Kebijakan LPG Baru Picu Tekanan Industri, Nafta Dialihkan

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 15 April 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Pemerintah mengubah strategi pasokan energi dengan mengalihkan nafta untuk memperkuat ketersediaan LPG dalam negeri. Kebijakan ini langsung memicu tekanan baru pada industri petrokimia yang masih bergantung pada impor bahan baku.

Kementerian ESDM memprioritaskan pasokan LPG, terutama tabung 3 kg, untuk kebutuhan rumah tangga. Langkah ini muncul di tengah gangguan pasokan global akibat konflik di Timur Tengah.

Sekretaris Jenderal Ditjen Migas Kementerian ESDM, Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam, menegaskan pemerintah mengoptimalkan kilang domestik. Salah satunya melalui pengalihan produksi di Kilang Balikpapan.

“Produksi propylene kami kurangi. Kami geser bahan baku nafta untuk memperkaya LPG,” kata Rizwi dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI.

Pemerintah juga menginstruksikan kilang LPG swasta agar memprioritaskan penjualan ke PT Pertamina Patra Niaga. Sebelumnya, produsen lebih banyak memasok industri.

Di sisi lain, pemerintah aktif mencari pasokan LPG dari kawasan Asia dan ASEAN untuk menutup potensi kekurangan dari Timur Tengah.

Baca Juga :  Listrik Sumatera Kembali Normal, PLN Jamin Stabil Usai Blackout

Peneliti CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kebijakan ini tidak menyelesaikan masalah utama. Ia melihat pemerintah hanya memindahkan tekanan dari sektor energi ke sektor industri.

“Ketergantungan impor LPG yang lebih dari 80 persen membuat pilihan pemerintah sangat terbatas,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengurangan pasokan nafta berpotensi mengganggu produksi petrokimia, termasuk plastik. Kondisi ini bisa memicu kenaikan harga bahan baku, mengganggu produksi, dan menekan margin industri.

Industri makanan dan minuman, farmasi, hingga manufaktur ringan menjadi sektor paling rentan. Semua sektor itu sangat bergantung pada bahan plastik.

Dari sisi pelaku usaha, Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menilai dampak langsung dari Kilang Balikpapan masih terbatas.

Sekjen Inaplas, Fajar Budiono, menyebut kilang tersebut belum memasok nafta untuk petrokimia domestik.

“Impact langsung belum terasa,” ujarnya.

Namun, ia menyoroti masalah utama lain, yaitu ketergantungan impor bahan baku. Indonesia hanya memiliki dua produsen petrokimia, sementara pasokan nafta masih didominasi impor.

Baca Juga :  Pemerintah Perketat Distribusi BBM Lewat Sistem Digital, Ini Jenisnya

Impor

Sekitar 70 persen impor berasal dari Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz. Gangguan di jalur ini langsung memicu lonjakan harga global.

Pelaku industri kini mencari alternatif pasokan dari Amerika, Afrika, dan Asia Tengah. Namun, distribusi dari wilayah tersebut memakan waktu hingga 50 hari, jauh lebih lama dibandingkan 10-15 hari dari Timur Tengah.

“Kami sekarang masuk mode bertahan. Kami produksi dan jual sesuai kebutuhan pasar,” kata Fajar.

Industri juga mulai menjajaki penggunaan LPG atau propane sebagai bahan baku alternatif. Secara teknologi, opsi ini memungkinkan, tetapi biaya masih menjadi kendala.

Saat ini, LPG masih dikenakan bea masuk 5 persen. Kondisi ini membuatnya kalah bersaing dibandingkan nafta.

Pelaku industri pun meminta pemerintah menghapus bea masuk tersebut agar LPG bisa menjadi solusi bahan baku.

“Kami sudah ajukan agar LPG bisa digunakan tanpa bea masuk,” ujar Fajar.

Penulis : Idp

Editor : Ichwan Diaspora

Berita Terkait

Laba PLN 2025 Turun 65,8%, Pendapatan Naik tapi Tertekan Beban
Tarif Listrik Juni 2026 Tetap, Ini Rincian Biaya per kWh Terbaru
Harga BBM Awal Juni 2026 Naik-Turun: Pertamax Turbo Rp20.750, Dexlite Turun Drastis
RI Ngebut Masuk Era B50, Solar Campur Sawit 50 Persen Siap Jalan dan Diklaim Pertama di Dunia
Bensin Baru E5 Mulai Mengalir Juli 2026, Bioetanol Lokal 26 Ribu KL Siap Ubah Peta Energi RI
BBM Naik Beruntun 4 Kali dalam 10 Hari, Krisis Energi Global Picu Lonjakan Harga dan Tekan Ekonomi Dunia
Listrik Sumatera Kembali Normal, PLN Jamin Stabil Usai Blackout
Gangguan SUTT Picu Pemadaman Listrik Bergilir di Kerinci–Sungai Penuh, Aktivitas Warga Terganggu
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 11:00 WIB

Laba PLN 2025 Turun 65,8%, Pendapatan Naik tapi Tertekan Beban

Senin, 1 Juni 2026 - 19:00 WIB

Tarif Listrik Juni 2026 Tetap, Ini Rincian Biaya per kWh Terbaru

Senin, 1 Juni 2026 - 10:00 WIB

Harga BBM Awal Juni 2026 Naik-Turun: Pertamax Turbo Rp20.750, Dexlite Turun Drastis

Sabtu, 30 Mei 2026 - 16:00 WIB

RI Ngebut Masuk Era B50, Solar Campur Sawit 50 Persen Siap Jalan dan Diklaim Pertama di Dunia

Jumat, 29 Mei 2026 - 19:00 WIB

Bensin Baru E5 Mulai Mengalir Juli 2026, Bioetanol Lokal 26 Ribu KL Siap Ubah Peta Energi RI

Berita Terbaru