Harga Bahan Pokok Melonjak, Warteg Pangkas Menu Favorit hingga Banyak Usaha Kecil Terancam Tutup

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 6 Juni 2026 - 05:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Kenaikan harga bahan pokok kembali mengguncang usaha kecil di wilayah Pamulang, Tangerang Selatan. Sejumlah warteg kini tidak lagi menjual menu favorit pelanggan seperti rawon, terong balado, hingga opor ayam. Para pedagang mengaku terpaksa menyesuaikan operasional karena biaya bahan baku terus melonjak tajam, sementara daya beli masyarakat justru melemah.

Kondisi ini tidak hanya mengubah isi etalase warteg, tetapi juga menggeser pola konsumsi masyarakat yang semakin hemat. Banyak pelanggan kini mengurangi frekuensi makan di luar rumah, bahkan hanya mampu membeli satu porsi sederhana dalam sehari.

Para pelaku usaha kecil menyebut situasi saat ini lebih berat dibandingkan masa pandemi Covid-19. Mereka menghadapi tekanan ganda: biaya produksi naik, sementara penjualan turun signifikan.

Lonjakan Harga Bahan Baku Tekan Usaha Warteg

Pemilik Warteg 21 di Pamulang, Hery (42), menjadi salah satu yang paling terdampak. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan pokok membuat sejumlah menu tidak lagi layak jual.

Hery menyebut lonjakan harga terjadi pada bahan utama hingga jeroan yang menjadi komponen rawon. Kondisi ini membuat perhitungan modal tidak lagi seimbang dengan harga jual.

Ia menegaskan perubahan drastis itu dengan mengatakan:

“Terong naik dari Rp 8.000 ke Rp 16.000 per kilo, naiknya 100 persen. Rawon juga harga jeroannya naik dari Rp 30.000 ke Rp 55.000. Modal dan harga jualnya sudah tidak ketemu, jadi terpaksa saya hapus dari menu”

Selain itu, biaya belanja harian yang sebelumnya stabil kini ikut membengkak. Hery mencatat pengeluaran harian naik dari sekitar Rp 500.000 menjadi Rp 800.000 untuk barang yang sama.

Menu Favorit Hilang dari Etalase Warteg

Kenaikan harga tidak hanya menggerus keuntungan, tetapi juga mengubah tampilan menu di warteg. Beberapa hidangan populer kini menghilang dari daftar jual karena tidak lagi menguntungkan.

Baca Juga :  Mahyeldi Gandeng Apindo, UMKM Sumbar Didorong Naik Kelas dan Tembus Pasar Global

Terong balado, opor ayam, hingga rawon menjadi menu yang paling terdampak. Pedagang memilih menghapusnya agar usaha tetap bertahan di tengah tekanan biaya operasional.

Selain bahan makanan, harga perlengkapan seperti kantong plastik juga naik hampir dua kali lipat. Kondisi ini menambah beban harian yang harus ditanggung pedagang kecil.

Daya Beli Turun, Pelanggan Warteg Berkurang

Lina (37), pengelola Warteg Gria Bahari di Pamulang, menggambarkan situasi yang semakin sulit diprediksi. Ia menyebut penurunan pelanggan mencapai sekitar 50 persen.

Lina bahkan menilai kondisi saat ini lebih berat dibanding masa pandemi.

“Kalau saya bandingkan, jujur masih mending zaman Covid dah. Pas social distancing, orang masih butuh makan dan daya beli masih kuat. Kalau sekarang bener-bener berat, orang mau makan saja susah”

Ia juga menjelaskan perubahan pola konsumsi masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.

“2 tahun lalu, 3 tahun yang lalu, pelanggan tuh makan tuh masih berani. ‘Gue mau makan nih, nasi, telur sama gorengan, es teh manis.’ Lah sekarang tuh orang makan tuh mungkin satu hari sekali, itupun kalau kebagiannya di warteg sini, yang lain enggak kebagian jajan”

Banyak Warteg Terpaksa Tutup

Tekanan ekonomi tidak hanya membuat menu berkurang, tetapi juga memicu penutupan usaha di sejumlah titik. Lina mengamati banyak pedagang makanan di sekitar lokasi usahanya memilih berhenti dan pulang kampung.

Ia menggambarkan kondisi lingkungan yang mulai sepi dari aktivitas usaha kecil.

Baca Juga :  YouTube Premium Naik Harga, Paket Termurah Tembus Rp137 Ribu per Bulan

“Sampai ibu-ibu kontrakan di belakang bilang, ‘Kalau ada yang cari kontrakan itu ada empat pintu kosong’. Semuanya pedagang pada pulang kampung, ada pedagang pecel ayam, ada soto. Mereka sudah tidak kuat bayar perpanjang kontrak karena modalnya habis untuk nombok belanja”

Situasi ini menunjukkan tekanan tidak hanya terjadi di sektor penjualan, tetapi juga pada keberlangsungan tempat usaha dan hunian pedagang kecil.

Harapan Pedagang: Stabilitas Harga dan Perhatian Pemerintah

Di tengah kondisi yang semakin sulit, para pedagang berharap ada langkah nyata untuk menstabilkan harga bahan pokok. Mereka meminta pemerintah lebih aktif turun ke lapangan dan memantau kondisi pasar secara langsung.

“Tolong Pak, nih lihat, Pak, rakyat kamu nih, gitu kan. Jangan di atas cuman hanya sekadar duduk-duduk aja. Lihat ke lapangan. Coba cross check, harganya berapa nih,” ujar Lina

Para pelaku usaha kecil berharap kebijakan stabilisasi harga tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan pelaku usaha mikro yang kini berada di titik kritis.

FAQ

1. Mengapa menu warteg banyak yang hilang?

Karena harga bahan baku naik tajam sehingga tidak lagi seimbang dengan harga jual.

2. Menu apa saja yang paling terdampak?

Terong balado, opor ayam, dan rawon menjadi beberapa menu yang dihapus.

3. Apakah jumlah pelanggan juga berubah?

Ya, sejumlah pedagang melaporkan penurunan pelanggan hingga sekitar 50 persen.

4. Apakah kondisi ini lebih buruk dari pandemi?

Beberapa pedagang menyebut kondisi saat ini justru lebih sulit dibanding masa Covid-19.

5. Apa harapan para pedagang?

Mereka meminta pemerintah menstabilkan harga bahan pokok dan lebih sering turun ke lapangan.(Tim)

Berita Terkait

Kopi Kerinci Tembus Mesir, Pelindo Jambi Kirim 19,2 Ton
Gubernur Bengkulu Helmi Hasan Percepat Gaji ke-13 ASN dan PPPK, Rp60 Miliar Cair 8 Juni
BPJS Ketenagakerjaan Bengkulu Gandeng Media Center, Perluas Perlindungan Pekerja Informal hingga Pedagang dan Nelayan
Gebrakan Baru BGN: Efisiensi Anggaran MBG Digenjot
KAI Beri Diskon 30 Persen Tiket Kereta Ekonomi, Ini Jadwalnya
ERB 2026 ke Mentawai Jadi Sorotan, Distribusi Rupiah Ungkap Tantangan Nyata Akses Keuangan Wilayah Kepulauan
Bupati Merangin Tegas, PKS Wajib Ikuti Harga TBS Disbun Jambi, Tak Boleh Turunkan Sepihak
Terbongkar! Modus Pecah Banyak PT dan CV Bikin Aturan Pajak UMKM Berubah Total
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 05:00 WIB

Harga Bahan Pokok Melonjak, Warteg Pangkas Menu Favorit hingga Banyak Usaha Kecil Terancam Tutup

Jumat, 5 Juni 2026 - 21:00 WIB

Kopi Kerinci Tembus Mesir, Pelindo Jambi Kirim 19,2 Ton

Jumat, 5 Juni 2026 - 19:00 WIB

Gubernur Bengkulu Helmi Hasan Percepat Gaji ke-13 ASN dan PPPK, Rp60 Miliar Cair 8 Juni

Jumat, 5 Juni 2026 - 14:00 WIB

BPJS Ketenagakerjaan Bengkulu Gandeng Media Center, Perluas Perlindungan Pekerja Informal hingga Pedagang dan Nelayan

Jumat, 5 Juni 2026 - 11:30 WIB

Gebrakan Baru BGN: Efisiensi Anggaran MBG Digenjot

Berita Terbaru

Oplus_0

Teknologi

HP Jadul Tak Bisa Lagi Pakai WhatsApp, Ini Daftarnya

Sabtu, 6 Jun 2026 - 00:01 WIB