di Sumbar, Pemprov Siapkan Aturan Baru Mulai Desember
648 Ribu Keluarga di Sumbar Kebagian 19.469 Ton Beras, Bantuan Diperpanjang hingga Desember
Dana Perantau Minang Capai Rp20 Triliun, Wamendagri Bima Arya Ungkap Peluang Besar untuk Ekonomi Sumbar
260 UMKM Solok Selatan Dapat Suntikan Peralatan, Khairunas Bidik Penguatan Ekonomi Rakyat
Nagari Creative Hub Sungai Duo Dibuka, UMKM Dharmasraya Bidik Pasar Nasional
Petani Dharmasraya Bidik Pasar MBG, Bupati Annisa Salurkan 12,3 Ton Benih Jagung
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 13:24 WIB

Belawan Punya Pesaing? Sumbar Siapkan Teluk Tapang Jadi Pusat Logistik Baru

Jumat, 6 November 2026 - 09:47 WIB

Potensi Nagari Sumbar Jadi Sorotan, Pemprov Gandeng Deryansha Azhary Dongkrak UMKM

Kamis, 5 November 2026 - 11:33 WIB

CPO Bengkulu Tercatat di Sumbar, Pemprov Siapkan Aturan Baru Mulai Desember

Rabu, 4 November 2026 - 10:29 WIB

648 Ribu Keluarga di Sumbar Kebagian 19.469 Ton Beras, Bantuan Diperpanjang hingga Desember

Selasa, 3 November 2026 - 08:54 WIB

Dana Perantau Minang Capai Rp20 Triliun, Wamendagri Bima Arya Ungkap Peluang Besar untuk Ekonomi Sumbar

Berita Terbaru