YOGYAKARTA – Kreativitas siswa SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta kembali mencuri perhatian dunia otomotif. Melalui proyek pembelajaran berbasis riset, para siswa berhasil merancang dan membangun motor drag race listrik yang mampu melesat hingga 134,5 kilometer per jam.
Motor listrik tersebut mengusung nama Mugatech. Tim siswa bersama guru pembimbing mengembangkan kendaraan ini sebagai media praktik sekaligus bukti bahwa kendaraan listrik buatan pelajar Indonesia mampu menghadirkan performa tinggi.
Keberhasilan tersebut tidak lahir secara instan. Tim membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk melakukan riset, pengujian, hingga penyempurnaan desain sebelum motor mencapai performa terbaiknya.
Berawal dari Keinginan Menghadirkan Transportasi Tanpa BBM
Ketua Jurusan Teknik Pemesinan SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta, Hindro Harimawan, menjelaskan bahwa gagasan membangun motor listrik berangkat dari kebutuhan menghadirkan kendaraan yang tidak lagi bergantung pada bahan bakar minyak.
Menurutnya, ketersediaan BBM suatu saat akan semakin terbatas, sementara harga energi terus mengalami kenaikan. Karena itu, sekolah mendorong siswa mencari solusi melalui inovasi teknologi.
“Jadi motor listrik itu kan kita ingin punya inovasi. Jadi membuat alat transportasi atau yang sering digunakan masyarakat, tapi tanpa BBM. Soalnya stok BBM lama-lama juga nipis, terus harganya semakin naik. Nah, kita buat motor yang minimal bisa menyamai kecepatannya dengan motor berbahan bakar BBM,” kata Hindro.
Setelah mendapatkan ide tersebut, Hindro langsung mengajak siswa untuk terlibat dalam proyek pengembangan kendaraan listrik. Respons para siswa ternyata sangat positif karena sebagian besar memiliki minat besar terhadap dunia otomotif.
“Jadi akhirnya saya lemparkan ide itu ke anak-anak. Ternyata respons mereka positif, apalagi mereka juga suka motor. Sering modifikasi motor, benerin motor, custom motor. Makanya anak-anak semangat dan tanggapannya positif. Jadi kita kerjakan,” ujarnya.
Pilih Konsep Drag Race Agar Lebih Menantang
Alih-alih membuat motor listrik harian seperti kebanyakan proyek sekolah lainnya, tim pengembang memilih konsep motor drag race.
Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Hindro menilai motor listrik untuk penggunaan sehari-hari sudah cukup banyak beredar sehingga tantangan inovasinya tidak terlalu besar.
“Karena kalau motor buat sehari-hari itu sudah terlalu banyak. Bahkan sudah ada sepeda listrik. Kalau bikin seperti itu rasanya biasa saja, kurang heboh. Jadi biar motor yang kecepatannya tinggi,” katanya.
Keputusan tersebut kemudian membawa tim pada berbagai tantangan teknis, mulai dari perancangan rangka hingga pemilihan sistem penggerak yang mampu menghasilkan akselerasi tinggi.
Sekolah Kucurkan Dana Puluhan Juta Rupiah
Untuk merealisasikan proyek tersebut, pihak sekolah mengalokasikan dana sekitar Rp30 juta.
Sebagian besar anggaran terserap untuk membeli komponen utama kendaraan listrik, terutama baterai, motor listrik, dan kontroler yang menjadi jantung penggerak kendaraan.
“Kalau biaya kurang lebih sekitar Rp30 jutaan. Yang mahal itu komponen listriknya, seperti baterai, dinamo atau motor listriknya, dan kontroler,” jelas Hindro.
Ia menambahkan, seluruh pendanaan berasal dari sekolah setelah proposal pengembangan kendaraan listrik mendapat persetujuan kepala sekolah.
“Iya, dari sekolah. Jadi setiap jurusan ditawari. Kebetulan setahun yang lalu belum ada jurusan yang mengajukan. Maka kami ajukan dan alhamdulillah disetujui Pak Kepala Sekolah, akhirnya mulai dieksekusi,” ujarnya.
Enam Bulan Riset dan Uji Coba Berulang
Selama proses pengerjaan, tim tidak langsung memperoleh hasil yang sesuai harapan. Para siswa harus menjalani berbagai tahap pengujian, evaluasi, dan perbaikan desain.
Hindro mengungkapkan bahwa tim menerapkan metode trial and error untuk menemukan konfigurasi terbaik.
“Karena ini modelnya trial and error. Jadi kita buat dulu rangkanya, kemudian dirakit sama motornya. Setelah jadi ternyata motornya terlalu panjang, kurang estetik. Akhirnya harus dipotong dan dilas lagi. Jadi tidak sekali jadi, sering riset,” katanya.
Berbagai revisi tersebut justru memberikan pengalaman berharga bagi siswa. Mereka tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga menghadapi tantangan nyata dalam pengembangan kendaraan listrik.
Secara keseluruhan, tim membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk menyelesaikan proyek Mugatech. Siswa dari beberapa angkatan ikut terlibat sehingga proses pembelajaran berlangsung secara berkelanjutan.
Bukti Potensi Inovasi Kendaraan Listrik dari Sekolah
Keberhasilan Mugatech menunjukkan bahwa sekolah vokasi memiliki potensi besar dalam mendukung perkembangan industri kendaraan listrik nasional.
Melalui proyek semacam ini, siswa tidak hanya mengasah keterampilan teknik, tetapi juga membangun kemampuan riset, pemecahan masalah, dan inovasi teknologi.
Dengan kecepatan yang mencapai 134,5 km/jam, motor drag listrik buatan siswa SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta menjadi salah satu contoh nyata bahwa generasi muda Indonesia mampu menghasilkan karya otomotif berteknologi tinggi yang kompetitif.
FAQ
Berapa kecepatan maksimum motor drag listrik Mugatech?
Motor drag listrik Mugatech mampu mencapai kecepatan maksimum 134,5 kilometer per jam.
Siapa yang membuat motor listrik tersebut?
Siswa SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta mengembangkan motor tersebut bersama guru pembimbing dari Jurusan Teknik Pemesinan.
Berapa biaya pembuatan motor drag listrik Mugatech?
Sekolah mengalokasikan dana sekitar Rp30 juta untuk membangun kendaraan tersebut.
Apa komponen paling mahal dalam proyek ini?
Baterai, motor listrik (dinamo), dan kontroler menjadi komponen dengan biaya terbesar.
Berapa lama proses pengerjaan motor listrik Mugatech?
Tim membutuhkan waktu sekitar enam bulan, termasuk riset, pengujian, dan penyempurnaan desain.
Penulis : Al Amsori
Editor : Ichwan Diaspora









