JAKARTA – Sejumlah emiten jasa kontraktor tambang menghadapi pelemahan kinerja pada kuartal I-2026 meski harga batu bara bergerak naik. Kondisi ini menunjukkan tekanan operasional masih lebih dominan dibanding dorongan dari sisi harga komoditas.
Pelaku pasar mencermati bahwa sebagian besar perusahaan masih bergantung pada volume pekerjaan dari aktivitas tambang, bukan hanya harga jual batu bara. Ketika produksi melambat, pendapatan ikut tertekan meski harga komoditas membaik.
UNTR Catat Penurunan Tajam Laba Bersih
Emiten besar seperti UNTR (United Tractors Tbk) mencatat penurunan kinerja cukup signifikan. Perusahaan membukukan pendapatan bersih sekitar Rp28,6 triliun, turun 17% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Segmen kontraktor tambang UNTR ikut melemah karena pendapatan turun sekitar 6% menjadi Rp11,9 triliun. Tekanan terbesar muncul pada laba bersih yang anjlok hampir 80% menjadi Rp642,76 miliar. Penurunan ini mencerminkan penurunan volume pekerjaan di lapangan serta penyesuaian aktivitas produksi klien tambang.
DEWA, ABMM, dan MYOH Hadapi Tekanan Berbeda
Kinerja DEWA (Darma Henwa Tbk) juga ikut tertekan. Perusahaan mencatat penurunan pendapatan sekitar 1,9% menjadi Rp1,55 triliun. Namun, laba bersih DEWA justru naik 34,59% menjadi Rp92,72 miliar karena efisiensi biaya dan perbaikan margin operasional.
Sementara itu, ABMM (ABM Investama Tbk) membukukan penurunan pendapatan 10,94% menjadi US$222,66 juta. Laba bersih ABMM ikut turun 32,73% menjadi US$14,43 juta akibat penurunan aktivitas operasional di sejumlah proyek.
Emiten lain seperti MYOH (Samindo Resources Tbk) menunjukkan kinerja relatif stabil namun tetap melemah tipis. Pendapatan hanya turun 0,02% menjadi US$40,96 juta, sementara laba bersih turun 0,79% menjadi US$3,73 juta.
PTRO Tampil Paling Tangguh di Sektor
Berbeda dengan mayoritas emiten lain, PTRO (Petrosea Tbk) mencatat pertumbuhan kuat. Pendapatan PTRO melonjak 84,24% menjadi US$284,13 juta, sementara laba bersih naik 50,54% menjadi US$1,39 juta.
Kinerja ini muncul karena perusahaan mengamankan kontrak baru, memperluas proyek non-batu bara, serta meningkatkan diversifikasi layanan.
RKAB, Cuaca, dan Biaya Jadi Faktor Utama
Analis menilai beberapa faktor utama menekan kinerja emiten kontraktor tambang. Penyesuaian dan keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) membuat sejumlah perusahaan tambang menahan produksi.
Cuaca ekstrem pada awal tahun juga menghambat aktivitas operasional di beberapa wilayah tambang utama seperti Kalimantan. Selain itu, fluktuasi harga batu bara pada akhir 2025 membuat perusahaan tambang menahan belanja operasional.
Kenaikan harga bahan bakar minyak industri juga memperbesar beban operasional kontraktor tambang karena alat berat membutuhkan konsumsi energi tinggi.
Prospek Pemulihan Masih Terbuka
Analis pasar memperkirakan kinerja emiten kontraktor tambang berpotensi pulih pada semester II-2026. Peningkatan produksi tambang dan stabilnya harga batu bara dapat mendorong volume pekerjaan kembali naik.
Namun, pelaku pasar menilai pemulihan pendapatan tidak otomatis meningkatkan margin laba. Kenaikan biaya energi dan tekanan operasional masih dapat menahan ekspansi profitabilitas.
Strategi dan Pilihan Saham
Analis menekankan pentingnya efisiensi operasional, diversifikasi komoditas, dan kontrak jangka panjang untuk menjaga kinerja. Perusahaan dengan armada efisien dan mekanisme cost pass-through dinilai lebih tahan menghadapi tekanan biaya.
Di sisi investasi, sebagian analis tetap menyoroti saham UNTR dan DEWA sebagai pilihan yang menarik, sementara PTRO mendapat perhatian karena pertumbuhan paling agresif di sektor ini.
Kesimpulan
Kinerja emiten kontraktor tambang pada awal 2026 menunjukkan ketidakseimbangan antara harga komoditas yang menguat dan tekanan operasional di lapangan. Kondisi ini menegaskan bahwa volume produksi dan efisiensi biaya tetap menjadi faktor penentu utama kinerja sektor jasa pertambangan.
Penulis : Idp
Editor : Ichwan Diaspora









