Pertamina Perketat Distribusi Pertalite, QR Code Jadi Kunci Subsidi Tepat Sasaran

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 26 April 2026 - 08:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Pertamina melalui anak usahanya, Pertamina Patra Niaga, memperkuat berbagai langkah untuk memastikan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite tepat sasaran.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menegaskan perusahaan terus menjalankan sejumlah strategi pengawasan di lapangan. Ia menyebut sistem digital hingga kolaborasi antar-lembaga menjadi kunci utama pengendalian distribusi.

“Pertamina menerapkan QR Code, memperkuat pengawasan bersama BPH Migas, serta mendorong penindakan hukum terhadap pelanggaran. Pemerintah daerah juga ikut mengawasi distribusi agar tepat sasaran,” kata Roberth, Kamis (23/4/2026).

QR Code Jadi Instrumen Pengendalian

Pertamina mengandalkan sistem QR Code untuk mencatat transaksi pembelian Pertalite. Sistem ini membantu perusahaan mengidentifikasi konsumen dan membatasi pembelian agar sesuai kriteria penerima subsidi.

Melalui digitalisasi tersebut, Pertamina dapat melacak distribusi BBM secara lebih transparan. Langkah ini sekaligus menutup celah penyalahgunaan yang selama ini kerap terjadi di lapangan.

Selain itu, aparat penegak hukum ikut menindak pelaku penyelewengan BBM subsidi. Sinergi ini diharapkan mampu memberikan efek jera sekaligus menjaga distribusi tetap adil.

Baca Juga :  Pertamina Borong Bensin RON 98 untuk April, Siapkan 5 Kargo 210 Ribu Barel

Kajian INDEF Soroti Konsumen Tak Tepat Sasaran

Di sisi lain, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengungkap fakta yang cukup mengkhawatirkan. Dalam kajian tahun 2023, lembaga ini menemukan sekitar 63 persen konsumen Pertalite berasal dari rumah tangga berpendapatan menengah ke atas.

Kepala Center of Industry, Trade and Investment INDEF, Andry Satrio Nugroho, menilai kondisi tersebut menunjukkan ketidaktepatan sasaran subsidi.

“Subsidi seharusnya menyasar masyarakat yang benar-benar membutuhkan, bukan kelompok dengan daya beli tinggi,” ujar Andry dalam sebuah diskusi energi di Jakarta.

Ia menilai skema subsidi berbasis komoditas membuka peluang besar bagi kelompok mampu untuk ikut menikmati BBM bersubsidi.

Usulan Perubahan Skema Subsidi

Andry mendorong pemerintah mengubah pendekatan subsidi. Ia menyarankan agar bantuan diberikan langsung kepada individu, bukan pada komoditas seperti BBM.

Menurut dia, skema tersebut akan menciptakan keadilan konsumsi energi. Masyarakat berpenghasilan rendah tetap bisa mengakses BBM berkualitas tanpa bergantung pada jenis subsidi tertentu.

“Pemerintah perlu menghindari pemisahan kualitas BBM antara masyarakat mampu dan tidak mampu. Semua kelompok harus memiliki akses yang setara,” ucapnya.

Baca Juga :  Harga BBM Awal Juni 2026 Naik-Turun: Pertamax Turbo Rp20.750, Dexlite Turun Drastis

Tekanan Fiskal dan Ketahanan Energi

Andry juga menyoroti dampak kebijakan subsidi terhadap anggaran negara. Ia menjelaskan, gejolak geopolitik global sering memicu kenaikan harga energi. Kondisi ini memaksa pemerintah menambah subsidi agar harga BBM tetap stabil.

Situasi tersebut meningkatkan tekanan fiskal secara signifikan. Karena itu, ia menilai reformasi subsidi menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan energi sekaligus kesehatan anggaran negara.

“Ketahanan energi harus berjalan seiring dengan ketahanan fiskal. Tanpa perbaikan kebijakan, beban subsidi akan terus meningkat,” katanya.

Sinergi Jadi Kunci

Pertamina menilai keberhasilan distribusi Pertalite tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kolaborasi berbagai pihak. Pengawasan dari regulator, aparat hukum, dan pemerintah daerah menjadi faktor penting dalam memastikan subsidi tepat sasaran.

Dengan kombinasi digitalisasi dan pengawasan ketat, pemerintah dan Pertamina berharap distribusi Pertalite semakin adil dan efisien. Upaya ini juga menjadi bagian dari reformasi energi nasional yang lebih berkelanjutan.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Pertamax Tembus Rp 16.250 per Liter, Harga BBM 10 Juni 2026 Naik dan Ubah Pola Konsumsi Warga
Kabar Baik dari Jambi, Sumur Minyak Warga Dongkrak Produksi Nasional
Harga BBM 7 Juni 2026: Diesel Turun, Pertamax Turbo Naik, Ini Daftar Lengkap di Seluruh SPBU RI
Buru Voucher Rp10 Ribu: Promo PLN Mobile JUNIVAGANZA Hebohkan Pengguna Token Listrik 2026
Laba PLN 2025 Turun 65,8%, Pendapatan Naik tapi Tertekan Beban
Tarif Listrik Juni 2026 Tetap, Ini Rincian Biaya per kWh Terbaru
Harga BBM Awal Juni 2026 Naik-Turun: Pertamax Turbo Rp20.750, Dexlite Turun Drastis
RI Ngebut Masuk Era B50, Solar Campur Sawit 50 Persen Siap Jalan dan Diklaim Pertama di Dunia
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 15:00 WIB

Pertamax Tembus Rp 16.250 per Liter, Harga BBM 10 Juni 2026 Naik dan Ubah Pola Konsumsi Warga

Senin, 8 Juni 2026 - 07:00 WIB

Kabar Baik dari Jambi, Sumur Minyak Warga Dongkrak Produksi Nasional

Minggu, 7 Juni 2026 - 11:00 WIB

Harga BBM 7 Juni 2026: Diesel Turun, Pertamax Turbo Naik, Ini Daftar Lengkap di Seluruh SPBU RI

Sabtu, 6 Juni 2026 - 06:57 WIB

Buru Voucher Rp10 Ribu: Promo PLN Mobile JUNIVAGANZA Hebohkan Pengguna Token Listrik 2026

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:00 WIB

Laba PLN 2025 Turun 65,8%, Pendapatan Naik tapi Tertekan Beban

Berita Terbaru