Harga Keekonomian Pertalite Tembus Rp18.040 per Liter, Pertamina Ungkap Penyebabnya

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 16 Juni 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_0

Oplus_0

JAKARTA – Perbincangan mengenai harga asli Pertalite kembali mencuat setelah sejumlah konsumen menemukan angka Rp18.040 per liter dalam struk pembelian di SPBU Pertamina. Temuan tersebut memicu pertanyaan publik karena nilainya bahkan lebih tinggi dibanding harga jual Pertamax yang saat ini berlaku di beberapa wilayah.

Masyarakat kemudian ramai membahas apakah angka tersebut merupakan harga sebenarnya yang seharusnya dibayar konsumen jika pemerintah tidak memberikan subsidi. Di tengah berbagai spekulasi yang berkembang, PT Pertamina Patra Niaga akhirnya memberikan penjelasan resmi terkait informasi tersebut.

Menurut perusahaan, angka Rp18.040 per liter yang muncul dalam struk bukan harga jual kepada masyarakat. Angka itu mencerminkan nilai keekonomian Pertalite yang dihitung berdasarkan berbagai komponen biaya energi dan kondisi pasar.

Pertalite Tetap Dijual Sesuai Harga yang Ditetapkan Pemerintah

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menegaskan bahwa Pertamina hanya menjalankan kebijakan pemerintah dalam menyalurkan bahan bakar bersubsidi.

Ia menjelaskan bahwa Pertalite masuk dalam kategori Jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan (JBKP) yang memperoleh dukungan subsidi dari negara.

“Pertamina Patra Niaga bertindak sebagai operator yang menjalankan dan mematuhi kebijakan Pemerintah terkait penyaluran BBM bersubsidi. Harga jual Pertalite yang dibayarkan masyarakat saat ini merupakan harga yang telah ditetapkan pemerintah dengan mempertimbangkan berbagai aspek sosial dan ekonomi,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Selasa (16/6/2026).

Karena itu, masyarakat tetap membeli Pertalite sesuai harga resmi yang berlaku di SPBU, bukan berdasarkan nilai keekonomian yang tercantum dalam struk.

Apa Arti Harga Keekonomian Rp18.040 per Liter?

Roberth menjelaskan bahwa harga keekonomian menggambarkan nilai ekonomi suatu bahan bakar setelah memperhitungkan harga pasar energi dan biaya penyediaan produk hingga sampai ke konsumen.

Baca Juga :  Mahyeldi Imbau Warga Tak Panik soal Isu Kenaikan BBM, Distribusi Masih Aman

Dengan kata lain, angka tersebut menunjukkan biaya yang harus ditanggung apabila pemerintah tidak memberikan subsidi pada produk tersebut.

Meski demikian, konsumen tidak perlu membayar sebesar Rp18.040 per liter karena pemerintah menanggung sebagian biaya melalui skema subsidi energi.

Menurut Pertamina, kebijakan subsidi memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan ekonomi nasional sekaligus melindungi daya beli masyarakat.

“Ia mengatakan, subsidi BBM bertujuan untuk menjaga stabilitas, daya beli masyarakat, dan mendukung aktivitas ekonomi. Kebijakan ini utamanya ditujukan untuk masyarakat ekonomi menengah ke bawah untuk memenuhi kebutuhan dan aktivitas harian.”

Melalui kebijakan tersebut, pemerintah berupaya memastikan akses energi tetap terjangkau bagi kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.

Pertamax Berbeda karena Mengikuti Pergerakan Pasar

Di sisi lain, Pertamina menjelaskan bahwa Pertamax tidak masuk dalam kategori BBM bersubsidi. Oleh sebab itu, harga produk tersebut mengikuti perkembangan pasar energi dan harga minyak dunia.

Meski demikian, Pertamina tetap berkoordinasi dengan pemerintah dalam menentukan waktu dan besaran penyesuaian harga agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.

Perusahaan juga mengingatkan bahwa harga Pertamax saat ini belum sepenuhnya mencerminkan harga keekonomian berdasarkan kondisi pasar internasional.

Bahkan pada periode sebelumnya, Pertamina memilih menahan harga Pertamax agar tidak langsung naik meskipun terdapat tekanan dari kenaikan biaya energi global.

Penyesuaian harga yang berlaku sejak 10 Juni 2026 juga mempertimbangkan sejumlah faktor penting, mulai dari kondisi ekonomi nasional, daya beli masyarakat, keberlanjutan fiskal pemerintah, hingga keberlangsungan bisnis sektor energi.

Tidak hanya Pertamina, sejumlah operator SPBU swasta juga melakukan langkah serupa dengan menyesuaikan harga produk BBM mereka sesuai dinamika pasar.

Mengapa Harga Keekonomian Pertalite Lebih Tinggi dari Pertamax?

Munculnya angka Rp18.040 per liter memunculkan pertanyaan baru karena nilainya berada di atas harga Pertamax yang saat ini dijual sekitar Rp16.250 per liter.

Baca Juga :  Amerika Panen di Tengah Perang Iran, Ekspor Minyak Tembus Rekor Tertinggi

Pertamina menjelaskan bahwa perbandingan tersebut tidak bisa dilakukan secara sederhana. Harga keekonomian Pertalite merupakan hasil perhitungan biaya aktual tanpa subsidi, sedangkan harga jual Pertamax saat ini masih mempertimbangkan berbagai faktor kebijakan nasional.

Perusahaan menegaskan bahwa pemerintah dan Pertamina tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat, stabilitas ekonomi, dan keberlanjutan pasokan energi nasional.

Jika harga Pertamax sepenuhnya mengikuti harga minyak dunia dan mekanisme pasar tanpa pertimbangan lain, nilainya berpotensi lebih tinggi dibandingkan harga yang berlaku saat ini.

Karena itu, perbedaan antara harga keekonomian Pertalite dan harga jual Pertamax tidak menunjukkan adanya kejanggalan, melainkan mencerminkan perbedaan skema penetapan harga pada masing-masing jenis BBM.

FAQ

Apakah harga Pertalite naik menjadi Rp18.040 per liter?

Tidak. Masyarakat tetap membeli Pertalite sesuai harga resmi yang ditetapkan pemerintah. Angka Rp18.040 per liter hanya menunjukkan nilai keekonomian.

Mengapa angka Rp18.040 muncul di struk SPBU?

Sistem mencantumkan nilai keekonomian atau biaya riil penyediaan BBM berdasarkan perhitungan pasar dan biaya distribusi energi.

Apakah Pertalite masih mendapat subsidi?

Ya. Pertalite termasuk Jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan (JBKP) yang memperoleh subsidi pemerintah.

Mengapa harga keekonomian Pertalite lebih mahal dari Pertamax?

Karena harga Pertamax saat ini belum sepenuhnya mengikuti harga keekonomian pasar internasional dan masih mempertimbangkan berbagai faktor ekonomi nasional.

Apakah harga Pertamax masih bisa berubah?

Ya. Sebagai BBM non-subsidi, harga Pertamax dapat menyesuaikan kondisi pasar energi dan harga minyak dunia.(Tim)

Berita Terkait

BI Rate Naik, Bank Neo Commerce Siaga Hadapi Perebutan Dana Nasabah dan Tekanan Cost of Fund
Harga Emas Pegadaian Belum Bergerak Hari Ini 17 Juni 2026, Antam dan UBS Bertahan di Level Ini
Promo Shopee Hari Ini 17 Juni 2026 Bikin Heboh, Diskon Produk Lokal hingga 50 Persen dan Voucher Belanja Melimpah
UEA Siapkan Investasi Baru untuk RI, Dari Ketahanan Pangan hingga Bandara Bali Jadi Fokus Utama
Promo Shopee 16 Juni 2026, Diskon 70% Hingga Gratis Belanja
B50 Siap Meluncur Juli 2026, Hasil Uji Coba Lebih Baik dari B40
Batik Air Mendarat Perdana di Muara Bungo, Rute Jakarta–BUU Dorong Ekonomi Jambi Barat
ASDP Genjot Layanan Penyeberangan Libur Sekolah, Diskon Tiket Hingga 100 Persen Bikin Lonjakan Penumpang Diprediksi Naik
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:00 WIB

BI Rate Naik, Bank Neo Commerce Siaga Hadapi Perebutan Dana Nasabah dan Tekanan Cost of Fund

Rabu, 17 Juni 2026 - 08:00 WIB

Harga Emas Pegadaian Belum Bergerak Hari Ini 17 Juni 2026, Antam dan UBS Bertahan di Level Ini

Rabu, 17 Juni 2026 - 07:00 WIB

Promo Shopee Hari Ini 17 Juni 2026 Bikin Heboh, Diskon Produk Lokal hingga 50 Persen dan Voucher Belanja Melimpah

Selasa, 16 Juni 2026 - 17:00 WIB

Harga Keekonomian Pertalite Tembus Rp18.040 per Liter, Pertamina Ungkap Penyebabnya

Selasa, 16 Juni 2026 - 08:00 WIB

UEA Siapkan Investasi Baru untuk RI, Dari Ketahanan Pangan hingga Bandara Bali Jadi Fokus Utama

Berita Terbaru