JAKARTA – Emiten kemasan plastik PT Sinergi Inti Plastindo Tbk (ESIP) mempercepat ekspansi bisnis pada 2026. Perusahaan ini menyiapkan pembangunan pabrik baru dengan nilai investasi sekitar Rp 200 miliar. Langkah ini sekaligus membuka jalan masuk ke lini bisnis kemasan berbahan kertas.
Presiden Direktur ESIP, Eric Budisetio Kurniawan, menyebut perusahaan telah mengamankan stok bahan baku sebelum konflik global mendorong lonjakan harga plastik. Strategi ini membuat operasional produksi tetap stabil hingga beberapa bulan ke depan.
“Kami sudah siapkan bahan baku lebih awal. Jadi kami bisa menjaga produksi dan memanfaatkan kenaikan harga jual untuk mendongkrak pendapatan,” ujar Eric.
Strategi Hadapi Lonjakan Harga Bahan Baku
Kenaikan harga bahan baku plastik akibat konflik global memaksa pelaku industri melakukan penyesuaian. ESIP memilih menjaga pasokan sekaligus menyesuaikan harga jual produk.
Perusahaan juga menjajaki impor bahan baku dari China dan India. Namun, opsi ini membawa konsekuensi berupa bea masuk hingga sekitar 20%. Meski demikian, ESIP lebih memprioritaskan ketersediaan material dibandingkan sekadar harga.
Langkah ini membuka peluang bagi ESIP untuk merebut pangsa pasar dari kompetitor yang mengalami kendala produksi.
Bangun Pabrik Baru di Tangerang
ESIP menyiapkan pembangunan pabrik baru di kawasan Balaraja Timur, Tangerang. Pabrik ini akan memperkuat kapasitas produksi sekaligus mendukung diversifikasi produk.
Saat ini, ESIP mengoperasikan pabrik dengan kapasitas sekitar 4.000 ton per tahun. Perusahaan menargetkan kapasitas produksi meningkat hingga dua kali lipat setelah pabrik baru beroperasi.
Manajemen memperkirakan dampak peningkatan kapasitas mulai terasa pada 2027, terutama terhadap pertumbuhan pendapatan.
Ekspansi ke Kemasan Kertas
Selain memperkuat bisnis inti plastik, ESIP mulai mengembangkan kemasan berbahan kertas. Langkah ini mengikuti tren global yang mengarah pada pengurangan penggunaan plastik.
Perusahaan menargetkan sekitar 20% produksi berasal dari lini non-plastik di masa depan. Produk berbasis kertas ini akan mulai memasuki tahap uji coba pada 2026 dan berlanjut ke produksi komersial pada 2027.
“Kami mulai mengembangkan alternatif seperti kantong kertas untuk menggantikan plastik di beberapa segmen,” jelas Eric.
Siapkan Rights Issue
Untuk mendukung ekspansi, ESIP membuka peluang pendanaan melalui aksi korporasi rights issue. Perusahaan merencanakan aksi ini berlangsung pada kuartal II 2026.
Langkah ini diharapkan memperkuat struktur permodalan sekaligus memastikan proyek ekspansi berjalan sesuai rencana.
Kinerja 2025 dan Target 2026
Berdasarkan laporan keuangan 2025, ESIP mencatat pendapatan Rp 57,97 miliar atau turun 5,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Meski begitu, perusahaan berhasil meningkatkan EBITDA menjadi Rp 3,69 miliar.
Laba bersih juga melonjak 63,5% menjadi Rp 1,44 miliar. Peningkatan ini didorong oleh efisiensi operasional dan kenaikan harga jual produk.
Untuk 2026, ESIP menargetkan pertumbuhan agresif dengan proyeksi pendapatan bisa meningkat hingga dua kali lipat. Perusahaan juga akan fokus memperluas pasar domestik yang masih memiliki potensi besar.
Fokus Pasar Dalam Negeri
ESIP memilih tetap fokus pada pasar domestik dalam waktu dekat. Manajemen menilai permintaan dalam negeri masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan bisnis.
Dengan strategi ekspansi, diversifikasi produk, dan penguatan pasokan, ESIP optimistis dapat memperkuat posisi di industri kemasan nasional sekaligus menangkap peluang dari perubahan tren global.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









