JAKARTA – Sejumlah Koperasi Merah Putih di Jakarta mulai mencatat aktivitas penjualan yang cukup ramai. Warga memanfaatkan koperasi untuk membeli kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Meski demikian, pengurus mengakui margin keuntungan dari penjualan sembako masih sangat terbatas. Oleh karena itu, mereka terus menjalankan berbagai strategi agar koperasi tetap tumbuh sekaligus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pembeli Terus Berdatangan Sejak Koperasi Beroperasi
Koperasi Merah Putih Pondok Kelapa di Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, melayani masyarakat setiap Senin hingga Jumat pukul 09.00–17.00 WIB. Sementara itu, koperasi membuka layanan hingga pukul 12.00 WIB setiap Sabtu.
Pengawas Koperasi Merah Putih Pondok Kelapa, Tata, mengatakan jumlah pembeli terus meningkat karena koperasi menawarkan harga yang bersaing.
“Kalau misalnya contoh seperti telor, paling kita antara 5 sampai 7 persen (untungnya). Ada juga yang sangat tipis (keuntungannya),” ujar Tata.
Namun, margin keuntungan dari sejumlah kebutuhan pokok memang belum besar. Karena itu, pengurus terus mencari cara agar koperasi tetap memperoleh pendapatan yang sehat.
Pengurus Tekan Biaya dengan Mencari Pemasok Terdekat
Selain meningkatkan penjualan, pengurus juga berupaya menekan biaya operasional. Tata menjelaskan koperasi membeli berbagai jenis barang sekaligus dari pemasok yang lokasinya lebih dekat. Strategi tersebut membantu mengurangi biaya angkut sekaligus meningkatkan efisiensi belanja.
“Nah itu yang kami harus memiliki, sumber dekat yang punya multi barangan gitu. Kalau kami hanya beli cuma misalnya telor nih satu kilo, kan enggak mungkin dengan selisih yang hanya sekian rupiah itu kan? Berarti kami harus beli yang lebih banyak gitu. Nah belanja-belanja ini kan ada selisih, itu yang bisa kami ambil keuntungannya,” jelasnya.
Di sisi lain, Tata memastikan koperasi mencatat seluruh transaksi secara terbuka. Selanjutnya, anggota membahas laporan keuangan melalui Rapat Anggota Tahunan (RAT).
“Pada akhir tahun kami bikin RAT (Rapat Anggota Tahunan). Biasa kalau koperasi itu kan begitu, anggotanya yang buat kan segala keputusan itu ya di rapat anggota,” katanya.
Promo Bundling Dorong Penjualan Sembako
Sementara itu, Koperasi Merah Putih Bangka di Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, menghadapi kondisi serupa. Pengurus koperasi, Hafiz, mengatakan margin keuntungan sembako hanya mencapai beberapa persen.
“Kalau sembako memang kecil (keuntungannya), dapat 6 persen juga udah bagus. Kalau air mineral mendingan bisa 10 persen. Apalagi beras, keuntungannya paling 3 persen kadang-kadang,” ujarnya.
Meski demikian, koperasi tidak berhenti berinovasi. Hafiz bersama pengurus rutin menawarkan paket bundling sembako. Mereka juga memanfaatkan momentum Ramadan dan Idulfitri untuk meningkatkan penjualan.
“Setelah lebaran kemarin sih berkurang ya (pembelinya). Ketika momen puasa itu emang sembako emang ramai karena kita buka buat paket sembako Rp100.000 isinya berapa item, Rp150.000 sampai Rp175.000. Itu ramai ketika lebaran,” terangnya.
Selain itu, koperasi menyediakan paket sembako bulanan bagi petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).
“Kita sih itunya (paket sembako) sebulan sekali rutin buat PPSU,” ucap Hafiz.
Sistem Konsinyasi Bantu Kurangi Kebutuhan Modal
Untuk menjaga harga tetap kompetitif, koperasi memperoleh sebagian produk dari Bulog. Selanjutnya, pengurus mencari pemasok lain yang menawarkan harga lebih rendah untuk berbagai kebutuhan harian.
“Barang-barang subsidi Bulog. Untuk barang lain pokoknya nyari suplier atau agen yang murah. Minyak Kita ke Bulog. Kalau beras itu belum punya yang berani, soalnya kan beli putus, butuh modal,” kata Hafiz.
Menurutnya, skema konsinyasi dari Food Station memberi keuntungan lebih besar karena koperasi hanya membayar barang yang sudah terjual.
“Kita sih berharap bisa di Food Station karena kan bisa konsinyasi, kita nggak perlu modal kan. Kalau ke Bulog kan harus beli putus. Kalau konsinyasi itu berarti kalau laku baru dibayar gitu ya,” jelasnya.
Selain itu, Hafiz menyebut Minyakita menjadi salah satu produk paling diminati warga karena koperasi menjualnya sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Minyak sebenernya itu ada Tropical, tapi beli putus juga. Kita berupaya maksimal (harga) samalah sama pasar. Kalau Minyakita pasti lebih murah karena kan kita sesuai HET. Di pasar kan bisa Rp18.000-an, kalau HET-nya Rp15.700. Kita jual sesuai itu,” katanya.
Koperasi Melawai Siapkan Langkah Pengembangan
Di sisi lain, Koperasi Merah Putih Melawai di Kebayoran Baru terus melayani pembeli setiap hari. Karyawan koperasi, Nana, mengatakan jumlah pengunjung meningkat setiap akhir pekan.
“Alhamdulillah rame, apalagi kalau pas libur Sabtu Minggu, sampe penuh ini,” ujar Nana.
Menurutnya, banyak tenant di kawasan Blok M Hub membeli gas dan berbagai kebutuhan harian di koperasi tersebut.
“Lumayan banyak sih yang dari tenant-tenant di sini, beli gas, paling itu sih yang seringnya,” katanya.
Sementara itu, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menilai koperasi di kawasan perkotaan membutuhkan model bisnis yang berbeda dengan koperasi di pedesaan. Karena itu, Kementerian Koperasi segera menyusun prototipe khusus agar koperasi di kota besar mampu bersaing sekaligus berkembang secara berkelanjutan.
FAQ
Mengapa keuntungan Koperasi Merah Putih tergolong kecil?
Karena sebagian besar koperasi menjual kebutuhan pokok dengan margin keuntungan yang hanya berkisar 3–7 persen.
Bagaimana koperasi meningkatkan pendapatan?
Pengurus meningkatkan penjualan melalui paket bundling, memanfaatkan momen hari besar, mencari pemasok murah, serta menggunakan sistem konsinyasi.
Mengapa koperasi di kota memerlukan model bisnis berbeda?
Persaingan dengan minimarket lebih ketat, biaya operasional lebih tinggi, dan karakter pasar perkotaan berbeda dengan wilayah pedesaan.
Apa manfaat sistem konsinyasi bagi koperasi?
Sistem ini membantu koperasi mengurangi kebutuhan modal karena pembayaran kepada pemasok dilakukan setelah barang terjual.(Tim)









