JAKARTA – Perjuangan Abdul Azis (45), guru honorer di Jakarta Utara, akhirnya membuahkan hasil. Setelah enam bulan mengajar dengan sepeda pinjaman, ia kini bisa bernapas lega. Sejumlah relawan menyerahkan satu unit sepeda motor baru kepada Azis pada Rabu (22/4/2026).
Momen haru itu terjadi di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Islam 1 Kamal Muara, tempat Azis mengajar. Penyerahan berlangsung sederhana, namun penuh emosi dan rasa syukur.
Penyerahan Motor Usai Awasi Ujian
Azis menerima bantuan tersebut tepat setelah ia menyelesaikan tugas mengawasi ujian siswa kelas enam. Ia keluar dari ruang ujian dan langsung menuju halaman sekolah, tempat relawan telah menyiapkan kejutan.
Sejumlah relawan dari komunitas Gerak Bareng datang membawa sepeda motor yang mereka kumpulkan dari hasil donasi. Mereka menutup kendaraan itu dengan kain berwarna oranye sebelum prosesi penyerahan dimulai.
Para siswa dan guru ikut menyaksikan momen tersebut. Suasana sekolah pun berubah menjadi penuh antusias.
Tangis Haru Saat Kain Dibuka
Relawan kemudian membuka kain penutup di hadapan Azis. Sebuah sepeda motor Honda Genio berwarna krem terlihat sudah dihias pita sebagai simbol penyerahan.
Azis langsung terdiam. Ia tidak mampu menahan rasa haru. Air matanya mengalir saat melihat kendaraan tersebut.
Ia kemudian memeluk salah satu relawan sebagai bentuk rasa terima kasih. Momen itu membuat suasana semakin emosional.
“Alhamdulillah, saya senang sekali. Setelah kurang lebih enam bulan harus gowes, akhirnya ada orang baik yang memberikan motor. Saya benar-benar terharu,” ujar Azis.
Enam Kilometer Setiap Hari dengan Sepeda
Selama enam bulan terakhir, Azis menjalani rutinitas berat. Ia berangkat dari Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat menuju Penjaringan, Jakarta Utara.
Ia menempuh jarak sekitar enam kilometer setiap hari menggunakan sepeda lipat pinjaman dari keluarganya. Ia melakukan itu sejak motornya hilang pada November 2025.
Meski menghadapi keterbatasan, Azis tetap menjalankan tugasnya sebagai guru honorer. Ia tidak pernah mengeluh di hadapan murid-muridnya.
Tetap Antar Anak Sekolah
Tidak hanya mengajar, Azis juga tetap mengurus keluarganya. Ia mengantar anaknya ke sekolah menggunakan sepeda yang sama.
Rutinitas itu ia jalani setiap hari dengan penuh kesabaran. Ia harus membagi tenaga antara pekerjaan dan tanggung jawab sebagai ayah.
Kondisi tersebut membuat perjuangannya semakin terasa berat. Namun, ia tetap bertahan demi keluarga dan murid-muridnya.
Bantuan Jadi Titik Balik
Bantuan sepeda motor ini menjadi titik balik bagi kehidupan Azis. Ia kini memiliki alat transportasi yang lebih layak untuk mendukung aktivitasnya.
Dengan kendaraan baru itu, ia berharap bisa menjalankan tugas mengajar dengan lebih optimal. Ia juga ingin lebih mudah mengantar anaknya ke sekolah.
“Mudah-mudahan ini membawa keberkahan untuk kita semua, terutama bagi orang-orang baik yang sudah membantu,” ucapnya.
Soroti Nasib Guru Honorer Lain
Di tengah rasa bahagia, Azis tetap mengingat rekan-rekannya sesama guru honorer. Ia menyadari masih banyak guru lain yang menghadapi kondisi serupa.
Ia berharap perhatian terhadap kesejahteraan guru honorer semakin meningkat. Menurutnya, para guru membutuhkan dukungan agar bisa mengajar dengan lebih baik.
Kisah Azis menjadi gambaran nyata perjuangan guru honorer di Indonesia. Di balik keterbatasan, mereka tetap menjalankan tugas mencerdaskan generasi bangsa.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









