JAKARTA – Aktivitas penjualan minyak mentah dari China meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir. Lonjakan pasokan ini langsung menekan harga minyak global dan memicu kekhawatiran pelaku pasar energi dunia.
CEO Mercuria Energy Group Ltd., Marco Dunand, mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan minyak China secara agresif menawarkan minyak mentah melalui mekanisme tender ke berbagai negara. Ia menyampaikan hal tersebut dalam forum FT Commodities Global Summit di Lausanne.
Menurut Dunand, gelombang penjualan ini terjadi dalam dua hingga tiga minggu terakhir. Ia menilai langkah tersebut berhasil menarik minat pembeli karena harga yang ditawarkan sangat kompetitif.
Penjualan Agresif Picu Tekanan Harga
Perusahaan-perusahaan energi di China memanfaatkan momentum dengan melepas stok minyak dalam jumlah besar. Strategi ini meningkatkan suplai global secara signifikan. Ketika pasokan naik, harga minyak otomatis mengalami tekanan.
Dunand menjelaskan bahwa aksi jual ini belum menunjukkan tanda berhenti dalam waktu dekat. Ia memperkirakan tekanan harga akan terus berlangsung setidaknya hingga tiga minggu ke depan.
Pelaku pasar pun mulai menyesuaikan strategi perdagangan mereka. Banyak trader memilih menahan posisi atau mencari peluang di tengah volatilitas harga yang meningkat.
Faktor Geopolitik dan Stok Domestik
Beberapa faktor mendorong langkah agresif China. Pertama, perusahaan energi di negara tersebut ingin mengurangi stok domestik yang menumpuk. Kedua, distribusi minyak dari Iran kembali berjalan setelah meredanya konflik geopolitik.
Selain itu, pasar juga merespons harapan pembukaan kembali jalur strategis di Selat Hormuz. Jalur ini memiliki peran penting dalam distribusi minyak global. Ketika akses membaik, pasokan global ikut meningkat.
Kombinasi faktor-faktor ini mempercepat aliran minyak ke pasar internasional. Akibatnya, tekanan terhadap harga semakin kuat.
Permintaan Bensin China Mulai Melemah
Di sisi lain, permintaan energi domestik China justru menunjukkan tren penurunan. Mercuria memperkirakan konsumsi bensin di China akan turun sekitar 1 juta barel per hari sepanjang tahun ini.
Penurunan ini terjadi seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik. Transformasi sektor transportasi di China mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Perubahan ini menciptakan kelebihan pasokan di dalam negeri. Perusahaan energi pun memilih mengekspor kelebihan tersebut ke pasar global.
Dampak ke Pasar Global
Kondisi ini memberi dampak luas terhadap pasar energi dunia. Negara-negara importir mendapat keuntungan karena harga lebih rendah. Namun, produsen minyak menghadapi tekanan pendapatan akibat turunnya harga jual.
Pelaku industri memperkirakan situasi ini hanya bersifat sementara. Setelah periode penjualan agresif berakhir, pasar kemungkinan akan kembali mencari keseimbangan baru antara suplai dan permintaan.
Meski begitu, dinamika geopolitik dan perubahan pola konsumsi energi tetap menjadi faktor kunci yang akan menentukan arah harga minyak ke depan.
Prospek Jangka Pendek
Dalam jangka pendek, pasar masih akan menghadapi tekanan harga. Volume pasokan yang tinggi membuat ruang kenaikan harga menjadi terbatas.
Namun, jika penjualan dari China mulai berkurang dan permintaan global meningkat, harga minyak berpotensi pulih secara bertahap.
Pelaku pasar kini terus memantau perkembangan kebijakan energi China, kondisi geopolitik di Timur Tengah, serta tren penggunaan energi alternatif. Ketiga faktor ini akan menjadi penentu utama arah pasar minyak global dalam beberapa bulan mendatang.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









