Jakarta — Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) merilis temuan awal studi tentang dampak Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terhadap rumah tangga dan anak penerima manfaat. Studi ini bertujuan memperkaya diskusi kebijakan. Selama ini, banyak pihak menyoroti dampak makro. Sementara itu, pembuat kebijakan dan peneliti belum banyak membahas perubahan nyata di tingkat keluarga.
Dampak Ekonomi Masih Terbatas, Lebih Sebagai Penyangga Konsumsi
Berdasarkan hasil awal, tim peneliti yang melibatkan sekitar 1.800 orang tua menemukan 36 persen rumah tangga mengalami penurunan pengeluaran harian. Penurunan paling banyak terjadi pada biaya bekal makan dan uang saku anak. Namun demikian, sekitar 63 persen responden menyebut penghematan masih berada di bawah 10 persen dari total pengeluaran bulanan.
Temuan ini menunjukkan program membantu keluarga menjaga stabilitas pengeluaran rutin. Meski begitu, program belum mengubah struktur ekonomi rumah tangga secara signifikan. Karena itu, MBG saat ini lebih berperan sebagai bantalan konsumsi jangka pendek.
Dukungan Rumah Tangga Rentan Tergolong Tinggi
Di sisi lain, masyarakat menunjukkan dukungan kuat terhadap program, terutama kelompok rumah tangga rentan. Peneliti RISED, M Fajar Rakhmadi, menjelaskan dukungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penghematan biaya.
Ia menyebut sekitar 81 persen orang tua dari kelompok rentan mendukung keberlanjutan program. Selain itu, banyak orang tua merasakan ketenangan karena anak memperoleh akses makanan bergizi selama berada di sekolah.
Konsistensi Distribusi Program Dinilai Baik
Sementara itu, sebanyak 84 persen orang tua melaporkan anak menerima program setiap hari sekolah. Meski begitu, 69 persen responden baru mengikuti program kurang dari enam bulan. Kondisi ini membuat peneliti belum bisa melihat dampak jangka panjang secara menyeluruh.
Karena itu, peneliti menilai evaluasi lanjutan sangat penting. Evaluasi tersebut akan membantu pemerintah melihat efektivitas program dalam jangka menengah dan panjang.
Perubahan Perilaku Konsumsi Anak Mulai Terlihat
Selain dampak ekonomi, studi juga mencatat perubahan pola makan anak. Sebanyak 72 persen orang tua melaporkan anak lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi.
Selain itu, 55 persen responden menyebut anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan. Temuan ini menunjukkan program mulai mendorong perubahan perilaku konsumsi. Namun, peneliti belum menemukan kesimpulan pasti terkait status gizi objektif, kondisi kesehatan umum, dan capaian pendidikan.
Potensi Pengalihan Pengeluaran ke Sektor Produktif
Selanjutnya, ekonom dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menilai program berpotensi menekan beban pengeluaran keluarga, terutama kelompok menengah rentan.
Ia mencontohkan keluarga dengan dua anak bisa menghemat hingga Rp600.000 per bulan. Ia menggunakan asumsi Rp15.000 per anak per hari selama sekitar 20 hari sekolah. Menurutnya, keluarga dapat mengalihkan dana tersebut ke kebutuhan yang lebih produktif, seperti pendidikan dan kesehatan.
Perlu Evaluasi Berkelanjutan dan Kejelasan Posisi Program
Pada akhirnya, RISED menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan. Evaluasi tersebut akan memastikan efektivitas program. Selain itu, RISED juga mendorong pemerintah memperjelas posisi program. Saat ini, MBG berada di antara program perlindungan sosial, intervensi gizi, dan instrumen ekonomi rumah tangga.
Sebagai informasi, RISED berdiri pada 2018 dan berkantor pusat di Surabaya. Lembaga ini meneliti kebijakan sosial-ekonomi. Fokus kajian meliputi isu kemiskinan, kesehatan, ekonomi digital, dan transportasi dengan pendekatan berbasis bukti.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









