Jakarta –
Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka kembali perdagangan saham PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) pada Kamis (5/2/2026). BEI menangguhkan saham emiten Harita Group ini sejak 23 Januari 2026 karena harga saham naik signifikan dalam waktu singkat.
Saat suspensi dibuka, investor langsung mendorong saham TIRT melonjak ke auto reject atas (ARA) sebesar +9,44% ke Rp 510 per saham. Menariknya, dalam tiga bulan terakhir, harga saham TIRT naik lebih dari 1.000% dari Rp 44. Kini, BEI menempatkan saham ini di papan pemantauan khusus full call auction (FCA).
Transformasi Bisnis dari Kayu ke Angkutan Laut
Awalnya, TIRT memproduksi dan menjual produk kayu terintegrasi, seperti plywood, blockboard, moulding, dan produk terkait kayu sejak 1981. Namun, belakangan perusahaan mulai merambah bisnis baru di bidang angkutan laut.
Sebagai langkah awal, pada 1 Oktober 2025, TIRT membeli 14 aset kapal dari pihak berelasi, yaitu PT Lima Srikandi Jaya (LSJ), PT Mitra Kemakmuran Line (MKL), dan PT Antar Sarana Rekasa (ASR). Transaksi ini mencakup 20 unit armada kapal tunda (tugboat) dan kapal tongkang (barge). Perusahaan mengambil langkah ini untuk memperkuat fokus di bisnis transportasi laut.
Optimalkan Armada untuk Operasional
Sekretaris Perusahaan TIRT, Jackson Indrawan, menyatakan perusahaan mengoperasikan seluruh 20 unit armada kapal secara penuh. “Kami terus meningkatkan tingkat utilisasi armada. Langkah ini mendukung keberlangsungan operasional dan memastikan pendapatan tetap berkesinambungan,” ujarnya.
Kepemilikan dan Kontrol Perusahaan
PT Harita Jayaraya (HJR)
mengendalikan TIRT. Penerima manfaat akhir berasal dari keluarga Lim, yaitu Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, Lim Gunawan Hariyanto, dan Lim Gunardi Hariyanto. Saat ini, perusahaan fokus mengembangkan sektor transportasi laut sebagai sumber pertumbuhan baru.