JAKARTA – Perusahaan-perusahaan di Singapura mulai menahan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah lonjakan biaya energi dan kekhawatiran kenaikan upah tenaga kerja. Pelaku usaha memilih langkah hati-hati sambil menunggu arah kebijakan pemerintah.
Survei Federasi Pengusaha Nasional Singapura pada 10–16 April menunjukkan 96% responden menghadapi kenaikan biaya operasional. Lebih dari separuh responden juga mengkhawatirkan kenaikan biaya tenaga kerja dalam waktu dekat.
Tekanan biaya tidak hanya datang dari energi. Perusahaan juga merasakan efek domino dari kenaikan harga bahan baku, biaya logistik, dan pengelolaan persediaan. Kondisi ini membuat banyak pelaku usaha menahan ekspansi dan mengatur ulang strategi bisnis.
Meski ekonomi global masih bergejolak, mayoritas perusahaan memilih menunda perubahan besar pada tenaga kerja. Mereka berharap pemerintah tidak menambah kebijakan baru yang bisa memperbesar beban biaya.
Sejumlah perusahaan kini menjalankan langkah efisiensi. Mereka membekukan perekrutan, menunda ekspansi, dan merelokasi karyawan ke posisi lain. Beberapa perusahaan juga mengurangi jumlah pekerja melalui pengunduran diri alami, bukan PHK langsung.
Langkah ini menunjukkan perusahaan berusaha menjaga stabilitas operasional tanpa memicu gejolak tenaga kerja. Namun, jika tekanan biaya terus meningkat, pelaku usaha tidak menutup kemungkinan akan mengambil kebijakan yang lebih tegas ke depan.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









